Tampilkan postingan dengan label pecinta alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pecinta alam. Tampilkan semua postingan

Pendakian Gunung Lawu Pasca erupsi Kelud

|| || ,,,,,,,,, || Leave a komentar

Pendakian Gunung Lawu Pasca erupsi Kelud
Oleh : Afiotria
AM 31 MALIMPA
Bencana erupsi Gunung Kelud yang terjadi pada pertengahan bulan Februari 2014 kemarin membawa duka bagi bangsa Indonesia, terutama para korban yang tinggal di sekitar Gunung Kelud. Melihat kondisi tersebut Kami tidak bisa tinggal diam, setelah koordinasi kami segera bergegas ke Kediri untuk memberikan pertolongan kepada  para korban. Selama dua minggu di Kediri suka duka selama di pengungsian menjadi pengalaman pertamaku mengabdikan diri membantu orang lain. Dua minggu sudah kami tinggal di Kediri untuk membantu para korban bencana, setelah semuanya terkondisi dengan baikdan aman kami pun bergegas untuk kembali ke Solo melakukan aktifitas seperti biasa. Namun ketika kami akan meninggalkan Kediri, ada temen mapala dari Sidoharjo yang juga menjadi relawan meminta untuk ikut ke Solo, dengan senang hati kamipun mengiyakan untuk mengajaknya  ke Solo.
             Mungkin rasa jenuh ketika menjadi relawan membuat kami ingin refreshing sejenak untuk mengembalikan semangat kami, dan akhirnya kamipun sepakat untuk mendaki Gunung Lawu. Gunung Lawu merupakan satu dari tiga Gunung yang lokasinya paling dekat dengan Kota Solo. Kebetulan tamu kami dari Sidoharjo belum pernah mendaki di Gunung ini sehingga sekalian saja kami mengantarnya. Kami berangkat dari solo jam 11 malam, untuk kemudian melakukan pendakian pagi harinya, sebelum sampai di pintu masuk Gunung Lawu di Cemoro Sewu kami sempatkan mampir ke Pasar Tawangmangu  untuk belanja sayur dan kebutuhan lain buat perjalanan besok.
Cemoro Sewu, Magetan pintu masuk G. Lawu via Jatim

. Selasa 25 Februari 2014 kami mulai pendakian ke Gunung Lawu, yang unik dari Gunung Lawu adalah gunung ini memiliki beberapa cerita masa lalu yang panjang, konon dahulu ketika kerajaan Mataram Kuno mulai runtuh, Gunung Lawu menjadi tempat persembunyian raja Mataram Kuno beserta para abdinya. sehingga Gunung Lawu sering dikunjungi masyarakat sebagai tempat untuk mengalap berkah bagi yang mempercayainya. Namun menurutku hal yang paling unik dari gunung lawu adalah keberadaan warung makan Mbok Yem yang terletak disekitar puncak. Keberadaan warung ini menjadi penyelamat bagi para pendaki yang kehabisan bekal. Tapi bukan berarti kita tidak mempersiapkan perbekalan untuk pendakian, walaupun di puncak Lawu ada warung tapi kita tetap harus membawa perbekalan sendiri dari bawah. Gunung tetap saja Gunung kita tidak boleh meremehkan atau mengabaikan karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di depan.
Puncak Triangulasi Gunung Lawu

Pukul 17.00 sore akhirnya kita sampai di warungnya mbok yem, karena hari sudah gelap kami tidak bisa melanjutkan pendakian ke puncak hari ini, akhirnya kami tahan sejenak untuk menikmati pemandangan esok hari, dan malam ini kami menginap di warungnya mbok yem.

DIKLATSAR XXXI MALIMPA 2013

|| || ,,,,,,,, || Leave a komentar

DIKLATSAR XXXI MALIMPA
oleh : Mariska Fitriani
NIA 13.30.004 MPA

Manusia takkan hidup apabila tak memiliki nyawa. Sama halnya dengan organsasi, nyawa dari suatu organisasi ialah sumber daya manusia. Organisasi tidak akan berjalan apabila tidak  memiliki sumber daya manusia (SDM). Agar organisasi berjalan dengan baik dan lancar, selain SDM yang mencukupi, juga SDM yang berkualitas. Untuk mendapak SDM yang berkualitas, tentu saja ada seleksi saat masuk dalam suatu organisasi.
MALIMPA (Mahasiswa Muslim Pecinta  Alam) merupakan unit organisasi yang terdapat di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Seperti halnya dengan organisasi-organisasi yang lain, MALIMPA juga membutuhkan SDM secara kuantitas dan kualitas. Sebagai obyek kaderisasi, MALIMPA juga setiap tahunnya mengadakan DIKLATSAR ( Penddikan dan Latihan Dasar). Tahun 2013 merupakan DIKLATSAR MALIMPA yang ke XXXI. Dalam DIKLATSAR tersebut MALIMPA mendapatkan peserta sebanyak 18 orang. Pelaksanaan DIKLATSAR XXXI ialah 10-17 November 2013. Lokasi di Dusun Tlogo Dlingo, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Pelaksanaannyapun berjalan dengan lancar tidak terjadi kecelakaan suatu apapun.
DIKLATSAR XXXI dikemas berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, DIKALTSAR kali ini, memang lebih lama dari tahun sebelumnya, selain pelaksanaanya yang tergolong lama, DIKLATSAR XXXI ini, juga ada long march yang mengharuskan peserta berjalan dari dari Tawangmangu hingga kampus UMS, perjalanan tersebut memakan waktu selama 2 hari. Setelah 6 hari di lapangan,  2 hari longmarch. Proses yang lama tersebut bertujuan untuk mendidik peserta untuk mempunyai rasa kekeluargaan. Hal tersebut sangat berguna untuk organisasi MALIMPA, karena organisasi tidak dijalankan hanya dengan satu atau dua orang saja, melainkan membutuhkan SDM yang mencukupi. Selain rasa kekeluargaan, peserta dididik untuk loyalitas. apa itu loyalitas? Loyalitas merupakan bentuk sifat setia dengan sesuatu. Seseorang yang sudah loyal dengan organisasinya, dia akan lakukan apapun demi kebaikan dari organisasi tersebut dan itu sangat diperlukan dalam menjalankan organisasi. Ada lagi hal-hal yang di ajarkan saat DIKLATSAR XXXI ini, yaitu totalitas, peseta diharapkan mampu total dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Selain itu komitmen dari peserta sangatlah diperlukan sebelum masuk di MALIMPA. Karena sebelum ikut Diklatsar, pasti peserta mempunyai tujuan yang berbeda-beda dan itu perlu diluruskan oleh operasional dan instruktur apabila dari tujuan tersebut ada yang melenceng. Setelah tujuannya diluruskan, peserta di didik untuk komitmen dengan tujuan awalnya sebelum memasuki organisasi. Dari hal-hal seperti kekeluargaan, loyalitas, totalitas, dan komitmen, memang diperlukan untuk keutuhan organisasi, apalagi organisasi di lingkup kampus yang memang tak ada yang menggaji dalam menjalankannya. Namun, semua itu akan kembali ke pelaku organisasi sendiri. Manfaat tidak didapat saat melakukan, namun saat setelah melakukan sesuatu.      
Dalam DIKLATSAR tidak hanya di ajarkan mengenai keorganisasian saja, namun juga dilatih untuk bertahan(survive), karena MALIMPA kegiatannya memang banyak di alam. Sehingga perlu adanya teknik tersendiri dalam bertahan dalam kondisi apapun. Selain itu diperkenalkan pula latihan dasar mengenai divisi gunung hutan dan panjat tebing yang memakan waktu 6 hari. Kemudian dilanjukan dengan longmarch selama dua hari dengan tujuan untuk membentuk mental peserta. Longmarch bertujuan pula meyakinkan kepada peserta  bahwa mereka itu kuat dan mampu melakukan longmarch. Sebenarnya semua orng itu mampu, tergantung mindset dari si penggiat. Jangan pernah katakan tidak mampu apabila belum mencoba. Never say i can’t do it, but say i can do it. J

MENJAMAH PANORAMA GUNUNG MERBABU BARENG CA’ANG 31 MALIMPA

|| || ,,,,,,, || Leave a komentar
MENJAMAH PANORAMA GUNUNG MERBABU
BARENG CA’ANG 31 MALIMPA
Oleh: Frendy Widjaya
NIA. 13.30.003 MPA

          Di ujung bulan september ceria 2014 adalah momen awal kami menguji fisik dengan mendaki gunung setinggi 3.145 mdpl. Gunung merbabu itulah namanya, gunung api bertipe strato ini secara administratif berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan,Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara, Provinsi Jawa Tengah.
         Pendakian ini merupakan salah satu ajang memperkenalkan alam khususnya kawasan gunung bagi para calon anggota (CA’ANG) MALIMPA 31. Dengan persiapan yang sudah dikemas secara matang sebelumnya kamipun bergegas berangkat dari sekretariat MALIMPA menuju kaki gunung merbabu sabtu siang, dengan peserta berjumlahkan 19 orang yang terdiri dari 8  anggota biasa (AB) dan 11 CA’ANG. Namun sebelumnya kegiatan ini direncanakan  bebarengan dengan 4 mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Surakarta dari negara jepang, rusia, jerman,dan satunya lagi berasal dari jordania. Dikarenakan padatnya jam kuliah dari beberapa mahasiswa asing, sehingga pada akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk bisa bergabung dalam pendakian kali ini.
Berkendarankan sepeda motor rombongan mulai mengulir gas satu persatu dengan tujuan awal base camp jalur selo. Di gunung merbabu sendiri sebenarnya terdapat beberapa jalur umum yaitu : jalur kopeng thekelan, jalur kopeng cunthel, dan jalur wekas. Namun jalur yang kita pilih ini juga tak kalah populernya dari jalur-jalur yang lainnya yaitu jalur selo.
           Sesaat sebelum sampai bascamp kami sudah dihadapkan dengan jalan yang menanjak dan sedang mengalami perbaikan dibeberapa titik, sampai-sampai peserta ada yang turun dari motor dan berjalan kaki karena motor yang dikendarai tak kuat menahan beban saat menanjak. Sesampainya dibascamp selo drigen-drigen kosong mulai diisi dengan air sumur milik penduduk setempat, digunung merbabu sendiri sangat sulit menemukan mata air maka dari itu disarankan membawa air dari bawah.
          Setelah dirasa cukup untuk mengecek perlengkapan dan melakukan proses perijinan, disore hari yang cerah rombongan memulai pendakiannya. Kurang lebih 3 jam sampailah kami di bawah pos batu tulis, disini rombongan memutuskan untuk mendirikan tenda karena cuaca sudah larut malam dan kondisi fisik peserta mulai surut. Trangia dan perlengkapan masak lainnya satu persatu dikeluarkan, koki koki kami bersiap meracik santapan untuk malam ini. Dirasa sudah cukup untuk mengisi perut yang kosong, kamipun beristirhat guna mengumpulkan tenaga untuk perjalan esok harinya.
          Fajar menyingsing, mata mulai terbuka oleh pancaran sinar matahari yang menyiratkan cahayanya dimuka bumi. Sekitar pukul 08.00 WIB kami menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa menuju puncak dan hanya sebagian yang kami bawa sisanya ditinggal dibascamp, dan 2 orang dari rombongan memutuskan menetap dibascamp dan menjaga perlengkapan yang kami tinggal. Ternyata saat kita terlelap semalam, tak sadar ada satu rombongan yang berasal dari jogja yang mendirikan tenda disamping tenda kami.
        Tanjakan-tanjakan terjal berdebu menyambut pendakian di pagi hari ini, serta jalan yang curam memaksa kami berpegangan pada tumbuhan kerdil disamping jalur. Di sela-sela nafas yang tersengal-sengal di arah sebelah selatan kami disuguhi pemandangan yang begitu menakjubkan, iya, itu adalah gunung merapi yang berdiri kokoh dengan hamparan pasir didekat puncaknya yang terlihat jelas disudut mata, lumayan sebagai hiburan untuk menambah semangat kami menuju puncak.
Rombongan kemudian beristrahat di sabana 1 untuk sedikit membuka makanan ringan dan minuman, maklum karena energi lumaya terkuras. Alang alang yang menguning sangat indah untuk dilihat, serta hamparan  yang luas  cukup apabila kita ingin mendirikan tenda disini.
         Kaki beranjak melangkah melanjutkan perjalanan yang tak berapa lama kami sampailah di sabana II. Ternyata ada teman kita dari OPA lain yang semalam beristirahat disini. Puncak sudah lumayan dekat, namun tanjakan terjal yang terlihat sangat tinggi mengingatankan kita untuk lebih berhati-hati dan menyiapkan tenaga lebih. Debu yang berterbangan begitu mengganggu penglihatan kami, dan tak jarang beberapa kali anggota rombongan terpeleset tersungkur jatuh, namun hal ini malah membuat kami tertawa dan saling ejek satu sama lain.
        Sekitar pukul 12.00 WIB tibalah kami dipuncak kentengsongo, rasa puas yang cukup mendalam masuk kedalam hati kami. Saking puasnya beberapa dari kami terplencar ada yang masih penasaran untuk melihat sekeliling puncakan, ada juga yang kemudian tertidur karena kelelahan saat pendakian. Namun saya masih sibuk membongkar peralatan masak untuk sedikit memasak makanan untuk para rombongan. Dengan cepatnya masakan sudah siap saji satu persatu anggota merapatkan barisan dan ambil posisi, dengan lahapnya seketika makanan sudah habis disantap.
        Kami tak ingin berlama lama menghabiskan waktu di sini, karena teman yang tinggal dibawah masih menunggu kedatangan  kami. Seusai berfoto foto bareng, terjunlah rombongan menuruni puncakan dengan beraneka gaya yang digunakan. Mulai dari plorotan, klesotan, jalan miring ala kepiting, pegang tangan, dan sedikit berlarian. Ditengah-tengah jalan rombongan berpapasan dengan 2 orang yang asyik dengan aktifitasnya, bercanda tawa  menikmati pendakiannya sambil membawa kantong sampah untuk memunguti sampah yang mereka temui. Mereka ini ternyata juga berasal dari solo, tepatnya mahasisawa Universitas Negeri Sebelas Maret.
       Dengan waktu turun sekitar 3 jam sampailah rombongan dibascamp tempat kami mendirikan tenda dengan 2 teman yang sudah menunggu dan menyiapakan hidangan untuk makan siang. Karena waktu yang sudah mulai sore dan agar tidak terlalu malam saat perjalanan, tak lama selesai makan semua peralatan dipacking dan segera memulai perjalanan turun kembali. Peristiwa saling berpegangan tangan untuk membantu yang lain terjadi disini, khususnya dari calon anggota yang sebagian masih pemula dengan penuh kesabaran anggota biasapun membimbing dan menemani secara hati-hati. Dan akhirnya kita telah sampai dibasecamp selo tempat kami menitipkan sepeda motor. Ternyata tak disangka begitu ramainya para pendaki lain yang ada disana berbeda dengan hari sebelumnya yang teramat sepi.
         Sepatu berbau dan berdebu terlepas dari kaki yang kaku, otot otot yang tegang mulai dilemaskan. Sejenak rehat untuk memulihkan tenaga yang terkuras seharian. Beberapa bagian tubuh dibersihkan dengan air sumur yang menyegarkan agar fokus saat perjalanan pulang. Kemudian rombongan pulang kembali ke solo, di tengah tengah perjalanan kami menyempatkan untuk mengisi perut di warung mie ayam sambil bercerita tentang momen yang baru dilalui.
Dan akhirnya diujung kegiatan ini petualangan dan pengalaman baru kita dapatkan, dari sebuah kebersamaan, kerjasama, kepedulian, dan kebulatan tekat untuk mencapai sebuah target. Sungguh pengalaman yang mengasyikan dan takkan terlupakan.


” Disaster Preparedness Training for Community “

|| || ,,,,,,,,, || Leave a komentar


ACT (Aksi Cepat Tanggap)
” Disaster Preparedness Training for Community “
            Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari gugusan kepulauan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kondisi geografis Indonesia yang dihimpit oleh Samudera Hindia dan Samudera Pasifik serta tempat bertemunya lempeng benua Asia dan lempeng benua Australia, menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran ring of fire in the world yaitu Negara yang dilewati jalur cincin api, akibatnya Indonesia sering mengalami bencana erupsi Gunung api, gempa bumi, tsunami, dsb. hal tersebut terjadi karena Indonesia sebagai titik bertemunya lempeng benua sehingga pergerakan yang ditimbulkan oleh lempeng tersebut mengakibatkan patahan, tubrukan lempeng maupun lipatan yang memicu terjadinya bencana dipermukaan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya pengetahuan untuk mengatisipasi datangnya bencana yang bisa datang kapan saja.
            Pengetahuan mengenai menejemen bencana sangat diperlukan bagi masyarakat Indonesia, untuk itu ACT (aksi cepat tanggap) sebagai salah satu lembaga dibidang kebencanaan berusaha mengenalkan pengetahuan tentang menejemen kebencanaan dalam upaya menghadapi bencana alam di Indonesia, terutama ke daerah-daerah yang berpotensi terkena dampak dari bencana tersebut seperti kota Solo. Kota Solo sebagai kota terpadat kedua di Jawa Tengah setelah kota Semarang, secara geografis terletak di sebelah timur Gunung Merapi yang hanya berjarak 45 km dari puncak Merapi, Gunung Merapi merupakan Gunung api paling aktif di dunia karena setiap tahunnya gunung tersebut memuntahkan lahar panas dan abu vulkanik atau yang biasa dikenal sebagai wedus gembel. selain Gunung Merapi kota Solo juga dilintasi sungai Bengawan Solo yang terkenal lewat lagu ciptaan Alm Gesang. Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di pulau Jawa yang mengalir ke utara sampai pesisir Tuban, walaupun kota Solo terletak di hulu sungai akan tetapi jika hujan datang air limpasan dari Bengawan Solo juga kerap merendam sebagian wilayah Kota Solo. 
            Untuk itu pada tanggal 24 November 2012, ACT menyelenggarakan seminar kebencanaan dengan tema DISASTER Preparedness training for community di hotel Agas Solo. MALIMPA mendelegasikan 5 anggotanya untuk mengikuti seminar ini untuk menambah wawasan tentang ilmu  kebencanaan. pada materi pertama dijelaskan tentang pentingnya menggerakkan potensi masyarakat lokal dalam penanganan bencana dalam perspektif CBDRM. Jadi tujuannya menciptakan masyarakat sebagai basis utama dalam penaganan bencana dan mendorong masyarakat lokal dalam penanganan bencana. dan dilanjutkan dengan pelatihan kesiapsiagaan kebencanaan berbasis kemasyarakatan. kemudian materi yang terakhir yaitu bagaimana merencanakan kontinjensi dan manajemen darurat ketika bencana itu terjadi, dalam materi ini kita diberi gambaran tentang apa itu rencana kontinjensi, kapan rencana tersebut dilakukan dan proses apa saja yang ada di dalam rencana tersebut.
            Kontinjensi merupakan suatu keadaan atau situasi yang diperkirakan akan segera terjadi, tetapi mungkin juga tidak akan terjadi. Jadi dapat disimpulkan bahwa rencana kontinjensi adalah suatu proses identifikasi dan penyusunan rencana yang didasarkan pada keadaan kontinjensi tersebut. Setelah kita mengetahui apa itu rencana kontinjensi barulah kita melakukan penyusunan rencana kontinjensi. Penyusunan rencana kontinjensi dapat dilakukan segera setelah ada tanda-tanda awal akan terjadi bencana atau ketika sudah adanya peringatan dini.

Oleh : Ali Muqodas
NIA : 09.26.001 MPA

LATIHAN POTENSI SAR SURAKARTA

|| || ,,,,,,,, || Leave a komentar

LATIHAN POTENSI SAR SURAKARTA
Latihan gabungan potensi SAR yang diselenggarakan oleh BASARNAS kantor SAR kelas A Semarang. Pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 26 – 28 Maret 2013. yang ada di surakarta di ikuti oleh 52 orang dari 29 instansi yang memiliki potensi SAR Se-karisidenan Surakarta dan sekitarnya. Hari pertama dilakukan materi kelas di kantor SAR pos Surakarta, hari kedua materi kelas setengah hari dan dilanjutkan dengan aplikasi renang di kolam renang TNI AU, dan hari terakhir dilaksanakan aplikasi materi di Waduk Cengklik, Boyolali. Latihan gabungan ini dimaksudkan untuk menjalin komunikasi antara intansi SAR yang ada di Surakarta, agar ketika melakukan operasi SAR dapat berjalan dengan baik.
Pradito Keceng
NIA 09.26.004 MPA

Wawancara dengan BASARNAS

|| || ,,,,,,,,, || Leave a komentar

Wawancara dengan BASARNAS
NARASUMBER :
Nama : Yohan
Jabatan           : Humas BASARNAS Wilayah Surakarta

Ritta    : Menurut bapak apakah pengertian bencana dan relawan ??
Yohan : Menurut saya bencana adalah perilaku atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat dan disebabkan baik oleh faktor alam atau faktor non alam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, fisik linngkungan,kerugian harta benda dan dampat psikologis. Sedangkan relawan yaitu orang yang melakukan pencarian dan pertolongan dalam keadaan darurat baik masalah pelayaran, penerbangan dan masalah lainnya yang mengancam keselamatan jiwa manusia.
Ritta    : Bagaimanakah sifat dan sikap yang harus dimiliki oleh relawan ?
Yohan   : Ya yang harus dimiliki oleh seorang relawan antara lain, skill, tanggungjawab dalam menjaga alam dan seisinya, menjunjung tinggi rasa kemannusiaan, mempunyai integritas yang tinggi mengenai tugas pokokdan fungsinya
Ritta    : Hmmm........... kemudian, apa saja tugas dan fungsi relawan ?
Yohan  : Mengenai tugas nya dapat meliputi : melaksanakan pembinaan, pengkoordinasian dan pengendalian potensi SAR dalam kegiatan SAR itu sendiri. Sedangkan fungsi nya dapat berupa : perumusan kebijakan teknisdibidang pembinaan potensi SAR dan pembinaan operasi SMC, pelaksanaan program pembinaan potensi SAR dan operasiSAR, pelaksanaaan tindak awal, pemberian bantuan SAR, koordinasi dan pengendalian operasi SAR atas otensi SAR, pelaksanan hubungan dan kerjasama dibidang potensi SAR dan operasi SAR, evaluai pemeriksaan pembinaan potensi SAR dan operasi SAR, dan yang terakhir pembinaan administrasi dari lingkungan Badan SAR nasional.
Ritta      :Oh ya pak untuk yang terakhir , apakah pesan yang akan bapak sampaikan kepada pembaca ?
Yohan   : Ya pesan saya supaya memelihara lingkungan dan tidak merusak alam, menjunjung nilai luhur kemanusiaan. Semoga ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Untuk struktur  di pos BASARNAS Surakarta, sudah berubah yang dulu Tipe B sekarang menjjadi Tipe A. Yang mana koorpos akan bertanggungjawab pada Kasi Ops. Dalam rangka melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya BASARNAS juga menyelenggarakan siaga SAR antara lain: siaga komunikasi, siaga rescue, siaga ABK, siaga Heli SAR, siaga Rescue truck.
Menurut beliau SAR adalah pencarian serta pertolongan terhadap orang ataupun material yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau meghadapi bahaya dalam pelayaran dan penerbangan serta memberikan bantuan dalam penanggulangan bencana dan musibaah lainnya sesuai dengan peraturan SAR baik mencakup nasional maupun internasional.
Yang dimaksud musibah lainnya disini adalah: musibah di di gunung/hutan, sungai, pantai, sumur, jalan raya, perkeretaapian, dan bangunan. Cara pengendalian pencarian dan pertolongan korban disini dilakukan oleh BASARNAS sebagai koordinator penyelenggaraan operasi SAR yang berkoordinasi dengan instansi/organisasi terkait dan masyarakat.
Bagian-bagian SAR meliputi:
  1. SC(SAR Coordinator: kepala Basarnas
  2. Asisten SC :   As. Op,
As Intelijen
As Komunikasi
As Administrasi Coord dan logistik
  1. SMC : SAR Mission Coord oleh kepala kantor SAR setempat
  2. Staf SMC
  3. OSC : Komandan Rescu
  4. SRU : relawan-relawan
Manajemen di dunia SAR merupakan pemberdayaan sumber daya untuk pokok dan fungsi.
Adapun manajemen yang dilakukan di dunia SAR antara lain:
  1. Ops : perencanaan sebelum pergerakan
  2. Intelijen : pengumpulan data dan analisis data
  3. Komunikasi : penggunaan alat komunikasi dan elektronik SAR
  4. Logistik : pengelolaan logistik berupa makanan, BBM, prsiapan alat-alat,tenda dll.
ü  Yang dilakukan Pra pencarian :Mengevaluasi informasi kejadian/musibah, Perniagaan failitas SAR, Pencarian awal dengan Kom, Pencarian lanjut dengan Kom, Penggerakan unsur milik sendiri, Pengusualan SMC. Sedangkan yang perlu untuk diperhatikan yaitu kesiapan dan persiapan tim SAR, Respontime (kecepatan dalam pengindraan, meminimalisasi waktu untuk datang ke lokasi secara cepat tepat .
ü  Yang dilakukan saat pencarian :Operasi pencarian tanpa pertolongan, Operasi pencarian dilanjutkan operasi pertolongan, Operasi pertolongan tanpa operasi pencarian. Yang perlu diperhatikan yaitu keselamatan diri sendiri dan skill
ü  Yang dilakuakn dalam pasca pencarian : evaluasi operasi dan pembuatan laporan, operasi diberhentikan apabila waktunya sudah mencapai 7 hari pencarian, bila korban berhasil diselamatkan, telah diyakini keadaan darurat tak terjadi.  Yang perlu diperhatikan yaitu :  meminimalisasi korban agar tak bertambah banyak, menentukan lokasi musibah yang terjadi /keakuratan letak posisi, mengevakuasi dan mnyerahkan korban ke rumah sakit.
Tolok ukur keberhasilan operasi SAR:
  1. Kecepatan: cepat menemukan lokasi dan cepat memberikan bantuan. Kecepatan penyelenggaraan operasi dihitung mulai dari kejadian dilaorkan sampai pengerahan unsur SAR oleh SMC
  2. Ketepatan : keakuratan dalam melakukan perhitungan/SAR planning
  3. Keberhasilan operasi : seberapa besar resiko korban dapat dikurangi. Dapat diukur dari banyaknya korban, biaya yang diperlukan dan manfaat yg didapat.
Beliau menyampaikan saran untuk relawan-relawan di luar sana agar tetap solid menjalankan tugas kemanusiaan serta tetap mengutamakan keselamatan diri sendiri sebelum menolong orang lain.
Oleh : Ritta Rum Rika

GOA PERTAMAKU

|| || ,,,,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar

GOA PERTAMAKU
Goa, suatu kata yang tak asing buat semua orang, tetapi apa yang ada di dalamnya hanya beberapa orang saja yang tahu dan bisa menikmatinya sepertihalnya diriku yang begitu awam tentang hal itu. Pengalamanku masuk goa pertama begitu kikuk dan sedikit ada kecemasan, ketakutan. Goa pertama yang kususuri adalah Luweng Jomblang di Semanu Gunung Kidul. Saat menuruni (Descending) rasanya agak deg-degan, gimanaa gitu.... Walaupun sebelum turun ke goa saya beserta temen-temen angkatan 29 sering latihan, tapi tetep rasa di wall dengan di dindinggoa sangat berbeda “itu menurutku”.
Di Goa Jomblang yang kami temui sebuah hutan yang terdapat di dasar sumuran sedalam ±70 m dengan lebar lebih dari 50 m menurut data dan cerita yang kita dapat, terdapatnya hutan di dasar sumuran tersebut dikarenakan colepsnya. Atap goa (runtuh) karena kikisan air atau memang batunya mulai terkikis dan rapuh oleh sebab itu hutan beserta tanah yang terdapat diatas goa terperosok ke dalam sehingga didalam ada beberapa tumbuhan yang sudah punah.
Di Goa Jomblang ternyata ada dua lorong yang satu tembus ke goa grubuk dan yang satunya nggak tahu kemana..... Kami menyusuri dan memetakan lorong sehingga tembus ke goa grubuk dan di goa grubuk kami temui ornamen goa yang cukup besar yaitu sebuah guardam dengan warna yang cukup bersih apalagi saat disoroti cahaya matahari yang masuk dari entrancenya yang orang-orang bilang cahaya surga. Guardam tersebut seperti menyatu dengan percikan air perkolasi yang menetes terus dari atas dan masih membentuk ornamen tersebut, disitulah aku sadar bahwa didalam goa memang indah dan diluar ada bak surga didalam perut bumi, hal itu membuatku ingin menyusuri goa lagi. Hari mulai gelap kami kami harus kembali kepermukaan saat menunggu teman-teman naik terdapat sensasi yang begitu unik apalagi saat menanggung dan menjadi orang terakhir didalam goa rasanya hmmmmpppp...... “MANTAP”. Kegiatan pun usai kami kembali ke desa terdekat dan berpamitan dengan kepala desa dan kembali kekampus dengan pengalaman baru dan keinginan baru.
AKIP “Mr.G”
NIA 12.29.002 MPA

ALTRUISME PADA RELAWAN MAHASISWA

|| || ,,,,,,,,, || Leave a komentar

ALTRUISME PADA RELAWAN MAHASISWA
Seiring dengan kemajuan teknologi dan komunikasi pada saat ini semakin banyak individu yang mementingkan dirinya sendiri atau berkurangnya rasa tolong menolong antara sesama. Globalisasi juga berperan membuat hubungan antar sesama manusia menjadi semakin rumit. Kerumitan ini dapat menciptakan stress dan kekerasan-kekerasan yang kadang-kadang disebabkan oleh hal-hal sepele dan aneh. Semakin berkembangnya aktivitas pada setiap orang, maka akan semakin sibuk dengan urusannya sendiri, yang memunculkan sifat atau sikap individualisme yang menjadi ciri manusia modern. Akankan budaya tolong menolong ini akan punah seiring dengan kemajuan peradaban dunia? Padahal sebagai makhluk sosial, manusia sudah ditakdirkan untuk selalu membutuhkan orang lain.
           Perilaku menolong yang mungkin diberikan kepada orang lain sangat bermacam-macam jenisnya. Ada yang disebut dengan Altruisme yaitu tindakan sukarela untuk membantu orang lain tanpa pamrih, atau ingin sekedar beramal baik, dimana tindakan yang akan digolongkan sebagai tindakan altruistik ini tergantung dari niat si penolong. Ada juga tindakan Prososial yaitu tindakan menolong orang lain yang terlepas dari motif si penolong.
            Perilaku menolong ini sangat nampak ketika pada tahun 2010 yang lalu terjadi bencana alam di Indonesia, lebih tepatnya di daerah Yogyakarta, yaitu meletusnya Gunung Merapi yang menimbulkan terjadinya pengungsian besar-besaran dari daerah yang terkena dampak letusan ke daerah yang lebih aman bagi pengungsi. Banyak sekali masyarakat di Indonesia yang serta merta ingin membantu para pengungsi, entah itu berupa bantuan logistik maupun bantuan berupa upaya terjun langsung ke lokasi pengungsian dengan menjadi relawan.
            Dari sekian banyak elemen masyarakat di Indonesia, ada juga bantuan yang datang dari mahasiswa dengan terjun langsung sebagai relawan. Salah satu universitas yang menerjunkan mahasiswanya untuk menjadi relawan adalah Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kegiatan relawan di Universitas Muhammadiyah Surakarta ini tampak pada beberapa UKM yang bergerak di pecinta alam. Sebagai contoh adalah MALIMPA atau Mahasiswa Muslim Pecinta Alam.
            Aktivitas sukarelawan yang dilakukan oleh masing-masing UKM sendiri beraneka ragam. Salah satu anggota MALIMPA, yaitu Dian Pradita dari fakultas KIP Akuntansi menjelaskan bahwa semenjak dia bergabung dalam MALIMPA ini, sudah delapan kali terjun dalam aktivitas sukarelawan. Peristiwa yang melibatkan Dian dalam aktivitas sukarelawan ini antara lain ketika bencana alam gempa bumi di Padang, Sumatera Barat dan bencana alam meletusnya Gunung Merapi tahun 2010 yang lalu. Selain itu bencana-bencana alam yang lain adalah ketika musibah banjir di sekitar Surakarta yang sering terjadi ketika musim penghujan tiba. Aktivitas sukarelawan yang dilakukan oleh MALIMPA seringkali dilakukan secara spontan, artinya ketika mendapatkan informasi tentang suatu bencana, mereka langsung menginformasikannya kepada seluruh anggota, setelah itu mereka semua berkumpul untuk membicarakan mengenai bantuan yang akan diberikan. Jika musibah yang terjadi berlangsung lama, maka akan terjadi koordinasi yang dipimpin langsung dari pusat UMS yang akan diteruskan ke masing-masing fakultas.
            Yusuf Usman, anggota dari UKM pecinta alam Rechta di Fakultas Hukum mengatakan bahwa aktivitas sukarelawan yang telah ia jalani semenjak masuk di unit kegiatan mahasiswa ini ada beberapa kali, yaitu ketika bencana alam di Merapi, kemudian banjir di Sragen dan di Bengawan Solo dan peristiwa hilangnya seorang pendaki di Gunung Lawu. Ketika melakukan aktivitas sukarelawan, Yusuf mengatakan bahwa awalnya akan diadakan koordinasi dari ketua untuk membicarakan mengenai bantuan dan mengenai siapa saja anggota yang dapat ikut serta dalam kegiatan sukarelawan tersebut.
            Aktivitas sukarelawan lain dilakukan oleh UKM Psychopala, yang diketuai oleh Hasan. Se
menjak Hasan menjadi ketua UKM ini, telah beberapa kali melakukan kegiatan sebagai seorang relawan, yaitu ketika bencana alam gunung meletus di gunung Merapi dan ketika bencana banjir di Solo Baru. Hasan mengatakan bahwa untuk melakukan aktivitas sukarelawan ini, terlebih dahulu diakukan koordinasi untuk memutuskan apakah tim dari Psychopala ini akan bekerjasama dengan tim dari universitas atau akan bergerak secara intern (hanya tim dari Psychopala).
            Dilihat dari statusnya, mahasiswa merupakan seseorang yang masih memiliki kewajiban-kewajiban yang dipikul sehingga terkadang, ketika mereka terjun sebagai relawan maka tidak jarang akan mempengaruhi atau malah meninggalkan kewajiban-kewajiban meraka. Sebenarnya apa yang melandasi mereka, para relawan mahasiswa ini untuk ikut terjun sebagai relawan? Dari penelitian yang telah saya lakukan, maka diperoleh beberapa motif yang melandasi para mahasiswa yang terjun sebagai relawan. Antara lain:
1.      Altruisme pada relawan mahasiswa terjadi akibat adanya suatu proses sebagai berikut:
a        Empati ,yaitu ketika mereka mendengar bahwa telah terjadi bencana, maka mereka merasakan suatu perasaan sedih dan terharu karena mereka membayangkan bagaimana jika merekalah yang menjadi korban dari bencana itu.
b        Setelah mereka merasakan adanya empati terhadap para korban, mereka mempunyai keinginan untuk memberikan bantuan dengan terjun langsung sebagai relawan di lokasi bencana tersebut. Bantuan yang mereka berikan antara lain berupa logistik, tenaga dan alat-alat pencarian korban.
c         Pada saat mereka terjun, banyak sekali kepentingan pribadi yang mereka korbankan seperti, mereka berada di lokasi bencana dalam waktu yang tidak ditentukan, padahal pasa saat itu mereka masih dalam masa ujian tengah semester, selain itu mereka meninggalkan masa perkuliahan yang aktif, sehingga mereka ketinggalan materi perkuliahan pada saat itu. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk meringankan beban para korban yang mereka tolong.
2.      Faktor yang mempengaruhi altruisme pada mahasiswa yang menjadi relawan adalah nilai moral, faktor tanggung jawab serta adanya norma timbal balik.
Dari dua penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa para mahasiswa yang memutuskan untuk terjun sebagai relawan, mereka memang hanya mempunyai motif untuk meringankan beban atau penderitaan orang lain. Dengan demikian, walaupun perkembangan dunia semakin pesat, hal ini tidak akan menghilangkan budaya menolong orang lain, karena manusia memang ditakdirkan untuk saling membutuhkan.
Menjadi Relawan
Relawan bencana sangatlah dibutuhkan dalam sebuah bencana, baik dalam bencana skala kecil maupun bencana skala besar. Menjadi seorang relawan itu sangatlah mudah, tinggal bagaimana kita sendiri menyikapinya. Untuk menjadi seorang relawan ada beberapa hal yang harus dilakukan, antara lain:
1.      Mempersiapkan diri sendiri dahulu sebelum menolong, baik secara fisik dan mental.
2.      Memiliki keterampilan untuk bisa menolong korban yang luka dan melengkapi diri Anda dengan alat-alat P3K.
3.      Mencoba bergabung dengan relawan yang lain dan saling tukar pikiran cara-cara menolong korban.
4.      Harus bisa disiplin dan bisa bekerja sama antar relawan yang satu dengan yang lain.
5.      Hilangkan keegoisan.
6.      Bersunggung-sungguh.
7.      Ikhlas dalam menolong korban tanpa mengharapkan suatu imbalan.
Nah dari uraian di atas bukankah mudah bagi kita untuk menjadi seorang relawan.

Penulis : Hapsari, Monica Mundi (2011) Altruisme pada Relawan Mahasiswa Skripsi, Thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta

KAJIAN ROHANI DAN KOORDINASI PKD

|| || ,,,,,,,,,,, || Leave a komentar

KAJIAN ROHANI DAN KOORDINASI PKD

Dibulan puasa tahun ini, MALIMPA mengadakan kegiatan KAJIAN ROHANI  yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan KOORDINASI PKD yang dihadiri teman-teman MAPALA Tingkat Universitas Se-Jateng. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 18 Juli 2013 di area kampus 1 UMS. Tema untuk kajian rohani adalah Pecinta Alam dalam pandangan Islam  dengan pembicara Drs. M. Yusron M.Ag dosen Fakultas Agama Islam-UMS atau yang sering disebut dengan panggilan bang Otong.

Kado Kecil untuk MALIMPA dan LINGKUNGAN

|| || ,,,,,,,, || Leave a komentar

Kado Kecil untuk MALIMPA dan LINGKUNGAN

Dengan melihat kondisi lingkungan yang sekarang iki semakin tercemari oleh limbah-limbah yang disebabkan oleh manusia, anggota MALIMPA mengadakan beberapa rentetan acara yang cukup besar untuk memperingati hari jadi MALIMPA yang ke-34 tahun. Acara yang dilakukan bernuansa tentang alam, sesuai dengan kehidupan dimana kita berpijak. Dengan kegiatan ini nanti, diharapkan anggota MALIMPA dan semua manusia yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini maupun masyarakat luas dapat lebih peduli dengan lingkungan alam. MALIMPA membuat 3acara yang dilaksanakan dalam 1 bulan, yaitu MILAD KE-34 MALIMPA, SEMINAR NASIONAL dan LOMBA FOTOGRAFI.
Kegiatan yang pertama adalah LOMBA FOTOGRAFI yang dilakukan pendaftaran dan pengumpulan foto pada hari Selasa, 21 Mei 2013 dengan tema “ Pencemaran Lingkungan”. Dari 11 peserta yang daftar dan tiap peserta mengirimkan lebih dari 2 foto, hanya 3 yang menjadi pemenang yaitu juara 1 adalah Andy Achmad Romadhoni dari Semarang , juara 2 adalah Apris Nur Rakhmadani dari purwokerto , juara 3 adalah, Apris Nur Rakhmadani dari purwokerto juga dari hasil foto pemenang-pemenang itu, dipulikasikan pada MILAD MALIMPA yang ke-34 tahun.
Kegiatan yang kedua adalah Seminar Nasional dengan TEMA “PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN : ANTARA ATURAN DAN KEBIJAKAN”. Kegiatan seminar ini dilakukan pada hari Rabu, tanggal 22 Mei 2013 di Auditorium Muhammad Djazman-UMS. Dengan 3 pembicara, yaitu : (1) Bapak H.Ibnu Multazam dari DPR RI KOMISI IV yang kebetulan juga beliau alumni UMS juga, beliau membahas tentang “Aturan dan Kebijakan pemerintah dengan adanya AMDAL secara transparansi, yaitu  aturan dan kebijakan seperti apa yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam meminimalisir pencemaran lingkungan”. (2) Ibu Dr. I Gusti Ayu K R H, SH, MM dari dosen Fak.Hukum UNS, beliau membahas tentang “Pandangan dari Sudut Pandang Akademik dan Tinjauan Hukum Lingkungan mengenai AMDAL yang sudah diberlakukan oleh pemerintah disekitar kita”. (3) Bapak Istianto, SS dari LSM Hijau Bumi Manusia, beliau membahas tentang “Pandangan Masyarakat mengenai AMDAL yang sudah diberilakukan oleh pemerintah, pandangan masyarakat dengan terjadinya pencemaran lingkungan”. Untuk pesertanya pun bersifat nasional dan umum dari kalangan OPA, SISPALA, MAPALA, DINAS, dan masyarakat sekitar.

Kegiatan yang ketiga adalah MILAD MALIMPA yang ke-34 tahun, dimana kita sebagai anggota MALIMPA mengadakan malam tasyakuran untuk memperingati hari jadi organisasi kita ini pada hari Jum’at, 24 Mei 2013 yang dihadiri oleh MAPALA se-Surakarta, jogja dan semarang, MAPALA PTM, dan SISPALA, SAR, dan Dinas yang berhubungan dengan MALIMPA. Diacara malam tasyakuran itu mengambil tema “ Lintas Generasi Menggapai Asa, Limitless Journey” dengan mengadakan pameran foto hasil lomba foto yang dilakukan beberapa hari sebelum kegiatan dan menyuguhkan penampilan lucu dari teman-teman PPL-IAIN Surakarta. Suasana yang meriah dan hangat itu berjalan dengan lancar di dalam GOR kampus 2 UMS.
Dengan adanya ke-3 kegiatan itu, MALIMPA mengharapkan bertambahnya kesadaran anggota MALIMPA dan semua orang yang mengikuti acara maupun yang membaca tulisan ini lebih peduli akan lingkungan sekitar. Peduli dan sadar untuk tidak menambahi pencemaran lingkungan ini dengan tingkah laku kita yang merugikan lingkungan. Bagi yang ingin lebih tahu tentang pembahasan dalam seminar nasional yang diadakan MALIMPA bisa datang ke MALIMPA.
Oleh : Novia_Suwastika
NIA 11.28.003 MPA

PUBLIKASI PPA dan MASTA 2013

|| || ,,,,,,,, || Leave a komentar

PUBLIKASI  PPA dan MASTA 2013

Setiap tahunnya MALIMPA mengadakan kegiatan publikasi rutin yang diselenggarakan untuk memperkenalkan MALIMPA kepada mahasiswa mabu UMS dan sekaligus rekuitmen bagi MALIMPA dan penyampaian pesan-pesan lingkungan hidup. Kegiatan publikasi tersebut ialah MASTA(Masa Ta’aruf) yang dilakukan pada tanggal 21-22 dan 22-23 Agustus 2013 dan PPA(Perkenalan Program Akademik) dilaksanakan pada tanggal 28-31 Agustus 2013. Dengan adanya kegiatan ini. Antusias mahasiswa baru untuk mengikuti Organisasi MALIMPA sangat besar, terbukti dengan banyaknya pendaftar ± 600 orang.

Baca Artikel Lain: