Tampilkan postingan dengan label aktivitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aktivitas. Tampilkan semua postingan

GOA PERTAMAKU

|| || ,,,,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar

GOA PERTAMAKU
Goa, suatu kata yang tak asing buat semua orang, tetapi apa yang ada di dalamnya hanya beberapa orang saja yang tahu dan bisa menikmatinya sepertihalnya diriku yang begitu awam tentang hal itu. Pengalamanku masuk goa pertama begitu kikuk dan sedikit ada kecemasan, ketakutan. Goa pertama yang kususuri adalah Luweng Jomblang di Semanu Gunung Kidul. Saat menuruni (Descending) rasanya agak deg-degan, gimanaa gitu.... Walaupun sebelum turun ke goa saya beserta temen-temen angkatan 29 sering latihan, tapi tetep rasa di wall dengan di dindinggoa sangat berbeda “itu menurutku”.
Di Goa Jomblang yang kami temui sebuah hutan yang terdapat di dasar sumuran sedalam ±70 m dengan lebar lebih dari 50 m menurut data dan cerita yang kita dapat, terdapatnya hutan di dasar sumuran tersebut dikarenakan colepsnya. Atap goa (runtuh) karena kikisan air atau memang batunya mulai terkikis dan rapuh oleh sebab itu hutan beserta tanah yang terdapat diatas goa terperosok ke dalam sehingga didalam ada beberapa tumbuhan yang sudah punah.
Di Goa Jomblang ternyata ada dua lorong yang satu tembus ke goa grubuk dan yang satunya nggak tahu kemana..... Kami menyusuri dan memetakan lorong sehingga tembus ke goa grubuk dan di goa grubuk kami temui ornamen goa yang cukup besar yaitu sebuah guardam dengan warna yang cukup bersih apalagi saat disoroti cahaya matahari yang masuk dari entrancenya yang orang-orang bilang cahaya surga. Guardam tersebut seperti menyatu dengan percikan air perkolasi yang menetes terus dari atas dan masih membentuk ornamen tersebut, disitulah aku sadar bahwa didalam goa memang indah dan diluar ada bak surga didalam perut bumi, hal itu membuatku ingin menyusuri goa lagi. Hari mulai gelap kami kami harus kembali kepermukaan saat menunggu teman-teman naik terdapat sensasi yang begitu unik apalagi saat menanggung dan menjadi orang terakhir didalam goa rasanya hmmmmpppp...... “MANTAP”. Kegiatan pun usai kami kembali ke desa terdekat dan berpamitan dengan kepala desa dan kembali kekampus dengan pengalaman baru dan keinginan baru.
AKIP “Mr.G”
NIA 12.29.002 MPA

Meru Betiri Sevice Camp XV (MBSC) 2014

|| || ,,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar
DIKTAT
“Save It, Study It and Use It”

Meru Betiri Sevice Camp XV (MBSC)


        MBSC (Meru Betiri Service Camp) merupakan salah satu bentuk pendidikan dan pelatihan kader konservasi dalam memasyarakatkan kesadaran akan pentingnya konservasi sumber daya alam di masyarakat. Kader konservasi merupakan mitra pembangunan yang diharapkan mampu berperan serta dalam upaya mewujudkan masyarakat yang mencintai alam dan lingkungannya.
           Kegiatan MBSC XV ini juga merupakan salah satu program kerja Taman Nasional Meru Betiri yang bekerjasama dengan WIPAB (Wadah Informasi Pecinta Alam Se Eks-karasidenan Besuki) yang di selenggarakan di pantai Sukamade, Banyuwangi, Jawa Timur. Kegiatan berlangsung dari tanggal 18 November s/d 22 November 2013 dengan peserta dari MAPALA dan OPA se-Indonesia. MBSC XV dan kegiatan sejenisnya memiliki arti serta peran yang sangat penting. Karena dalam kegiatan tersebut para peserta diberi pembekalan dengan berbagai pengetahuan dasar mengenai pelestarian hutan dan lingkungan serta diberi kesempatan untuk bersentuhan langsung dengan praktek-praktek pengelolaan kawasaan konservasi seperti contoh berikut :
1. Kehutanan Umun 6. Advokasi Lingkungan
2. Interpretasi 7. Pengamatan Burung
3. Analisa Vegetasi 8. Pengamatan Penyu
4. Jurnalistik Lingkungan 9. Tanaman Obat
5. Ekowisata 10. Raflesia dll.


            Pada kesempatan pengamatan penyu peserta di suguhi aksi menarik serta langka dari kedatangan seekor penyu hijau (Chelonia mydas) berukuran sekitar ± 40 cm yang berlabuh untuk bertelur di pantai sukamade pada malam hari. Ketika penyu hijau (Chelonia mydas) masih muda mereka makan berbagai jenis biota laut seperti cacing laut, udang remis, rumput laut juga alga. Ketika tubuhnya mencapai ukuran sekitar 20-30 cm, mereka berubah menjadi herbivora dan makanan utamanya adalah rumput laut. Penyu hijau (Chelonia mydas) di pantai sukamade merupakan salah satu penyu yang paling produktif dan intensitas kedatangan yang relatif tinggi diantara 7 jenis penyu laut yang ada di seluruh dunia , seperti : penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), penyu belimbing (Dermochelys coriaceae), penyu pipih (Natator depressus), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu kempi (Lepidochelys kempi). Penyu pantai sukamade TN.Meru Betiri mengundang ketertarikan wisatawan yang sangat luar biasa, tidak hanya wisatawan domestik melainkan wisatawan dari manca negara yang berbondong-bondong mengunjungi TNMB (Taman Nasional Meru Betiri) untuk melakukan penelitian maupun riset atau hanya sekedar berekreasi.
         

         Di dalam kawasan konservasi TN.Meru Betiri juga terdapat spesies raflesia endemik yang dapat di jumpai yaitu Rafflesia zollingeriana kds (patmo sari). Rafflesia zollingeriana dapat tumbuh pada akar dan batang inang Tetrastigma lanceolarium dan Tetrastigma papillosumPada umumnya Rafflesia zollingeriana hidup mulai dari kaki bukit sampai lereng-lereng bukit sebelah atas. Kemiringan tempat tumbuh 85 %, ketinggian mulai dari 1 – 270 m dpl dan jarak garis pantai berkisar 9 – 1000 m. Guna mengantisipasi kerusakan yang biasa di lakukan oleh hewan liar seperti babi hutan dan landak, maka para petugas TN.Meru Betiri membuat kurungan kecil dari besi untuk menutupi Rafflesia zollingeriana agar terhindar dari pemangsanya.
       Selain itu, Pak Chuk S. Widarsa wartawan dari detik.com juga turut andil dalam mengisi materi Jurnalistik Lingkungan pada MBSC XV kali ini. Jurnalistik adalah Suatu kegiatan mengelola berita yang dimulai dari mengumpulkan fakta dan data atau meliput suatu peristiwa, menyusun, menerbitkan, dan menyebarkan. Dari sini pak Chuk mengajarkan kepada peserta untuk selalu mengoptimalkan media dalam semua kegiatan dan ditindak lanjuti melalui pers realese. Seperti yang pernah dilakukan oleh TN.Meru Betiri dalam kegiatan Ekspedisi Harimau Jawa yang ada di kawasan konservasi TN.Meru Betiri, dengan data yang menarik serta konsepan penyusunan dan penyebaran yang baik. Sempat menyabet urutan 5 besar terbaik persembahan TN.Meru Betiri dalam Eagles Word di Metro TV.
  

        Dari semua itu, pada kesempatan Meru Betiri Service Camp XV (MBSC) kali ini peserta dapat mempelajari ilmu konservasi yang sangat penting bagi seorang pecinta alam. Sarana awal untuk membangun penyadartahuan konservasi dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang secara bijak. Sehingga dengan harapan besar kelak akan lahir kebulatan tekad untuk berbuat yang lebih baik bagi keselamatan alam serta kehidupan yang ada di dalamnya untuk kelestarian dan sebagai warisan kepada anak cucu kita dimasa yang akan datang.
Frendy Widjaya
NIA 13.30.003 MPA








GILI, GILE, GILANI

|| || ,,,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar
Perjalanan kami mulai dari terminal Tirtonadi (Surakarta) menunggu bus dari jam 19.00 wib sampai 22.00 Wib akhirnya kami pun naik bus jurusan Surabaya. hari Rabu, 14 Agustus 2013 5 jam sebelum itu saya Arif ‘Cacing’ Winata berangkat dari rumah ke sekret pukul 14.00 wib janjian berangkat berdua bersama Ali ‘Catok’ Muqoddas. Di sekret kami mempersiapkan segala kebutuhan yang kami anggap cukup penting untuk perjalanan kami ini. Awalnya tujuan kami langsung menuju banyuwangi akan tetapi bus yang menuju banyuwangi sudah habis kami pun berangkat ke Surabaya dulu. Perjalanan kurang lebih 5 jam kami pun tiba di terminal bungurasih Surabaya. Lalu kami lanjutkan mencari bus dengan tujuan banyuwangi. dan kami sempat bingung mau naik bus langsung ke bali atau turun di banyuwangi dulu, setelah tanya sana sini harga tarif busnya kurang cocok dengan budget kami...hee, akhirnya kami putuskan menghubungi teman – teman Mupalas (Unmuh Surabaya). Sampai sekretariat Mupalas baru pukul 07.00 wib pagi, di situ kami transit sebentar sambil menunggu waktu sore hari untuk perjalanan menuju banyuwangi. Sedikit info karena transportasi yang dari pelabuhan Gilimanuk-padangbay hanya ada pukul 01.00 – 03-00 wita. Dari Mupalas kami berangkat dari bungurasih lagi, rencana awal naik bus langsung ke banyuwangi ternyata busnya hanya sampai probolinggo, sampai di terminal probolinggo pukul 19.00 wib kami mencari bus yang ke arah banyuwangi / ketapang. Ternyata bus yang kami tumpangi hanya sampai terminal ketapang, alhasil kami pun ganti angkutan yang lebih mirip kendaraan pribadi dari terminal ketapang menuju pelabuhan ketapang dengan ongkos Rp 6.000 kami sudah sampai di pelabuhan ketapang. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, tapi karena sudah terlalu lama di bus dari surabaya sampai banyuwangi yang hampir memakan waktu 12 jam kami pun nyerah dan naik angutan umum dari terminal ketapang unutk menuju pelabuhan ketapang.

Awalnya kami ingin menumpang truk – truk yang ke arah mataram supaya menghemat cost perjalanan. di depan pintu masuk pelabuhan kami malah kami ketemu calo truk yang meminta ongkos dari ketapang sampai mataram 175rb per orang, langsung saja kami tolak mentah – mentah, karena menurut info dari teman – teman Mupalas paling hanya uang rokok ato 50rb saja uda bisa. karena kami tidak langsung ketemu dengan supir truknya kami pun naik kapal dengan cara legal beli tiket ketapang – Gilimanuk seharga Rp 6.500 perjalanan kurang lebih 45menit.
Sampai di gilimanuk pun kita tepat waktu pukul 02.30 wita setelah keluar dari pelabuhan kami sempat tertahan oleh brimob dan petugas yang memeriksa setiap orang yang akan masuk atau melewati Bali. Disitu kita di mintai tanda pengenal (SIM/KTP/KTM/dsb) sempat kesulitan dan tidak boleh masuk ke bali saat menunjukan kartu identitas karena yang saya bawa hanya kartu perpus, kartu tanda anggota (KTA) MALIMPA, tapi karena petugas melihat bawaan saya adalah tas carrier dia pun langsung bilang kesaya,”mau mendaki ya mas?’’. Saya jawab saja “iya”. Akhirnya petugas pun hanya bilang,”nanti kalo ada apa – apa cari seribu satu alasan saja mas”, oh siap pak. Hahaha..kami pun langsung naik ke angkutan yang langsung menuju pelabuhan padangbay. Perjalanan kurang lebih 3 jam dari gilimanuk ke padangbay dengan ongkos Rp 50.000 kami pun tiba di ujung timur pulau bali pukul 06.00 wita. Lebih hemat angkutan yang langsung begini dari pada harus ganti – ganti angkutan.

Di padangbay kami istirahat sejenak untuk melegakan pantat kami yang sudah penat karena dari kemarin sore mulai dari surabaya-probolinggo-banyuwangi-gilimanuk-padangbay hampir 24 jam kami di bus. Di mushola sekitar pelabuhan padangbay kami bersih-bersih dan mengisi perut dengan sepotong roti yang kami beli di pelabuhan ketapang kemarin, sampai pukul 07.30wita kami pun langsung masuk ke pelabuhan untuk membali tiket dari pelabuhan padangbay ke pelabuhan Lembar Lombok dengan harga Rp 36.000 kami naik kapal feri lagi dengan lama perjalanan 4,5jam. Pukul 08.00 wita kami baru naik ke kapal karena harus antri dengan kapal yang akan bersandar. di atas kapal yang cukup terik karena sengatan matahari pukul 10 kami pun tetap bersemangat karena ini pertama kalinya kami ke lombok. :-) 

Sampai di pelabuhan Lembar pukul 12.30 wib perjalanan laut yang cukup membuat mual karena siang itu ombak cukup besar, kami pun istirahat di mushola sekitar pelabuhan sambil menghubungi teman yang ada di Univ Muhammadiyah Mataram. karena masih libur lebaran teman – teman dari mapala UMM masih banyak yang pulang kampung kami pun memutuskan naik transportasi umum untuk menuju UMM. Kami keluar pelabuhan untuk mencari transportasi yang dapat membawa kami ke UMM kami pun dapat transportasi sejenis colt dengan biaya Rp 35.000 mengingat penumpang yang dia bawa hanya kami berdua kami pun memaklumi sekaligus itung – itung amal. :-). Sampai di UMM pukul 14.30 wita kami langsung menuju sekretariat Mapala UMM yang berada paling ujung di belakang kampus. Kami pun di sambut hangat oleh temen – temen mapala UMM. Ternyata yang berkunjung disitu tidak hanya kami saja, sebelumnya sudah ada teman – teman dari mapala Astadeca depok yang baru turun dari pendakian Rinjaninya.
Sambil ngobrol ternyata teman – teman dari astadeca pun juga ada rencana mau ke gilitrawangan kami pun senang ada barengan karena cukup menghemat biaya juga melihat transportasi di lombok yang kalo tidak banyak orang akan lumayan mahal.
Esok harinya 16 agustus 2013 kami pun melanjutkan perjalan ke gili trawangan bareng dengan teman – teman astadeca. Malam hari sebelumnya kami sudah di hubungkan dengan taksi yang akan membawa kami ke pelabuhan berikutnya menyebrang ke gili trawangan. Sebelum meninggalkan UMM kami berpamitan dengan teman – teman UMM dan tak lupa ucapan terima kasih untuk sambutan hangatnya.
Dari UMM ke pelabuhan bangsal kurang lebih satu jam dengan menggunakan taksi argo Rp 100rb rupiah akhirnya kami pun sampai di lembar pukul 14.00wita karena kami berangkat dari UMM pukul 12.45 wita. Selain gili trawangan sebenarnya masih ada gili meno dan gili air, tapi kami tetap pada rencana awal tetap ke gili trawangan. Dengan tiket kapal Rp 10rb rupiah perjalanan laut kurang lebih satu jam kami pun tiba di gilitrawangan. Karena sudah cukup sore kami sampai, kami pun berpencar dan ada yang menelpon mencari penginapan dengan budget yang paling rendah. 

Sampai pukul 5 sore lebih kami belum dapat penginapan karena mengingat juga ini ada musim liburan dan perburuan penginapan harus lebih ekstra keras, akhirnya dapat juga walaupun kurang dari yang diharapkan setidaknya dapat menampung kami semalaman karena biaya yang kami keluarkan cukup Rp 20rb setiap orang karena kami berlima jadi harga penginapan kami 100rb rupiah..haha. fasilitas yang kami dapatkan pun seadanya dengan kamar ukuran 3 x 2,5 M di isi dengan kasur yang di sediakan penyewa plus dapat bonus kipas angin. Kami berbagi tempat berlima 4 laki – laki, 1 cewek. Memang gilitrawangan pada saat itu adalah musim dingin di Eropa dan Amerika alhasil bule – bule pun mencari daerah yang beriklim tropis, selain itu Lombok dan sekitarnya juga menjadi tempat favorit setelah Bali jadi tidak heran kenapa lombok menjadi sangat ramai. Malam harinya kami pun jalan – jalan di sekitar gili trawangan, rencananya sambil mencari makan malam. Ketika berjalan melewati satu dua kedai kami (saya dan catok) tercengang melihat harga dengan bandrol dollar yang di daftar menu ditempel di kedai – kedai tersebut. Benar saja untuk makan sepotong ikan tuna 100gram kita harus keluar 50rb, kami pun melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki dan berharap tidak menemui kedai yang serupa. Ternyata semakin jauh semakin mahal dan hasilnya pun sama saja, akhirnya kami berlima pun balik kanan untuk makan di pasar tradisional yang ada di sekitar gili trawangan juga. Tapi yang makan malam di situ pun hanya teman – teman dari astadeca, saya dan catok pun kembali ke penginapan untuk memasak. Karena dari awal kami sudah membawa perbekalan sendiri. Mie dan beras..haha.

Pagi harinya kami langsung ke loket untuk cari tiket kembali ke pelabuhan bangsal. Karena teman – teman astadeca juga mengejar jadwal pesawat mereka yang akan ke jakarta pukul 13.00wita. sembari menunggu kapal bersandar tak lupa kami sempatkan moment berfoto bareng di “Welcome Gili Trawangan” ..hehe.
Saat kapal ada yang mau bersandar saya terkagetkan oleh sms dari teman satu angkatan yang isinya “ mas Wereng nang lombok lho...” hehe, tanpa pikir panjang catok langsung menelpon mas wereng(Eko Wahyudi Diklatsar XV). Dan ternyata kebetulan juga mas wereng juga ada di sengigi, pantai yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan bangsal. Setelah kapal yang kami tumpangi bersandar di pelabuhan bangsal mas wereng pun ternyata sudah berada di tepi pantai bersama Om nya yang tinggal di senaru (lereng Rinjani). Setelah ngobrol kesana kemari kami pun berpamitan dengan mas wereng dan Om nya, dan tentunya bertambah tebal kantong kami setelah bertemu mas wereng...hehehe.
Masih berlima kami naik cidomo(andong) dari pelabuhan bangsal sampai di tempat ngetemnya angkot yang ke arah kota, naik cidomo 25rb buat lima orang lebih baik dari pada harus jalan kurang lebih satu kilometer. Lalu kami pun naik angkot yang ke arah terminal mandalika, tapi sebelum terminal mandalika teman – teman dari astadeca turun di pasar oleh – oleh, akhirnyanya kami pun berpisah disini. Sampai diterminal mandalika kami turun di depan, karena angkutannya sudah ada di depan terminal. Hampir 2 jam kami menunggu di angkutan tersebut. Karena baru kami penumpangnya, dua jam menunggu akhirnya ada 2 teman dari jakarta yang kebetulan baru turun dari rinjani sama seperti teman astadeca yang tadi. Dari terminal mandalika sampai di pelabuhan lembar dengan tarif Rp 25rb kami pun berangkat. Sampai di pelabuhan lembar kami bertemu dengan seorang dosen yang hendak ke surabaya. setelah basi basi yang saat itu di pelabuhan lembar sudah pukul 16.30 wita kami pun memutuskan untuk berlima naik bareng di kapal nantinya, karena pada saat turun di pelabuhan padang bay malam hari angkutan umum sudah tidak ada, yang ada hanya mobil carteran. Benar saja setelah naik feri dari lembar – turun di padang bay pukul 22.00 wita kami sudah kehabisan angkutan umum. Di padang bay pun kami jadi ber enam, kami ber 2, dua dari jakarta, 1 dari bandung, 1 dosen yang mau ke surabaya tadi. 1 dari bandung ini ketemu diatas kapal dari lembar – ke padang bay.
Sampai di padangbay pukul 22.00 wita kami berenam duduk seperti orang bingung..haha, karena menunggu mobil yang kalo beruntung dapat kami tumpangi dengan ongkos 40rb per orang sampai terminal ubung. Calo di sekitar pelabuhan padangbay pun semakin eneg melihat ada penumpang “kleleran” di pinggir jalan. Akhirnya setelah menunggu kurang lebih satu setengah jam datang mobil alpard yang dapat kami tumpangi sampai ubung dengan perjalanan kurang lebih satu setengah jam kemudian kami sampai di terminal ubung. Dini hari sampai terminal ubung terasa sekali badan rasanya “digebukin”, dari kami berenam pun berpencar mencari tempat buat mengistirahatkan sejenak badan ini. 3 orang dari rombongan ini mereka mengajak kami makan di sekitar terminal. Karena keterbatasan dana yang waktu itu tinggal 24rb uang kami berdua kumpulkan, akhirnya kami pun memasak perbekalan kami yang tersisa. Beras dan mie instan. Tidak perduli orang – orang di sekitar terminal melihat kami yang penting perut ini dapat terisi sembari menunggu pagi sambil menunggu teman dari malang yang kerja di bali, karena kami sudah janjian akan mampir ke tempat dia.
Dari jam 01.30 wita sampai pukul 09.00 wita kami di terminal ubung dan sedangkan teman dari jakarta sudah meninggalkan kami dari jam 06.30 wita, dosen yang kesurabaya juga begitu, hanya teman dari bandung yang terakhir meninggalkan kami pukul 08.00 wita. Akhirnya pukul 09.00 wita pun ada sms masuk “metuo nang ngarep terminal cing...”. teman dari malang pun datang dan kami pun dibawa ke kost an di untuk sekedar mampir. Setelah sampai di kost annya ternyata dia tinggal bersama seniornya, ya teman dari malang ini adalah khoirul anwar anggota Dimpa UMM. Di tempat khoirul (irul) kami menginap satu malam, sekedar menyegarkan badan yang dari kemarin tubuh ini kurang di manjakan. Karena pagi harinya irul berangkat kerja kami pun juga langsung berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Karena irul terburu – buru kerja dan tidak dapat mengantar kami ke terminal, kami pun mencari tumpangan yang dapat membawa kami sampai terminal. Catatan karena di bali tidak semudah ada angkot seperti di jawa. Kami pun menumpang carry bak terbuka.
Sampai di terminal ubung catok langsung mencari ATM karena pagi harinya dia mendapat transferan jatah uang saku dari rumahnya. Akhirnya kami pun dapat melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan gilimanuk. Tarif ubung-gilimanuk 35rb dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam. Ditengah perjalanan dari ubung-gilimanuk pun sempat menimbulkan kecurigaan, jangan – jangan bus yang kami tumpangi ini tidak sampai di gilimanuk. Ternyata tidak kami di pindak dengan mobil colt yang menuju ke gilimanuk. Ada serunya juga ketika kami di pindak ke colt kami bertemu dengan turis asing asal irlandia yang akan berselancar ke parangtritis jogjakarta. Akhirnya perjalan dari bali sampai ketapang pun ada teman lagi walaupun bagi kami sulit untuk berkomunikasi...ahaha. pas sampai di gilimanuk catok pun mencoba mengajak berkomunikasi dengan si bule. “ what are you going?’’. Si bule menjawab “I am going to parangtritis”. Catok pun menjawab “ yesss, you and we same same...”. akhirnya saya tanya catok “ same same opo tok?”. Sama sama cing.. “emang bener tok..” catok pun menjawab lagi “mbuh, ho’o yak e..”...haha.
Sampai di gilimanuk ternyata si bule mau naik kereta untuk menuju jogjakarta, akhirnya kami pun antarkan dia ke stasiun ketapang yang jaraknya kurang dari 500meter dari pelabuhan ketapang. Ternyata kereta tidak tersedia untuk hari itu, akhirnya si bule pun kami tinggalkan di stasiun dan kami pun melanjutkan perjalanan ke solo naik dengan bus secara estafet. Ketapang – probilinggo-surabaya- solo.
Oleh : NIA 09.26.002 MPA / Cacing


26 Titik penelitian Geologi & Potensi bencana di Subkorwil II Minahasa

|| || ,,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar
Ekspedisi NKRI koridor Sulawesi
Oleh : Ali Muqodas
NIA : 09.26.001 MPA

Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika aku telah menginjakkan kaki di pulau Sulawesi. Ceritanya berawal ketika aku mendaftar sebagai peserta Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi yang diselenggarakan KOPASSUS. KOPASSUS?? Pasti yang ada dipikiran kita adalah latihan, militer, muka garang, dan baju loreng. Pasti berat jika mengikuti kegiatan para tentara elite ini. Namun yang terjadi 180⁰ dari yang yang saya pikirkan. Kegiatan yang diselenggarakan KOPASSUS ini merupakan kegiatan penjelajahan, penelitian, dan Komunikasi sosial yang melibatkan 1450 orang yang terdiri dari TNI, POLRI, Mahasiswa, dan LSM. Dari sekitar 1450 orang tadi disebar ke 9 wilayah diseluruh Sulawesi yakni kep. Sangire Talaud, Minahasa, Bone Bolango, Mamuju, Sigi, Luwu Banggai, Kolaka, Tana Toraja, dan Gowa. Kegiatan yang berlangsung selama hampir enam bulan dari februari sampai juli 2013 ini mengupas tuntas potensi-potensi yang ada di wilayah Sulawesi untuk di gali dan dikembangkan untuk mensejahterakan masyarakat Sulawesi. Berikut ini ceritaku selama di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara sebagai tim peneliti Geologi dan Potensi bencana.
Cerita ini berawal ketika Kami berdua didelegasikan oleh organisasi pecinta alam kami MALIMPA untuk mengikuti Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi, Aku dan rekanku Arif WInata (Cacing) yang juga ikut dalam ekspedisi ini berangkat ke Bandung untuk melakukan registrasi ulang karena sebelumnya kami berdua lolos dalam pemberkasan. Di Batu Jajar, Bandung kami melakukan tes wawancara dan tes kesehatan sebelum kemudian di antar ke Situ Lembang, Bandung untuk pembekalan dan pendalaman materi di sana. Masing – masing dari kami ditugaskan di tempat yang berbeda, jika Aku di Tim Geologi & Potensi bencana di Kabupaten Minahasa, lain halnya dengan temenku Arif, temenku lebih memilih masuk Tim Kehutanan alasannya karena dia ingin mempelajari dan meneliti hutan-hutan di Sulawesi, untuk itu dia ditugaskan di Kabupaten Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah karena hutan di daerah ini diyakini banyak yang masih perawan. Setelah pembekalan di Situ Lembang selesai kemudian kami diberangkatkan ke Pulau Sulawesi dengan pesawat Hercules dari Bandar udara Husein kertanegara, Bandung. Karena kegiatan ini meliputi 9 Subkorwil, maka pemberangkatan dibagi dalam 3 kloter. Kloter pertama yang diberangkatkan lebih dulu adalah Subkorwil Gowa, Tana Toraja, dan kolaka. Kemudian di hari berikutnya dari Kloter kedua yakni Sigi, Luwuk Banggai, Mamuju, sedangkan kloter ketiga kep. Sangire Talaud, Minahasa, dan Bone Bolango diberangkatkan dihari ketiganya.
Senin 11 Maret 2013 pesawat Hercules yang kami tumpangi terbang dari Bandung kemudian transit di Bandara Sepinggan, Balikpapan untuk mengisi Bahan bakar baru dilanjutkan ke Manado. Total waktu tempuh dari Bandung ke Manado sekitar 5 Jam. Setibanya di Bandara Sam Ratulangi Manado, Rasa lelah dan Bisingnya baling-baling pesawat sedikit terobati dengan disuguhkannya tarian Kabasaran yang sengaja ditampilkan untuk menyambut kedatangan kami, tarian ini adalah tarian selamat datang dari suku Minahasa bagi tamu-tamu kehormatan, para penarinya pun seluruhnya adalah laki – laki dengan kostum berwarna merah menyala. Nampak garang dengan aksesoris yang terbuat dari tulang-tulang binatang dan bulu unggas. Upacara penyambutan yang pimpin oleh Bupati Kabupaten Minahasa menandakan bahwa kedatangan kami mendapat apresiasi yang baik bagi Masyarakat Minahasa pada umumnya. . Setelah upacara rampung kami langsung menuju Poskotis di Tondano
Indonesia sebagai Negara yang mayoritas penduduknya muslim pasti terheran –heran dengan apa yang saya lihat selama peralanan ke Tondano. Di Minahasa masjid sangat jarang ditemui tidak seperti daerah lain di Indonesia, karena sebagian besar penduduk Minahasa beragama Nasrani dan Katolik, jadi pantas saja jika masjid jarang ditemui disini. Walaupun begitu, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi kami, keberagaman suku dan budaya di Indonesia malah menjadi pemersatu bangsa ini. Karena perbedaan itu akan menjadi indah kalau kita bisa saling mengisi dan berbagi. Dan malam itu kita sampai di lokasi poskotis, cuaca dingin berselimutkan kabut tebal menambah sunyinya malam di Tondano, Kami pun langsung bergegas istirahat.
Seminggu setelah tiba di Minahasa kami menyesuaikan diri dengan lingkungan sembari menyusun rencana kegiatan selama 4 Bulan kedepan. Untunglah diminggu-minggu pertama itu kita mendapat tambahan personil yang terdiri dari Dosen, Mahasiswa, Instansi pemerintahan serta TNI dan POLRI , sehingga harapannya kita bisa saling bertukar ilmu dan melaksanakan kegiatan bersama. Jika ditotal jumlah personil di subkorwil Minahasa sebanyak 150 orang yang terbagi lagi dalam Tim Jelajah, Tim Komunikasi Sosial, dan Tim Peneliti ( Tim Kehutanan, Tim Sosial Budaya, Tim Flora Fauna, Tim Geologi & Potensi Bencana ) kemudian juga pembagian wilayah kerja antara tim satu dengan lainnya tidaklah sama. Untuk Tim Geologi & Potensi Bencana sendiri wilayah kerjanya di 26 lokasi yang akan saya ceritakan nanti ditiap -tiap edisinya.
  1. Manifestasi Geothermal di Remboken,
  2. Pendakian di Gunung Masarang
  3. Batu Obsidian di Tataaran II
  4. Penelitian di sekitar kawah Gunung Mahawu,
  5. Letusan Gunung Lokon,
  6. Abu vulkanik di Wailan,
  7. Air terjun Regesan
  8. Sumber air panas di Pinaras,
  9. Kawah sulfur Danau Linow
  10. Kawah Tua Gunung Tampusu
  11. Penanaman di Hutan Passo
  12. Air asam sungai Ranosem
  13. Kandungan belerang di Kanonang
  14. Mineral emas di Sungai Polandi,
  15. Batu karst di Kapitu
  16. Dinding andesit Kilotiga
  17. Hidrothermal di pantai Moinit
  18. Longsor di jalan trans Sulawesi Lelema
  19. Tambang pasir di Sungai Ranoiapo
  20. Taman makam pahlawan Tondano
  21. Tambang emas Tradisional Tatelu
  22. Air terjun Tunan
  23. Longsoran Dahsyat di Pangu, Minahasa Tenggara
  24. Kelok Tanggari,
  25. Potensi bencana di Eris.
  26. Banjir Rendam Toulour
Bersambung……

Pendakian Gunung Djobolarangan via Pondok

|| || ,,,,,,,,,,, || Leave a komentar

Masa bimbingan Gunung Hutan Anggota Muda XXXI MALIMPA

Gunung Djobolarangan merupakan gunung tertinggi dijajaran  Pegunungan Sewu, jika anda mendaki Gunung Lawu maka akan terlihat puncak dari gunung ini. Pendakian kali ini dalam rangka menjalani prosesi masa bimbingan Anggota Muda angkatan XXXI sebelum dilantik menjadi Anggota Biasa MALIMPA,  untuk itu kami berniat melakukan pendakian ini pada tanggal 30 Januari – 3 Februari 2014 bertepatan dengan liburan semester. Pendakian ini bertujuan untuk mengasah skil para Anggota Muda MALIMPA dibidang ilmu Gunung hutan, sehingga diharapkan untuk kedepannya kami memiliki bekal yang cukup untuk melakukan pendakian-pendakian berikutnya.
Kami berangkat dari Solo sehari sebelum pendakian hari pertama kami mulai, dengan beranggotakan 12 Anggota Muda dan 3 Pendamping dari Anggota Biasa membuat kami yakin pendakian kali ini akan mengawali cerita kami di MALIMPA. Cerita dimulai dihari pertama pendakian, Jumat (31/01/2014) seperti biasanya kegiatan dimulai dari bangun pagi dilanjutkan sholat, masak, orientasi medan, dll.  Setelah semua selesai perjalanan ke puncak Djobolarangan kami mulai pada pukul 10.00 WIB. Disepanjang perjalanan tanjakan demi tanjakan kami lalui seperti tidak pernah ada habisnya, terlebih jalur yang kami lewati banyak yang  tertutup ranting dan semak-semak sehingga kami harus kerja ekstra untuk membabat ranting dan semak-semak yang menghalangi perjalanan kami, rasa capek dan putus asa sering menghampiri kami untuk menghentikan perjalanan ini, namun tekad kami sudah terlalu kuat untuk menginjakkan kaki dan menancapkan Bendera MALIMPA dipuncak tertinggi dikawasan pegunungan sewu tersebut.
Setelah berjalan seharian kami pun berencana beristirahat untuk mendirikan tenda, namun karena medan yang terjal dengan kemiringan lebih dari 30° sangat menyulitkan kami untuk mencari tempat beristirahat, padahal hari sudah menjelang malam. Setelah kami paksakan untuk sedikit melangkahkan kaki ke atas akhirnya kami menemukan tempat yang cukup lapang untuk mendirikan tenda, setelah makan dan mengevaluasi kegiatan kami tadi, kami langsung beranjak menuju tenda untuk beristirahat.
            Malam pun telah berganti pagi, Sabtu (01/02/2014) pagi yang cerah mengawali kegiatan kami, setelah melakukan aktivitas pagi seperti biasa kamipun langsung mencari titik kontrol dimana kami menginap, karena ketika sampai di sini kemarin kami belum mengetahui posisi camp kami dipeta. Setelah berulang kali melakukan orientasi medan dan resection  baru diketahui posisi kami sebenarnya di peta, namun betapa  tercengangnya kami setelah mengetahui posisi kami berada sekarang, ternyata kami sudah berjalan sangat jauh dan keluar dari  plotingan. tanpa menunggu lama perjalanan pun kami lanjutkan untuk kembali ke jalur plotingan semula dan melanjutkan perjalanana menuju puncak Djobolarangan.  Medan yang kami lalui kali ini tidak jauh berbeda dengan medan yang kami lalui kemarin, semak, ranting, bahkan pohon tumbang cukup menghalangi perjalanan kami, dengan segala cara mulai dari berjalan, merangkak, memanjat, dan terus mencari pegangan untuk naik ke atas kami lakukan untuk mencapai puncak yang kami tuju. Akhirnya  pukul 16.45 WIB kami sampai di puncak Djabolaragan dan beristirahat sejenak. Setelah menikmati keindahan puncak djobolarangan dan foto-foto kami harus segera melanjutkan perjalanan untuk menuju Wella. Karena rencananya kami akan mendirikan tenda di sana.
           
Hari ini adalah hari ke 4 selama kami di Gunung dan semuanya mulai terlihat lebih bersemangat dibandingkankan hari - hari sebelumnya, karena perjalanan selanjutnya akan melewati jalur DIKLATSAR kami dulu. Perjalanan dari Wella menuju Puncak Rengginang dibutuhkan waktu 2 jam untuk sampai ke sana. Setelah sampai puncak Rengginang kami beristirahat sejenak dan memasak mie rebus untuk mengganjal perut kami yang sejak dari tadi meronta. Setelah mie rebus dibagikan secara bergiliran tiba saatnya pada giliran Farich, tapi tanpa sengaja wadah tempat mie tumpah dan jatuh ke tanah, secara spontan kami langsung berebut memakan mie yang jatuh tersebut, mungkin masih terbawa saat pendidikan dulu bahwa kita tidak boleh menyisakan makanan, kami pun tertawa terbahak-bahak setelah sadar kami telah  menghabiskan mie yang jatuh tadi. Selesai makan kami mulai melanjutkan perjalanan menuju ke camp terakhir di Tlogo Dlingo.
            Senin (03/02/2014) hari ini rasanya semuanya dilakukan lebih cepat dari hari biasanya seperti bangun lebih awal, lalu sholat subuh dan langsung mulai masak dan packing. Mungkin karena sudah terbiasa sehingga apa yang kami kerjakan seakan menjadi lebih mudah. Setelah selesai makan lanjut menuju desa Tlogo Dlingo untuk pulang ke kampus.
Narasi : Siti Fatimah

Pendakian luar pulau pertama ku “ Latimojong nan eksotik

|| || ,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar

Mendaki gunung merupakan olahraga yang keras,membutuhkan kekuatan fisik yang ekstra bagi pemula seperti saya, dan juga penuh tantangan yang berbahaya namun pada hakekatnya tantangan dan bahaya tersebut adalah untuk menguji kemampuan diri agar bisa menyatu dengan alam.
Gunung latimojong merupakan daratan tertinggi  di Sulawesi Selatan Rantemario itu nama puncak tertingginya dengan ketinggian 3.478 mdpl. Gunungan latimojong berada di kabupaten Enrekang, Palopo, dan Tana Toraja. Namun bila menuju ke puncak Rante Mario jalur yang sering digunakan  melalui Kab. Enrekang.
Ini merupakan pendakian kedua saya sebagai pemula setelah mendaki gunung merapai besama temen2 anggota muda malimpa sebelumnya. Perjalanan ini menjadi suatu petualangan dan pengalaman yang tak akan terlupakan dalam hidup saya.
Tanggal 8 Februari 2013 tepatnya pas pertama liburan,Aku bersama 2 orang seniorku mas Akbar dan mas Catok berangkat dari kampus pukul 09.45 ke stasiun purwosari,karena kereta ke Surabaya brangkat pukul 10.00 wib dengan harga tiket Rp. 45.000 saat itu. Didalam kereta pun kita beli pecel karena belum sempat makan pagi sebelumberangkat(kasian banget yaaaa..??) selang waktu 5 jam akhirnya kita sampai di stasiun Surabaya, tanpa menunggu lama kita lagsung menuju ke pelabuhan Surabaya naik bis dengan ongkos Rp. 4000, kira-kira 45 menit kita sampai di pelabuhan Surabaya karena di tiket kapalnya berangkat pukul 20.00wib kita makan soto dan sholat dulu. O iya harga tiket kapalnya nya Rp.250.000 KMP Gunung Dempo,  Pukul 20.00 wib kita sudah berada dikapal, dikapal kita memutuskan tidak nyewa kamar untuk istirahat,kita tidur di dek kapal (“hemat beb” dikapal kan mahal !!). Pukul 22.00 wib kapal mulai berlabuh kita pun stay di lantai 2 untuk istirahat.Disini kita masak nasi goreng untuk makan malam, karena perut sudah sangat lapar dan sebelum tidur kita seru-seruan maen kartu dulu. Karena kelelahan akhirnya kamipun tidur,  kira-kira 1 jam kemudian Mas Catok bangun dan tersadar kalau daypack yang ada disampingnya hilang, menyedihkan sekali padahal isinya barang MALIMPA semua ada kompas,webing,carabiner singkat cerita  setelah mencari sampai  keliling kapal akhirnya mas akbar dan mas catok menemukan ditempat sampah pukul 4 sore,itupun yang ketemu cuma isinya saja, daypacknya dibawa pencuri itu. Sehari semalam berada dikapal ditambah dengan kejadian seperti itu akhirnya kita sampai di pelabuhan makassar pukul 23.00 dini hari tanggal 9 Februari 2013,Ekspedisi KL Gunung Dempo pun berakhir. (hehehe) J
Di pelabuhan kita dijemput sama anak MAPALA Unismuh Makassar, dan istirahat di sekretariat mereka,sesampai disekret mereka kita disambut dengan ramah inilah yang paling saya suka, walaupun belum kenal namun menunjukkan suasana kekeluargaan yang tinggi. Disini kita juga menyempatkan latihan fisik bareng anak UNISMUH setiap sore kita stretching di lingkungan kampus UNISMUH,tgl 11  Februari  2013 dini hari kita brangkat ke Baraka kerumahnya kak Laron, jarak dari kota Makassar ke Baraka kira-kira 8jam dengan modal Rp.45.000menggunakan mobil panther, disepanjang jalan kita disuguhi pemandangan bukit karst  yang Asri. Sampai di rumah kak Laron kita disambut dengan ramah oleh keluarga kak Laron,  selagi melepas penat dan ngobrol sama keluarga kak Laron,Mas Catok dapat kabar dia lulus Ekspedisi NKRI koridor Sulawesi dan harus kembali ke Solo untuk mengurus kelanjutannya. Aku dan mas Akbar tidak tau harus sedih apa senang dengar kabar tersebut, yang pasti kita senang mas catok dapat kesempatan itu,karena tidak semua pendaftar bisa dapat, dilain sisi kita sedih karena dia tidak dapat menemani kita sampai puncak, padahal yang paling bisa dipercaya bisa menjaga kita cuma mas catok,karena dia paling senior diantara kita, tapi ini tidak menyurutkan niat kita berdua untuk tetap muncak, kita tidak mau berlarut-larut dalam suasana seperti ini, akhirnya sore-sore kita diajak Kak Laron ke pegunungan di belakang rumahnya Kak Laron bersama Kak Macan dan Kak Bajing yang juga anak MAPALA UNISMUH lainnya yang rumahnya disini, disini kita seru-seruan foto-foto, kembali kerumah kak laron magrib, dan makan malam bersama, setelah makan malam kita istirahat untuk perjalanan  besok pagi.
Tgl 12 februari 2013,bangun pagi aku bersama Kak Bajing dan Kak Laron yang bakal nemenin kita mendaki nanti, pergi ke pasar beli sayuran dan ikan tambahan  bekal kita selama 4 hari muncak. Selasai packing kita pun siap berangkat ke Karangan dengan menggunakan truk angkutan  dengan ongkos Rp. 20.000 per kepala, perlu di perhatikan transportasi ini adanya bila ada hari Pasar saja, biasanya hari senin dan kamis, yaitu dimana biasanya penduduk kaki gunung turun untuk menjual hasil panennya dan membeli segala kebutuhan mereka. Desa Karangan mrerupakan desa terakhir di pegunungan ini, dan jalur yang kita lewati sangat becek, sekali-kali kita harus turun dan jalan kaki karena memang jalan yang di lalui tidak semulus jalan tol.Disepanjang perjalanan terbentang pemandangan yang indah. Karena jalan sangat becek akhirnya truk tersebut hanya bisa sampai dusun rantelemo,,sebelumya kita sudah jalan dari dusun angin-angin,hanya cerier yang dibawa truk tersebut. Sesampai dirantelemo kita harus melanjutkan pejalanan kurang lebih 2,5 jam untuk sampai ke  Karangan yaitu dusun terakhir di pegunungan latimojong disini kita istirahat di basecampnya MAPALA UNISMUH,basecamp tersebut dirumah salah satu penduduk desa ini yang biasa di panggil “ambe” sama mereka,kami pun ber istirahat semalam di rumah ambe, dari desa inilah perjalanan menuju pujak latimojong dimulai.
Tgl 13 februari 2013,setelah sarapan pagi kita berangkat dari rumah ambe menuju pos 1, sebelum berangkat terlebih dahulu kita berdoa untuk keselamatan. Perjalanan menuju pos 1 akan melewati perkebunan kopi penduduk, dan menyebrangi sungai kecil. Disini kita melihat penggundulan hutan besar-besaran dn berganti menjadi ladang penduduk. Mendekati pos 1 kami disambut oleh tanjakan terjal dengan kemiringan ± 80°. Setelah berjalan ± 90 menit dari rumah ambe akhirnya kami sampai di pos 1 yang dikenal dengan nama Buntu Kaciling. Dari sini pemandangan sangat indah. Pos 1 ini sendiri berada pada ketinggian 1600 mdpl yang berupa areal terbuka. Setelah berfoto- foto kami kemudian melanjutkan perjalanan ke pos 2.
Jalur menuju pos 2 di tempuh melewati hutan yang cukup rimbun. Jalur yang di lalui cukup seram kaerna mlipir di pinnggir-pinggir jurang dan cenderung menurun, karena pos 2 berada di lembah,dan barada di seberang sungai berupa batu besar yang menyerupai goa. Untuk bisa sampai ke pos 2 kita harus menyebrangi sungai cukup deras, wow airnya dingin banget, disini kita istirahat minum kopi dulu, disini kita ketemu dengan pendaki lain dari makassar 10 orang. Waktu yang di perlukan sampai ke pos 2 kira 60 menit.
perjalanan ke pos 3. Menuju pos 3 kami disambut dengan tanjakan terjal dengan kemiringan ± 70-80°.Jalur ini merupakan jalur terberat dari pendakian ke puncak Rantemario.Setelah beberapasaat kamipun sampai di pos 3 yang juga bernama Lantang Nase.Pos 3 ini sendiri berupa areal datar berukuran 5 m2 yang tidak memiliki sumber air dan berada pada ketinggian 1940 Mdpl.
Selepas pos 3  jalurmasih menanjak dan melwati hutan yang cukup lembab. Kemiringan 50-60 derajat dan jalurlandaisesekali menghiasi posini.Setelah beberapa saat kami pun sampai di pos 4 yangberupa areal teduh ditumbuhi pohon-pohon yang rimbun.Posini juga biasa disebut Buntu Lebu.
Menuju pos 5 kondisi jalur tidak banyak berubah, tanjakan dan tanjakan terjal masih mendominasi jalur ini.Perjalanan menujupos 5 semakin menantang dengan jalur yang sedikit licin karena ditumbuhi lumut. Setelah beberapa saat akhirnya kami tiba di pos 5 yang ditandai dengan areal yang luas dan dikelilingi pohon-pohon dan berada pada ketinggian ± 2800 Mdpl.disini kita putusin untuk nge camp karena sudah sore,kita tidak mau melanjutkan perjalanan malam. Disini terdapat sumber air ke sungai yang berjarak ± 150 m turun ke lembah sebelah kiri, selesai mendirikan tenda mas akbar dan kak bajing pun ambil air. Sementara kak macan masak untuk kita makan malam.selesai makan malam kita pun istirahat tidur.Sepanjang perjalanan dari pos 2 kita kehujanan terus.
Bangun pagi kita masak dan sarapan untuk menjaga stamina.Selesai sarapan kita melanjutkan perjalanan ke pos 6 Hawa dingin pegunungan latimojong mulai menusuk pada rangkaian perjalanan menuju pos 6.Jalur menuju pos ini didomonasi oleh tanjakan dengan kemiringan antara 50-60 derajat.Setelah beberapa saat akhirnya kami sampai di pos 6.Sambil menunggu temandari belakang kami menikmati sebungkus mie instan mentah.
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos 7. Selepas pos 6  vegetasi tumbuhan mulai berubah. Pepohonan Sub Alpin yang kerdil mulai mendominasi jalur ini.Jalur menuju pos 7 berupa tanjakan melewati beberapa bukit kecil dengan sesekali jalur landai yang menghiasi rute ini.Pada lintasan ini kami disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan.Sambil sesekali menjepretkan kamera kami terus berjalan menuju pos 7. Beberapa saat kemudian kami pun sampai di pos 7 yang juga dikenal dengan nama Kolong Buntu. Pos 7 ini berupa area tebuka yang berada pada ketinggian 3100 mdpl. Di pos ini terdapat sumber air dari aliran sebuah sungai kecil yang teletak 10 meter dari pos ini

Dari Pos 7 ke  Puncak sekitar 45 menit dengan medan mendaki namun agak landai. . Ke  arah kiri menuju puncak Rantemario, ke ujung kanan 30° menuju  Puncak Nenemori 3397 Mdpl, ke kanan 60° menuju kota Palopo dan arah jalur dari pos 7.Di musim hujan area lapangan ini tergenang air menyerupai telaga, sehingga kalangan pendaki sering menyebutnya danau-danau. Di sepanjang perjalan cuaca sangat buruk, hujan shingga cuaca sangat dingin setelah beberapa saat kami pun sampai di atap Sulawesi tersebut luapan kegembiraan langsung saya ekspresikan dengan memeluk Triangulasi yang tingginya 150 cm. Di atas sebuah batu besar. Puncak Rantemario berupa area luas yang terbuka .Pada saat itu puncak  tertutup kabut sehingga tidak ada pemandaangan yang terlihat dari puncak hujan deres,sembari menunggu hujan reda kita bikin kopi.  Setelah berfoto-foto kami kembali turun karena cuaca sangat dingin meskipun pada saat itu siang hari. Dan berhenti di pos 7 nunggu hujan reda, sore-sore kita nyampe pos 5 lgi dan kita mutusin untuk ngecamp 1 malam lagi.dan melanjtkan perjalan besok pagi untuk turun,
Tgl 15 febrari 2013 Bangun pagi kita langsung sarapan dan packing untuk kembali ke desa Karangan,,pukul 08.00 start dari post 5,diperjalanan tiba-tiba kakiku sakit tidak bisa jalan mirris banget aq hrus ngesot melewati kebun penduduk dari pos 1 sampe ke rumah ambe’,kira-kira pukul 14.00 kita nyampe di rumh ambe,,karena takut ketinggalan mobil kita langsung aja kerantelemo nunggu mobil.tpi aq sendiri ngojek sama ambe sampe rante lemo dengan harga Rp.40.000, sembari menunggu mobil kita jajan dan cerita-cerita dengan  penduduk setempat, katanya hari ini tidak ada mobil naik.haduh tidak ada harapan lagi kita harus jalan kaki ke baraka dengan langkah yang lelah kita menyusuri jalan,samapai ke desa angin-angin, tuhan itu memang maha penyayang di kejauahan terdengarr suara deru mobil hatipun kembali semngat bakal dapat tumpangan samapai ke baraka, ternyata ada anak palopo yang nyater mobil  yang mau muncak ke latimojong,kira-kira magrib kita sampai di baraka dan nginep dirumanya kak macan,sebelum kembali ke makassar kita di ajak jalan-jalan ke tanah toraja ke kuburan batu. Seperti biasa kita naik mobil dari baraka ke makassaar kuang lebih 8 jam. Tgl 17 februari 2013 dini hari kita sudah sampai di sekretariat MAPALA unismuh dan istirahat, mas akbar konfirmasi pada mb umi untuk mesenin tiket pesawat untuk pulang kesolo tgl 18 februari 2013 akhirnya dapat tiket pesawat city link dengan harga Rp. 350.000. alahamduliillah besok udah pulang. Dan malam terakhir saya disini tidak boleh tidur maen kartu sampai pagi. Dan yang paling menegangkan pas mau pulang nyaris aja ketinggalan pesawat,ini gara-gara sebelumnya beli oleh-oleh dulu. Dengan kondisi basah kita langsung masuk ke pesawat dingin banget.kira-kira 1 jam kita sudah nyampe di bandara surabaya dan langsung keterminal,ketemu sama mbak Umi, magrib kita sampai di terminal dan ngebis ke solo, sampai di kampus pukul 12 malam.

Wina winata
NIA 13.30.007 MPA

RATAMA XXXIV-2013

|| || ,,,,,, || Leave a komentar
MALIMPA merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa yang berada di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pada akhir tahun kepengurusan 2013, MALIMPA menyelenggarakan rapat besar di internal MALIMPA, yaitu RATAMA XXIV (Rapat Tahunan Anggota Malimpa). Salah satu tujuan diselenggarakan rapat ini yaitu untuk menentukan siapa ketua MALIMPA yang baru.

RATAMA XXXIV dilaksanakan pada Rabu, 25 Desember 2013 bertempat di ruang seminar Fak. Ekonomi dan Minggu, 29 Desember 2013 bertempat di ruang C.3.3 Fak. Keguruan yang diikuti oleh anggota muda, anggota biasa, dan anggota luar biasa yang semuanya ikut berpartisipasi dalam RATAMA. Dalam acara tersebut, Anggota Muda berperan sebagai panitia pelaksana RATAMA XXXIV. Ini  langkah awal untuk belajar tanggung jawab dalam menjalankan sebuah kepanitiaan di MALIMPA. Sedangkan Anggota Biasa dan Anggota Luar Biasa mengikuti rapat dan berperan sebagai peserta rapat.

RATAMA XXXIV bertemakan “Hidup untuk Peduli” yang memiliki arti kehidupan kita haruslah di jalani dengan penuh tanggung jawab dan kepedulian. Baik itu peduli terhadap sesama makhluk hidup maupun dengan alam.

Dalam RATAMA XXXIV  ini  agenda yang pertama adalah pembacaan Tatib (Tata Tertib) sidang, pemilihan pimpinan sidang yang terdiri dari ketua sidang dan wakil ketua sidang yang dipimpin oleh pimpinan sidang sementera. Dengan keputusan bahwa yang menjalanakan RATAMA XXXIV di pimpin oleh Arif Winata sebagai ketua sidang dan Frendy Widjya sebagai wakil ketua sidang. Agenda selanjutnya yaitu pembahasan Laporan Pertanggungjawaban pegurus periode 2013. setelah selesai di laksanakan pemilihan ketua MALIMPA yang di awali dengan pengajuan diri dari 13 formatur kemudian mereka menyampaikan visi dan misi. Lalu terpilihlah 5 formatur dan setelah itu baru di pilih ketua dari kelima formatur tersebut. Lima formatur yang terpilih adalah Arif Winata, Didik Darmadi, Akbar Zakaria, Akip Saputra dan Freny Widjaya. Dan yang terpilih menjadi ketua MALIMPA periode 2014 dari hasil pengambilan suara oleh peserta sidang RATAMA. Kemudian dilanjutkan pembacaan AD/ART MALIMPA dan pembahasan aturan khusus serta aturan tambahan barulah setelah itu pembahasan lain-lain tentang MALIMPA. Dengan selesainya pembahasan lain - lain maka RATAMA XXXIV MALIMPA telah berakhir.

Ujian Tak Jadi Penghalang Tetap Bergiat

|| || ,,,,, || Leave a komentar

Nandha Sedang melakukan Aplikasi Terolian
 Selasa 14 januari 2014 MALIMPA  melaksanakan latihan SRT , wall climbing dan slob terolian di wall kampus 2 yang diikuti oleh beberapa anggota muda dan anggota biasa, “dian pradita (keceng ),nanda pratama, akip saputra(ginong), rinanto,arif winata (cacing), aji (korek) sedangkan anggota muda febri (weksor), siti Fatimah(keple), azis, rida, dan bayir”.


 Latihan ini dilakukan untuk mengisi waktu libur ditengah – tengah  ujian akhir semester ganjil 2013-2014  dan memberikan pengetahuan tentang SRT (Single roop teknique) terhadap anggota muda serta mengasah kemampuan guna menunjang kegiatan – kegiatan yang akan mendatang.biarpun ujian kita tetap harus latihan dan mengasah kemampuan agar ga tumpul dan berkarat, akademik maju hoby dan kemapuan dibidang kepecintaalaman juga maju CAYOO,,,, 
 Akip  12.29.002 MPA