26 Titik penelitian Geologi & Potensi bencana di Subkorwil II Minahasa

|| || ,,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar
Ekspedisi NKRI koridor Sulawesi
Oleh : Ali Muqodas
NIA : 09.26.001 MPA

Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika aku telah menginjakkan kaki di pulau Sulawesi. Ceritanya berawal ketika aku mendaftar sebagai peserta Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi yang diselenggarakan KOPASSUS. KOPASSUS?? Pasti yang ada dipikiran kita adalah latihan, militer, muka garang, dan baju loreng. Pasti berat jika mengikuti kegiatan para tentara elite ini. Namun yang terjadi 180⁰ dari yang yang saya pikirkan. Kegiatan yang diselenggarakan KOPASSUS ini merupakan kegiatan penjelajahan, penelitian, dan Komunikasi sosial yang melibatkan 1450 orang yang terdiri dari TNI, POLRI, Mahasiswa, dan LSM. Dari sekitar 1450 orang tadi disebar ke 9 wilayah diseluruh Sulawesi yakni kep. Sangire Talaud, Minahasa, Bone Bolango, Mamuju, Sigi, Luwu Banggai, Kolaka, Tana Toraja, dan Gowa. Kegiatan yang berlangsung selama hampir enam bulan dari februari sampai juli 2013 ini mengupas tuntas potensi-potensi yang ada di wilayah Sulawesi untuk di gali dan dikembangkan untuk mensejahterakan masyarakat Sulawesi. Berikut ini ceritaku selama di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara sebagai tim peneliti Geologi dan Potensi bencana.
Cerita ini berawal ketika Kami berdua didelegasikan oleh organisasi pecinta alam kami MALIMPA untuk mengikuti Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi, Aku dan rekanku Arif WInata (Cacing) yang juga ikut dalam ekspedisi ini berangkat ke Bandung untuk melakukan registrasi ulang karena sebelumnya kami berdua lolos dalam pemberkasan. Di Batu Jajar, Bandung kami melakukan tes wawancara dan tes kesehatan sebelum kemudian di antar ke Situ Lembang, Bandung untuk pembekalan dan pendalaman materi di sana. Masing – masing dari kami ditugaskan di tempat yang berbeda, jika Aku di Tim Geologi & Potensi bencana di Kabupaten Minahasa, lain halnya dengan temenku Arif, temenku lebih memilih masuk Tim Kehutanan alasannya karena dia ingin mempelajari dan meneliti hutan-hutan di Sulawesi, untuk itu dia ditugaskan di Kabupaten Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah karena hutan di daerah ini diyakini banyak yang masih perawan. Setelah pembekalan di Situ Lembang selesai kemudian kami diberangkatkan ke Pulau Sulawesi dengan pesawat Hercules dari Bandar udara Husein kertanegara, Bandung. Karena kegiatan ini meliputi 9 Subkorwil, maka pemberangkatan dibagi dalam 3 kloter. Kloter pertama yang diberangkatkan lebih dulu adalah Subkorwil Gowa, Tana Toraja, dan kolaka. Kemudian di hari berikutnya dari Kloter kedua yakni Sigi, Luwuk Banggai, Mamuju, sedangkan kloter ketiga kep. Sangire Talaud, Minahasa, dan Bone Bolango diberangkatkan dihari ketiganya.
Senin 11 Maret 2013 pesawat Hercules yang kami tumpangi terbang dari Bandung kemudian transit di Bandara Sepinggan, Balikpapan untuk mengisi Bahan bakar baru dilanjutkan ke Manado. Total waktu tempuh dari Bandung ke Manado sekitar 5 Jam. Setibanya di Bandara Sam Ratulangi Manado, Rasa lelah dan Bisingnya baling-baling pesawat sedikit terobati dengan disuguhkannya tarian Kabasaran yang sengaja ditampilkan untuk menyambut kedatangan kami, tarian ini adalah tarian selamat datang dari suku Minahasa bagi tamu-tamu kehormatan, para penarinya pun seluruhnya adalah laki – laki dengan kostum berwarna merah menyala. Nampak garang dengan aksesoris yang terbuat dari tulang-tulang binatang dan bulu unggas. Upacara penyambutan yang pimpin oleh Bupati Kabupaten Minahasa menandakan bahwa kedatangan kami mendapat apresiasi yang baik bagi Masyarakat Minahasa pada umumnya. . Setelah upacara rampung kami langsung menuju Poskotis di Tondano
Indonesia sebagai Negara yang mayoritas penduduknya muslim pasti terheran –heran dengan apa yang saya lihat selama peralanan ke Tondano. Di Minahasa masjid sangat jarang ditemui tidak seperti daerah lain di Indonesia, karena sebagian besar penduduk Minahasa beragama Nasrani dan Katolik, jadi pantas saja jika masjid jarang ditemui disini. Walaupun begitu, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi kami, keberagaman suku dan budaya di Indonesia malah menjadi pemersatu bangsa ini. Karena perbedaan itu akan menjadi indah kalau kita bisa saling mengisi dan berbagi. Dan malam itu kita sampai di lokasi poskotis, cuaca dingin berselimutkan kabut tebal menambah sunyinya malam di Tondano, Kami pun langsung bergegas istirahat.
Seminggu setelah tiba di Minahasa kami menyesuaikan diri dengan lingkungan sembari menyusun rencana kegiatan selama 4 Bulan kedepan. Untunglah diminggu-minggu pertama itu kita mendapat tambahan personil yang terdiri dari Dosen, Mahasiswa, Instansi pemerintahan serta TNI dan POLRI , sehingga harapannya kita bisa saling bertukar ilmu dan melaksanakan kegiatan bersama. Jika ditotal jumlah personil di subkorwil Minahasa sebanyak 150 orang yang terbagi lagi dalam Tim Jelajah, Tim Komunikasi Sosial, dan Tim Peneliti ( Tim Kehutanan, Tim Sosial Budaya, Tim Flora Fauna, Tim Geologi & Potensi Bencana ) kemudian juga pembagian wilayah kerja antara tim satu dengan lainnya tidaklah sama. Untuk Tim Geologi & Potensi Bencana sendiri wilayah kerjanya di 26 lokasi yang akan saya ceritakan nanti ditiap -tiap edisinya.
  1. Manifestasi Geothermal di Remboken,
  2. Pendakian di Gunung Masarang
  3. Batu Obsidian di Tataaran II
  4. Penelitian di sekitar kawah Gunung Mahawu,
  5. Letusan Gunung Lokon,
  6. Abu vulkanik di Wailan,
  7. Air terjun Regesan
  8. Sumber air panas di Pinaras,
  9. Kawah sulfur Danau Linow
  10. Kawah Tua Gunung Tampusu
  11. Penanaman di Hutan Passo
  12. Air asam sungai Ranosem
  13. Kandungan belerang di Kanonang
  14. Mineral emas di Sungai Polandi,
  15. Batu karst di Kapitu
  16. Dinding andesit Kilotiga
  17. Hidrothermal di pantai Moinit
  18. Longsor di jalan trans Sulawesi Lelema
  19. Tambang pasir di Sungai Ranoiapo
  20. Taman makam pahlawan Tondano
  21. Tambang emas Tradisional Tatelu
  22. Air terjun Tunan
  23. Longsoran Dahsyat di Pangu, Minahasa Tenggara
  24. Kelok Tanggari,
  25. Potensi bencana di Eris.
  26. Banjir Rendam Toulour
Bersambung……

GEMARIKAN – Gerakan Memasyarakatkan Ikan

|| || || Leave a komentar

Pendahuluan
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia paling utama, karena itu pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas. bahwa sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar, dan di sisi lain memiliki sumberdaya alam dan sumber Pangan yang beragam, Indonesia dapat memenuhi kebutuhan Pangannya secara berdaulat dan mandiri.
Pasal 50 ayat 3 Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan mengamanatkan bahwa Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah perlu melakukan promosi penggunaan pangan lokal untuk mendukung terwujudnya kedaulatan, kemandirian dan ketahanan pangan nasional. Berkenaan dengan hal itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai instansi teknis Pemerintah Pusat yang menangani pangan berbasis ikan turut berpartisipasi dalam kegiatan promosi peningkatan konsumsi ikan masyarakat.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga telah melakukan kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka mempromosikan penggunaan pangan berbasis komoditas/produk perikanan. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melakukan suatu gerakan yang dinamakan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN).
Gerakan ini bertujuan untuk membangun kesadaran gizi individu maupun kolektif masyarakat agar gemar mengkonsumsi ikan. Dalam implementasinya, GEMARIKAN dilakukan antara lain melalui kegiatan promosi kemitraan bersama organisasi/lembaga yang dinilai memiliki potensi untuk mengakselerasi peningkatan konsumsi ikan. Oleh karena itu melalui situs/website GIKIA, Kementerian Kesehatan RI turut berpartisipasi dalam rangka memperkenalkan ikan. Karena dari sisi kesehatan ikan dikenal sejak dulu sebagai bahan sumber protein yang perlu dikonsumsi oleh masyarakat kita. Dibawah ini akan dijelaskan serba-serbi tentang ikan yang diambil.

PENGERTIAN IKAN DAN JENIS IKAN
Berdasarkan UU No. 45 Tahun 2009, pengertian Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Secara umum perairan tempat kehidupan ikan terdiri dari laut, tawar dan payau.
Pengertian ikan meliputi:
1.    Ikan bersirip (Pisces) antara lain tuna, nila dan bawal;
2.    Udang, rajungan, kepiting dan sebangsanya (Crustacea);
3.    Kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput dan sebangsanya. (Mollusca);
4.    Ubur-ubur dan sebangsanya (Coelenterata);
5.    Teripang, bulu babi dan sebangsanya. (Echinodermata);
6.    Kodok dan sebangsanya (Amphibia);
7.    Buaya, penyu, kura-kura, biawak, ular air dan sebangsanya (Reptilia);
8.    Paus, lumba-lumba, pesut, duyung dan sebangsanya (Mammalia);
9.    Rumput laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya dalam air (Algae);
10.    Biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis – jenis tersebut diatas, termasuk ikan.

 CIRI IKAN SEGAR DAN IKAN TIDAK SEGAR
Ikan yang segar adalah ikan yang baru saja diperoleh dari hasil penangkapan maupun budidaya dan belum mengalami proses pengolahan lebih lanjut. Dalam pengertian lain, ikan segar adalah ikan yang belum mengalami perubahan fisik maupun kimia yang kondisinya masih seperti saat ikan ditangkap (Riza Rahman Hakim, 2009).
Ciri – ciri umum ikan segar dengan ikan yang tidak segar adalah sebagai berikut:
Ikan Segar    Ikan Tidak Segar
1.    Kulit
•    Warna terang dan jernih
•    Masih Kuat mebungkus tubuh, tidak mudah sobek, terutama bagian perut
•    Warna – warna khusus pada ikan masih terlihat jelas
     •    Warna suram, pucat dan banyak mengandung lendir
•    Terlihat mengendur di beberapa tempat dan mudah robek
•    Warna khusus sudah mulai hilang
Ikan Segar    Ikan Tidak Segar
1.    Sisik
•    Menempel kuat pada tubuh sehingga sulit dilepas

     •    Mudah terlepas dari tubuh, bahkan beberapa sudah terlepas

Ikan Segar    Ikan Tidak Segar
1.    Mata
•    Terlihat terang, jernih, menonjol dan cembung
     •    Terlihat suram, tenggelam dan berkerut
Ikan Segar    Ikan Tidak Segar
1.    Insang
•    Berwarna merah segar, terang dan lamella insang terpisah
•    Insang tertutup oleh len¬dir berwarna jernih dan berbau segar spesifik ikan
     •    Berwarna coklat suram atau abu – abu dan lamella insang berdem¬petan
•    Lendir insang keruh dan berbau asam menusuk hidung

Ikan Segar    Ikan Tidak Segar
1.    Daging
•    Tekstur daging kenyal, menandakan rigormortis masih berlangsung
•    Daging dan bagian tubuh lainnya berbau segar spesifik ikan
•    Bila ditekan dengan jari, tidak tampak bekas lekukan
•    Melekat kuat pada tulang
•    Daging perut khusus¬nya, utuh dan kenyal
•    Warna daging putih atau spesifik jenis ikan.  
 •    Tekstur lunak, menan¬dakan rigormortis sudah selesai
•    Daging dan bagian tu¬buh lainnya sudah mulai berbau busuk
•    Bila ditekan dengan jari, tampak bekas lekukan
•    Daging mudah terlepas dari tulang
•    Daging perut khususnya, lembek dan isi perut mudah/sering keluar
•    Warna daging kuning kemerahan terutama di sekitar tulang atau sudah tidak spesifik jenis ikan

Ikan Segar    Ikan Tidak Segar
1.    Keberadaan di dalam Air
•    Tenggelam     •    Mengapung atau melayang dalam air

Ciri-ciri Udang Segar :
1.    Udang segar berwarna jernih dan tidak terdapat bintik-bintik hitam;
2.    Tekstur daging kenyal dan tidak lembek;
3.    Cangkang keras dan mengkilap serta tidak berlumut;
4.    Kaki dan kulit serta kepalanya masih utuh dan tidak mudah lepas;
5.    Bau udang segar khas atau tidak berbau busuk;
6.    Udang tidak lengket satu sama lainnya
Ciri Kerang Segar :
1.    Warna daging kerang belum berubah dari aslinya;
2.    Cangkang banyak yang terbuka, ini menunjukkan kerang tersebut masih hidup;
3.    Beraroma khas bukan beraroma busuk;
4.    Khusus kerang yang telah dikupas dari cangkangnya, daging dalam kondisi utuh dan padat
Ciri-ciri Cumi Segar
1.    Badannya kenyal dan kokoh saat ditekan;
2.    Kepala cumi masih menempel erat pada tubuh (tidak menjulur keluar);
3.    Badan dilapisi selaput lendir jernih;
4.    Mengeluarkan bau khas dan bukan bau busuk;
5.    Warna daging cumi yang ukurannya kecil keunguan dan memiliki bintik – bintik hitam;
6.    Warna daging cumi yag ukurannya besar putih dan memiliki sedikit bintik hitam.              Ciri-ciri Kepiting/Rajungan Segar
1.    Kepiting umumnya dijual dalam keadaan hidup karena itu biasanya diikat;
2.    Rajungan dijual dalam keadaan sudah mati;
3.    Jari kepiting/rajungan masih lengkap termasuk capitnya;
4.    Tekan dengan jari pada bagian belakang bila terasa keras berarti kepiting/rajungan itu gemuk dan  sehat.
5.    Baunya khas dan tidak bau busuk


      GIZI IKAN DAN MANFAATNYA BAGI TUBUH
Gizi adalah elemen yang terdapat dalam makanan dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh diantaranya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Gizi yang seimbang dibutuhkan oleh tubuh, terutama pada anak – anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Dimasa tumbuh kembang anak yang berlangsung secara cepat, khususnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau periode emas anak dibutuhkan makanan dengan kualitas dan kuantitas yang tepat dan seimbang. Ikan sebagai sumber pangan yang kaya akan gizi memiliki elemen – elemen yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia sejak 1000 HPK hingga tua.
Ada pun kandungan gizi ikan secara umum diantaranya:
Omega – 3
Kandungan docosahexanoic acid (DHA) dan eicosapentaenoic acid (EPA) sangat baik untuk perkembangan sel – sel otak yang berguna bagi kecerdasan dan mata untuk mempertajam penglihatan.
Protein
Zat pembangun, setara dengan daging, lebih mudah dicerna, mendekati asam amino dalam tubuh manusia mengandung asam amino paling lengkap terutama lysine dan threonine.
Vitamin
Vit.A: antioksidan, mata sehat; Vit.D: metabolisme kalsium, pertumbuhan tulang; Vit.B6: metabolisme asam amino dan lemak, mencegah anemia & kerusakan syaraf; Vit.B12: pembentukan sel darah merah, metabolisme lemak, melindungi jantung.
Mineral
Zat besi: pembentukan sel darah merah; Yodium: kesehatan thyroid, cegah gondok; Selenium: antioksidan; Seng: membantu kerja enzim dan hormon; Fluor: kesehatan gigi
Bio-Active
Komposisi nutrisi yang sangat baik untuk menguatkan vitalitas tubuh.
Asam Lemak Tak Jenuh
Mengandung High Density Lipoprotein (HDL)/kolesterol yang baik yang dapat mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah/athero schlerosis
Selain hal di atas, berdasarkan literatur dari berbagai sumber telah diketahui manfaat ikan yang lain adalah:
1.    Makan ikan dapat memperkuat tulang dan kuku;
2.    Mengurangi resiko kelahiran prematur pada bayi;
3.    Mengurangi resiko asma pada anak;
4.    Mengurangi resiko kanker ginjal;
5.    Mengurangi diabetes pada anak;
6.    Mengurangi resiko penyakit kronis;
7.    Mengurangi kesehatan mental pada anak;
8.    Minyak ikan mencegah penyakit kanker kulit, dll.

Berdasarkan data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan, tingkat konsumsi ikan nasional dalam kurun 2007 – 2012 mengalami trend kenaikan setiap tahun. Pada tahun 2009 tingkat konsumsi ikan rata-rata adalah 29,08 Kg/Kap/Th sedangkan pada tahun 2012 sudah mencapai 33,89 Kg/Kap/Tahun. Semoga dengan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) dengan strategi kemitraan dapat meningkatkan konsumsi ikan nasional pada tahun-tahun mendatang.

(Direktorat Bina Gizi )  By : http://www.gizikia.depkes.go.id

Pendakian Gunung Djobolarangan via Pondok

|| || ,,,,,,,,,,, || Leave a komentar

Masa bimbingan Gunung Hutan Anggota Muda XXXI MALIMPA

Gunung Djobolarangan merupakan gunung tertinggi dijajaran  Pegunungan Sewu, jika anda mendaki Gunung Lawu maka akan terlihat puncak dari gunung ini. Pendakian kali ini dalam rangka menjalani prosesi masa bimbingan Anggota Muda angkatan XXXI sebelum dilantik menjadi Anggota Biasa MALIMPA,  untuk itu kami berniat melakukan pendakian ini pada tanggal 30 Januari – 3 Februari 2014 bertepatan dengan liburan semester. Pendakian ini bertujuan untuk mengasah skil para Anggota Muda MALIMPA dibidang ilmu Gunung hutan, sehingga diharapkan untuk kedepannya kami memiliki bekal yang cukup untuk melakukan pendakian-pendakian berikutnya.
Kami berangkat dari Solo sehari sebelum pendakian hari pertama kami mulai, dengan beranggotakan 12 Anggota Muda dan 3 Pendamping dari Anggota Biasa membuat kami yakin pendakian kali ini akan mengawali cerita kami di MALIMPA. Cerita dimulai dihari pertama pendakian, Jumat (31/01/2014) seperti biasanya kegiatan dimulai dari bangun pagi dilanjutkan sholat, masak, orientasi medan, dll.  Setelah semua selesai perjalanan ke puncak Djobolarangan kami mulai pada pukul 10.00 WIB. Disepanjang perjalanan tanjakan demi tanjakan kami lalui seperti tidak pernah ada habisnya, terlebih jalur yang kami lewati banyak yang  tertutup ranting dan semak-semak sehingga kami harus kerja ekstra untuk membabat ranting dan semak-semak yang menghalangi perjalanan kami, rasa capek dan putus asa sering menghampiri kami untuk menghentikan perjalanan ini, namun tekad kami sudah terlalu kuat untuk menginjakkan kaki dan menancapkan Bendera MALIMPA dipuncak tertinggi dikawasan pegunungan sewu tersebut.
Setelah berjalan seharian kami pun berencana beristirahat untuk mendirikan tenda, namun karena medan yang terjal dengan kemiringan lebih dari 30° sangat menyulitkan kami untuk mencari tempat beristirahat, padahal hari sudah menjelang malam. Setelah kami paksakan untuk sedikit melangkahkan kaki ke atas akhirnya kami menemukan tempat yang cukup lapang untuk mendirikan tenda, setelah makan dan mengevaluasi kegiatan kami tadi, kami langsung beranjak menuju tenda untuk beristirahat.
            Malam pun telah berganti pagi, Sabtu (01/02/2014) pagi yang cerah mengawali kegiatan kami, setelah melakukan aktivitas pagi seperti biasa kamipun langsung mencari titik kontrol dimana kami menginap, karena ketika sampai di sini kemarin kami belum mengetahui posisi camp kami dipeta. Setelah berulang kali melakukan orientasi medan dan resection  baru diketahui posisi kami sebenarnya di peta, namun betapa  tercengangnya kami setelah mengetahui posisi kami berada sekarang, ternyata kami sudah berjalan sangat jauh dan keluar dari  plotingan. tanpa menunggu lama perjalanan pun kami lanjutkan untuk kembali ke jalur plotingan semula dan melanjutkan perjalanana menuju puncak Djobolarangan.  Medan yang kami lalui kali ini tidak jauh berbeda dengan medan yang kami lalui kemarin, semak, ranting, bahkan pohon tumbang cukup menghalangi perjalanan kami, dengan segala cara mulai dari berjalan, merangkak, memanjat, dan terus mencari pegangan untuk naik ke atas kami lakukan untuk mencapai puncak yang kami tuju. Akhirnya  pukul 16.45 WIB kami sampai di puncak Djabolaragan dan beristirahat sejenak. Setelah menikmati keindahan puncak djobolarangan dan foto-foto kami harus segera melanjutkan perjalanan untuk menuju Wella. Karena rencananya kami akan mendirikan tenda di sana.
           
Hari ini adalah hari ke 4 selama kami di Gunung dan semuanya mulai terlihat lebih bersemangat dibandingkankan hari - hari sebelumnya, karena perjalanan selanjutnya akan melewati jalur DIKLATSAR kami dulu. Perjalanan dari Wella menuju Puncak Rengginang dibutuhkan waktu 2 jam untuk sampai ke sana. Setelah sampai puncak Rengginang kami beristirahat sejenak dan memasak mie rebus untuk mengganjal perut kami yang sejak dari tadi meronta. Setelah mie rebus dibagikan secara bergiliran tiba saatnya pada giliran Farich, tapi tanpa sengaja wadah tempat mie tumpah dan jatuh ke tanah, secara spontan kami langsung berebut memakan mie yang jatuh tersebut, mungkin masih terbawa saat pendidikan dulu bahwa kita tidak boleh menyisakan makanan, kami pun tertawa terbahak-bahak setelah sadar kami telah  menghabiskan mie yang jatuh tadi. Selesai makan kami mulai melanjutkan perjalanan menuju ke camp terakhir di Tlogo Dlingo.
            Senin (03/02/2014) hari ini rasanya semuanya dilakukan lebih cepat dari hari biasanya seperti bangun lebih awal, lalu sholat subuh dan langsung mulai masak dan packing. Mungkin karena sudah terbiasa sehingga apa yang kami kerjakan seakan menjadi lebih mudah. Setelah selesai makan lanjut menuju desa Tlogo Dlingo untuk pulang ke kampus.
Narasi : Siti Fatimah

Menjamah Rimbanya Pegunungan Yang, Kab. Situbondo

|| || ,,,,,,,,,,, || Leave a komentar

Eksplorasi Flora fauna di Pegunungan Yang


Sejak pendakian yang terakhir pada tahun 2010 yang lalu, baru-baru ini MALIMPA kembali mengagendakan pendakian ke Gunung Argopuro dan puncak Dewi Rengganis, pada tahun 2010 lalu pendakian melalui jalur Baderan dan turun Bremi, lain halnya dengan pendakian kali ini yang menggunakan jalur bremi sebagai start awalnya dan turun di Baderan, Kab. Situbondo. “ pendakian ini kami lakukan tidak hanya sekedar naik gunung saja, tapi fokus utama kegiatan ini adalah eksplorasi Flora dan Fauna di jalur pendakian”. Kata Ketua Tim pendakian Frendy Wijaya. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 10-16 Februari 2014 mendapat respon yang cukup baik dari pengurus MALIMPA, Ketua Umum MALIMPA periode 2014  Akip Saputra. mengungkapkan “ sudah sepatutnya kita sebagai pecinta alam melestarikan keaneka ragaman flora dan fauna yang ada di alam agar tidak semakin rusak, harapannya dengan kegiatan semacam ini kecintaan kita terhadap lingkungan dapat menyadarkan kita akan pentingnaya menjaga dan melestarikan lingkungan ”
Kegiatan ini melibatkan 5 anggota MALIMPA yang sebelumnya telah melalui proses fisik dan materi tentang Flora Fauna, setelah mendapat ijin dari pengurus MALIMPA akhirnya Tim siap untuk   diberangkatkan. Dalam ekslorasi hari pertama kami melewati hutan homogen yang didominasi pohon damar, selanjutnya  hutan basah disekitaran danau taman hidup. Danau taman hidup merupakan telaga alami yang terbentuk karena depresi pegunungan disekitarnya yang membentuk cekungan sehingga hujan yang turun akan tertampung di telaga ini. Keberadaan danau taman hidup menjadi tumpuan bagi keberlangsungan ekosistem di kawasan ini. Perjalanan dilanjutkan menuju ke Cisentor, untuk sampai di Cisentor kita akan melewati hutan pinus yang merupakan habitat monyet hitam ekor panjang atau lutung dan babi hutan, disamping itu para pendaki harus sedikit berhati-hati jika melewati daerah ini, karena disepanjang jalur pendakian terdapat tanaman “Jancukan” yang biasa penduduk sekitar menyebutnya. Tanaman Jancukan ini jika terkena kulit maka kulit akan terasa panas dan gatal seperti tersengat lebah. 
Setelah sampai di Cisentor, yaitu pertigaan antara ke Bremi, Puncak, dan Baderan, Tim kami pun mendirikan camp disini agar lebih dekat dengan puncak Argopuro dan Dewi Rengganis. Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan ke Puncak Argopuro dan Dewi Rengganis. Setelah puas Foto-foto kamipun langsung turun menuju Sikasur untuk kemudian ke Baderan. Di sepanjang perjalan antara puncak ke Sikasur, medan yang dilewati didominasi padang sabana yang luas, di daerah ini juga banyak ditemukan burung merak, karena padang sabana merupakan habitat yang baik untuk burung merak. Kami hanya mengambil gambar dan mengambil beberapa bulu merak yang rontok untuk dijadikan sampel, karena burung merak dilindungi oleh Negara maka burung ini tidak boleh di buru atau diperdagangkan. Konon Sikasur dulunya merupakan bekas bandara militer jepang ketika menjajah Indonesia, saat ini pun masih dapat kita lihat bekas Run way bandara berselimutkan padang rumput dan beberapa bekas bangunan yang telah rusak. Vegetasi di sini merupakan padang sabana yang luas dan terdapat mata air yang ditumbuhi selada air. Setelah menginap semalam di Sikasur perjalanan kami lanjutkan menuju Baderan, vegetasi selanjutnya merupakan hutan hujan yang dihuni burung - burung kecil dan monyet. Disepanjang perjalanan  jalur yang kami lalui terlihat bekas tapak ban motor berukuran 2-3 cm sehingga sedikit menyulitkan perjalanan kami. Menurut masyarakat setempat biasanya para penduduk mengambil selada air di Sikasur menggunakan sepeda motor untuk kemudian dijual di pasar. Perlu keberanian dan ketrampilan yang lebih dalam mengendarai motor di jalur ini karena medan yang dilalui lumayan terjal dan berjurang.
Akhirnya perjalanan telah sampai di ladang penduduk, cukup mengherankan memang karena daerah yang semula berupa hutan hujan dan bergunung-gunung disulap menjadi ladang oleh penduduk sekitar. Ironisnya praktek semacam ini masih berlangsung hingga saat ini, sebelum melewati ladang tadi memang terdengar suara gergaji mesin yang bersaut-sautan di tengah hutan, sehingga saya yakin, cepat atau lambat daerah bekas penebangan pohon tadi akan berubah menjadi ladang. Sebagai masyarakat yang perduli terhadap kelestarian lingkungan sudah seharusnya praktek semacam ini harus dihentikan karena akan merusak habitat makhluk hidup yang ada di Pegunungan Yang ini. 
Transportasi
Perjalanan ke Gunung Argopuro via Bremi kami menggunakan transportasi umum, dimulai dari Solo ke Surabaya armada yang kami gunakan adalah Bus umum, kurang lebih waktu tempuh 5 ½ jam, dilanjutkan dengan Bus jurusan Banyuwangi, dari terminal Bungurasih di Surabaya turun di terminal lama Probolinggo atau langsung ke Pajarakan sekitar 2 jam. Jika turun di terminal lama akan dilayani Bus ke arah Bremi yang hanya ada pada jam 06.00 pagi dan 12.00 siang, namun apabila diluar jam tersebut saya sarankan untuk naik bus dari Surabaya turun di Pajarakan karena terdapat angkutan umum yang juga melayani sampai ke Bremi.   
Lama pendakian
Setelah turun di Bremi segera lapor ke Polsek Krucil yang ada di desa Bremi, letaknya tidak jauh dari gerbang masuk kawasan pegunungan Yang, setelah melapor kita bisa langsung melakukan pendakian. Perjalanan dimulai dari Bremi ke Taman Hidup, jalur ini melewati perkebunan warga, hutan produksi, baru kemudian hutan basah. Disamping tracknya lumayan terjal juga banyak pohon tumbang yang menghalangi jalan, sehingga sedikit menyulitkan bagi para pendaki yang melintas. waktu tempuh dari Bremi ke Taman Hidup kurang lebih 4 jam. Setelah sampai di Taman Hidup Saya sarankan untuk mendirikan camp di sini karena perjalanan dari Taman Hidup ke Aeng Kenek  lumayan panjang yakni sekitar 6 ½ jam, perjalanan dari Aeng Kenek ke Cisentor kurang lebih 3 ½ jam melewati hutan pinus dan semak – semak, disekitar Aeng Kenek terdapat aliran sungai yang jernih airnya, tapi harap berhati – hati jika kulit menyentuh tanaman “Jancukan” karena di Aeng Kenek paling banyak ditemukan tanaman ini. Selanjutnya perjalanan antara Cisentor dan Puncak anda akan melewati Rawa Embik, di Rawa Embik ini menjadi alternative bagi para pendaki untuk mendirikan tenda, karena di sini terdapat aliran sungai yang mengalir ke Cisentor, untuk mencapai puncak Gunung Argopuro dan Puncak Dewi Rengganis pun jauh lebih dekat jika dibanding mendirikan camp di Cisentor. Jika akan turun lewat Baderan, Cisentor merupakan pertigaan antara Bremi, Puncak, dan Baderan. Sehingga setelah di Cisentor anda harus menyeberang sungai kemudian mendaki sedikit menanjak baru kemudian sampai di padang sabana menuju ke camp berikutnya di Sikasur.  Perjalanan dari Cisentor ke Sikasur hanya 2 jam perjalanan dengan medan landai. Di Sikasur cocok  untuk mendirikan camp karena dekat dengan mata air. Baru setelah dari Sikasur ke Baderan membutuhkan waktu sekitar 7 jam.
Narasi : Ali Muqodas



|| || || Leave a komentar


Mengawali tahun yang baru dengan Rafting
Keple AM 31.017   
Saat mau menyambut tahun baru MALIMPA belum memiliki satu acara yang benar-benar ingin dilakukan. H -2 sebelum tahun baru semua anggota MALIMPA mulai menusulkan berbagai kegiatan untuk mengisi libur tahun baru, ada yang mengusulkan untuk naik gunung, susur pantai, mancing, camping, rafting dan masih banyak lagi. Tetapi setelah masuk H-1 tahun baru akhirnya diputuskan kegiatan yang akan dilakukan adalah Rafting di Sungai Elo. Target minimal orang yang ikut harusnya 25 tetapi saat mau berangkat hanya 10 orang yang berangkat dari sekret dan 1 orang Anggota Luar biasa beserta 1 temannya yang bertemu dijalan dan 2 orang Anggota Luar Biasa lagi yang langsung datang ke TKP.
Awal cerita pada hari Selasa,31 Desember 2013 pukul 21.00 WIB berangkat dari sekret MALIMPA menuju ke Magelang. Sampai di Magelang sudah memasuki hari Rabu, 1 Januari 2014 pukul 01.15 WIB dan langsung istirahat hingga pagi.
Pagi harinya di awal januari 2014 kami bangun dengan penuh semangat karena di hari ini adalah pertama kalinya aku dan teman-teman Anggota Muda akan melakukan kegiatan Rafting (Arung Jeram). Kita memulainya dengan TC dan jogging sekedar untuk pemanasan agar tidak terjadi keram atau kesleo. Setelah TC lalu kita menaiki angkot yang membawa perahu dan peralatan untuk Rafting menuju Sungai Elo yang disitulah kita akan mulai beraksi mengalahkan ketakutan pada jeram Sungai Elo.
Sampai di tepi Sungai Elo perahu dan semua peralatan yang lainnya diturunkan dari angkot, perahu mulai di pompa dan pelampung beserta helmpun mulai dikenakan Setelah perahu siap dan semua yang akan ikut Rafting sudah mengenakan perlengkapan, mulailah perahu diangkat menuju ke Sungai Elo.
Sebelum melakukan pengarungan kami Anggota Muda melakukan renang jeram dari Start sampai tikungan sebelum jembatan pertama. Kami diajari bagaimana caranya renang jeram. Saat diberi contoh oleh mbak Barong bagaimana caranya renang jeram sungguh dalam hati ada rasa takut yang mendalam tetapi saat mulai mencoba mempraktekan sumpah keren, baru sekali ini kami melakukan renang jeram dan rasanya ingin mengulangnya lagi walaupun pantat yang menjadi korban batu-batu di sungai.
Setelah semua Anggota Muda selesai latihan renang jeram barulah kami mulai persiapan untuk pengarungan. Dan kloter Rafting pertama dari Anggota Muda adalah Keple(Siti), Weksor(Febri) dan Sota(Aso) lalu dari Anggota Biasa ada mbak Barong(Mariska), mas Cacing(Arif) dan mas Keceng(Dian) serta tabahan dua orang teman kami yaitu Diyan dan Tiya. Dari start kami mulai mendayung dengan penuh semangat. Tetapi saat disitu aku dan teman-teman Anggota Mudaku belum terlalu mengerti bagaimana cara mengunakan dayung dengan benar jadi disitulah kami belajar dengan kakak-kakak kami yang cukup berpengalaman.
Setelah kami mulai mengerti cara mengunakan dayung yang benar ternyata di depan kami ada jeram yang menanti. Berasa senang sekali diawal itu walaupun arus jeramnya tidak terlalu besar, mungkin itu karena ini pertama kalinya bagi aku dan teman-teman Anggota Muda, tetapi kalau kata kakak-kakak Anggota Biasa arus jeram pertama adalah pemicu semangat awal untuk memulai aksi dalam Rafting.
Satu per satu jeram kami hajar dan ada juga saat kami harus mendayung perahu untuk melawan arus jeram, seluruh tenaga kami kerahkan sepenuhnya dan saat jeram terlewati rasa puaspun mulai merasuki diri dan kami mulai meneriakkan rasa puas itu  AAaa…..!!!! sembari tawa dan senyum terlontar dari kami.
Rasa puas itu belum selesai, masih ada satu tantangan lagi yaitu saat akan sampai di finish. Setelah kami lewati arus jeram yang ada di finish kami mulai mencoba mendayung melawan arus untuk membawa perahu ke tepian sungai Elo. Kami mendayung dengan irama, kami mendayung dengan teriakan semangat untuk lewati arusnya.
Sampai ditepian perahu mulai kami angkat dan kami bawa ke parkiran angkot yang akan membawa kami beserta perahu dan perlengkapannya kembali ke basecamp. Di parkiran kami bertemu dengan mas Cempreng (Hendra) Anggota Luar Biasa angkatan 18, mas Faisal Anggota Luar Biasa angkatan 17, mbak Acik Anggota Luar Biasa angkatan 26 dan mbak Ken dari MAPALA UMY. Aku dan teman-temanku langsung dengan semangatnya menceritakan kepuasan yang kami dapat saat melakukan pengarungan. Dan mereka mulai memberikan selamat dan menceritakan sedikit pengalamannya.
Kloter pertama pengarungan selesai. Kami mulai kembali ke basecamp untuk istirahat dan bersih-bersih. Untuk kloter pengarungan kedua mulai mempersiapkan diri dan setelah semuanya siap langung menuju ke Sungai Elo. Kloter pengarungan ke dua ada dari Anggota Muda Keple(Siti) dan Kokop(Basir), Anggota Biasa ada mbak Barong(Mariska) dan mas Keceng(Dian), lalu ada lagi dari Anggota Luar Biasa mas Faisal, mas Cempreng(Hendra), dan mbak Acik berserta temannya mbak Ken dari MAPALA UMY.
Kali ini tidak ada renang jeram dulu diawal tapi kita langsung mulai dari start dengan menaiki dan mendayung perahu. Dan terasa lebih beda lagi karena aku dan kokop berada satu perahu dengan Anggota Luar Biasa yang punya pengalaman lebih banyak. Dari awal kami mendayung dengan irama yang sama dengan ayunan dayung yang sama dan teriakan-teriakan yang sama pula.
Jeram pertama kami adalah jeram start pertama yang di gunakan untuk latihan renang jeram oleh Anggota Muda pada kloter pertama pengarungan. Dan dari situlah kami mulai mendayung bersamaan. Kekompakan yang terjadi disitu mulai terasa. Teriakan-teriakan “ayo dayung”,”maju”,”goyangkan” dan “semangat” mulai terdengar. Dan pada saat kami menemui arus datar yang cukup panjang dan juga kami menemui  jembatan dari bambu  diatasnya kamipun menepikan perahu dan berunding ada yang berani melompat dari atas jembatan atau tidak.
Lompatan pertama dilakukan oleh kokop. Dan aku, mas faisal, mas Cempreng, mbak Acik mulai berlari dan menyusul ke atas jembatan. Sesampainya kami diatas jembatan rasa takutpun langsung merasuki diri kami. Kisah-kisah dalam sinetron pengrbanan cinta pun mulai kami perankan, sungguh konyol saat datas jematan itu. Dan mas faisal yang pertama melompat, aku menyusul dibelakangnya dengan meneriakan MALIMPAaaaaaaaa, huhhhh dalam hati serasa mati sejenak serasa nyawa tertinggal di atas jembatan tapi saat pantat yang mendapatkan salam pertama dari air sungai serasa nyawaku  dihentakan kembali ketubuhku.   Kemudian kami lanjutkan kembali pengarungan dan setelah melewati berepa jeram dan terhenti karena tersangkut pada batu ditengah sungai kami sampai kefinis dan kembali ke daratan setelah itu kami naikkan perahu keatas mobil dan kembali kebasecamp dan mulai bersih-bersih diri dan siap kembali kekampus. Dengan badan yang lelah namun penuh cerita dan pengalaman kami lanjutkan perjalanan menuju kampus.