Lomba Wana Lestari dan Prima Wana Mitra
Home » Posts filed under konservasi
Tampilkan postingan dengan label konservasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konservasi. Tampilkan semua postingan
Lomba Wana Lestari dan Prima Wana Mitra
catok001 || || konservasi,Malimpa,Malimpa Solo,Malimpa UMS,malimpa ums solo,Mapala,Mapala PTMSI,pecinta alam,Solo,UMS,universitas muhammadiyah surakarta || Leave a komentarMeru Betiri Sevice Camp XV (MBSC) 2014
catok001 || || Aktifitas,aktivitas,Jejak Langkah,kegiatan lain,konservasi,Malimpa,Malimpa Solo,Malimpa UMS,malimpa ums solo,Mapala,Mapala PTMSI,Solo,UMS,universitas muhammadiyah surakarta || Leave a komentar
MBSC
(Meru Betiri Service Camp) merupakan salah satu bentuk pendidikan dan
pelatihan kader konservasi dalam memasyarakatkan kesadaran akan
pentingnya konservasi sumber daya alam di masyarakat. Kader
konservasi merupakan mitra pembangunan yang diharapkan mampu berperan
serta dalam upaya mewujudkan masyarakat yang mencintai alam dan
lingkungannya.
Kegiatan
MBSC XV ini juga merupakan salah satu program kerja Taman Nasional
Meru Betiri yang bekerjasama dengan WIPAB (Wadah Informasi Pecinta
Alam Se Eks-karasidenan Besuki) yang di selenggarakan di pantai
Sukamade, Banyuwangi, Jawa Timur. Kegiatan berlangsung dari tanggal
18 November s/d 22 November 2013 dengan peserta
dari MAPALA dan OPA se-Indonesia. MBSC
XV dan kegiatan
sejenisnya memiliki arti serta peran yang sangat penting. Karena
dalam kegiatan tersebut para peserta diberi pembekalan dengan
berbagai pengetahuan dasar mengenai pelestarian hutan dan lingkungan
serta diberi kesempatan untuk bersentuhan langsung dengan
praktek-praktek pengelolaan kawasaan konservasi seperti contoh
berikut :
1. Kehutanan Umun 6. Advokasi Lingkungan
2. Interpretasi 7. Pengamatan Burung
3. Analisa Vegetasi 8. Pengamatan Penyu
4. Jurnalistik Lingkungan 9. Tanaman Obat
5. Ekowisata 10. Raflesia dll.
2. Interpretasi 7. Pengamatan Burung
3. Analisa Vegetasi 8. Pengamatan Penyu
4. Jurnalistik Lingkungan 9. Tanaman Obat
5. Ekowisata 10. Raflesia dll.
Pada
kesempatan pengamatan penyu peserta di suguhi aksi menarik serta
langka dari kedatangan seekor penyu hijau (Chelonia
mydas) berukuran sekitar ± 40 cm yang
berlabuh untuk bertelur di pantai sukamade pada malam hari. Ketika
penyu hijau (Chelonia mydas)
masih muda mereka makan berbagai jenis biota laut seperti cacing
laut, udang remis, rumput laut juga alga. Ketika tubuhnya mencapai
ukuran sekitar 20-30 cm, mereka berubah menjadi herbivora dan makanan
utamanya adalah rumput laut. Penyu hijau (Chelonia
mydas) di pantai sukamade merupakan salah
satu penyu yang paling produktif dan intensitas kedatangan yang
relatif tinggi diantara 7 jenis penyu laut yang ada di seluruh dunia
, seperti : penyu sisik (Eretmochelys imbricata),
penyu lekang (Lepidochelys olivaceae),
penyu belimbing (Dermochelys coriaceae),
penyu pipih (Natator depressus), penyu
tempayan (Caretta caretta),
dan penyu kempi (Lepidochelys kempi). Penyu
pantai sukamade TN.Meru Betiri mengundang ketertarikan wisatawan
yang sangat luar biasa, tidak hanya wisatawan domestik melainkan
wisatawan dari manca negara yang berbondong-bondong mengunjungi TNMB
(Taman Nasional Meru Betiri) untuk melakukan penelitian maupun riset
atau hanya sekedar berekreasi.
Di dalam kawasan konservasi TN.Meru Betiri juga terdapat spesies raflesia endemik yang dapat di jumpai yaitu Rafflesia zollingeriana kds (patmo sari). Rafflesia zollingeriana dapat tumbuh pada akar dan batang inang Tetrastigma lanceolarium dan Tetrastigma papillosum. Pada umumnya Rafflesia zollingeriana hidup mulai dari kaki bukit sampai lereng-lereng bukit sebelah atas. Kemiringan tempat tumbuh 85 %, ketinggian mulai dari 1 – 270 m dpl dan jarak garis pantai berkisar 9 – 1000 m. Guna mengantisipasi kerusakan yang biasa di lakukan oleh hewan liar seperti babi hutan dan landak, maka para petugas TN.Meru Betiri membuat kurungan kecil dari besi untuk menutupi Rafflesia zollingeriana agar terhindar dari pemangsanya.
Selain
itu, Pak Chuk S. Widarsa wartawan dari detik.com juga turut andil
dalam mengisi materi Jurnalistik Lingkungan pada MBSC XV kali ini.
Jurnalistik adalah Suatu kegiatan mengelola
berita yang dimulai dari mengumpulkan fakta dan data atau meliput
suatu peristiwa, menyusun, menerbitkan, dan menyebarkan.
Dari sini pak Chuk mengajarkan kepada peserta untuk selalu
mengoptimalkan media dalam semua kegiatan dan ditindak lanjuti
melalui pers realese. Seperti
yang pernah dilakukan oleh TN.Meru Betiri dalam kegiatan Ekspedisi
Harimau Jawa yang ada di kawasan konservasi TN.Meru Betiri, dengan
data yang menarik serta konsepan penyusunan dan penyebaran yang baik.
Sempat menyabet urutan 5 besar terbaik persembahan TN.Meru Betiri
dalam Eagles Word di Metro TV.
Dari semua itu, pada kesempatan Meru Betiri Service Camp XV (MBSC) kali ini peserta dapat mempelajari ilmu konservasi yang sangat penting bagi seorang pecinta alam. Sarana awal untuk membangun penyadartahuan konservasi dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang secara bijak. Sehingga dengan harapan besar kelak akan lahir kebulatan tekad untuk berbuat yang lebih baik bagi keselamatan alam serta kehidupan yang ada di dalamnya untuk kelestarian dan sebagai warisan kepada anak cucu kita dimasa yang akan datang.
Frendy
Widjaya
NIA 13.30.003 MPA
NIA 13.30.003 MPA
Menjamah Rimbanya Pegunungan Yang, Kab. Situbondo
catok001 || || Aktifitas,Jejak Langkah,konservasi,Malimpa,Malimpa Solo,Malimpa UMS,malimpa ums solo,Mapala,Mapala PTMSI,pecinta alam,Tanah Air,universitas muhammadiyah surakarta || Leave a komentar
Eksplorasi Flora
fauna di Pegunungan Yang
Sejak pendakian yang terakhir
pada tahun 2010 yang lalu, baru-baru ini MALIMPA kembali mengagendakan
pendakian ke Gunung Argopuro dan puncak Dewi Rengganis, pada tahun 2010 lalu
pendakian melalui jalur Baderan dan turun Bremi, lain halnya dengan pendakian
kali ini yang menggunakan jalur bremi sebagai start awalnya dan turun di Baderan, Kab. Situbondo. “ pendakian ini
kami lakukan tidak hanya sekedar naik gunung saja, tapi fokus utama kegiatan
ini adalah eksplorasi Flora dan Fauna di jalur pendakian”. Kata Ketua Tim
pendakian Frendy Wijaya. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 10-16 Februari
2014 mendapat respon yang cukup baik dari pengurus MALIMPA, Ketua Umum MALIMPA
periode 2014 Akip Saputra. mengungkapkan
“ sudah sepatutnya kita sebagai pecinta alam melestarikan keaneka ragaman flora
dan fauna yang ada di alam agar tidak semakin rusak, harapannya dengan kegiatan
semacam ini kecintaan kita terhadap lingkungan dapat menyadarkan kita akan pentingnaya
menjaga dan melestarikan lingkungan ”
Kegiatan ini melibatkan 5 anggota
MALIMPA yang sebelumnya telah melalui proses fisik dan materi tentang Flora
Fauna, setelah mendapat ijin dari pengurus MALIMPA akhirnya Tim siap untuk diberangkatkan. Dalam ekslorasi hari pertama kami
melewati hutan homogen yang didominasi pohon damar, selanjutnya hutan basah disekitaran danau taman hidup. Danau
taman hidup merupakan telaga alami yang terbentuk karena depresi pegunungan
disekitarnya yang membentuk cekungan sehingga hujan yang turun akan tertampung
di telaga ini. Keberadaan danau taman hidup menjadi tumpuan bagi keberlangsungan
ekosistem di kawasan ini. Perjalanan dilanjutkan menuju ke Cisentor, untuk
sampai di Cisentor kita akan melewati hutan pinus yang merupakan habitat monyet
hitam ekor panjang atau lutung dan babi hutan, disamping itu para pendaki harus
sedikit berhati-hati jika melewati daerah ini, karena disepanjang jalur
pendakian terdapat tanaman “Jancukan”
yang biasa penduduk sekitar menyebutnya. Tanaman Jancukan ini jika terkena kulit maka kulit akan terasa panas dan
gatal seperti tersengat lebah.
Setelah sampai di Cisentor, yaitu
pertigaan antara ke Bremi, Puncak, dan Baderan, Tim kami pun mendirikan camp
disini agar lebih dekat dengan puncak Argopuro dan Dewi Rengganis. Keesokan
harinya perjalanan dilanjutkan ke Puncak Argopuro dan Dewi Rengganis. Setelah puas
Foto-foto kamipun langsung turun menuju Sikasur untuk kemudian ke Baderan. Di
sepanjang perjalan antara puncak ke Sikasur, medan yang dilewati didominasi
padang sabana yang luas, di daerah ini juga banyak ditemukan burung merak, karena
padang sabana merupakan habitat yang baik untuk burung merak. Kami hanya
mengambil gambar dan mengambil beberapa bulu merak yang rontok untuk dijadikan
sampel, karena burung merak dilindungi oleh Negara maka burung ini tidak boleh
di buru atau diperdagangkan. Konon Sikasur dulunya merupakan bekas bandara
militer jepang ketika menjajah Indonesia, saat ini pun masih dapat kita lihat bekas
Run way bandara berselimutkan padang
rumput dan beberapa bekas bangunan yang telah rusak. Vegetasi di sini merupakan
padang sabana yang luas dan terdapat mata air yang ditumbuhi selada air. Setelah
menginap semalam di Sikasur perjalanan kami lanjutkan menuju Baderan, vegetasi
selanjutnya merupakan hutan hujan yang dihuni burung - burung kecil dan monyet.
Disepanjang perjalanan jalur yang kami
lalui terlihat bekas tapak ban motor berukuran 2-3 cm sehingga sedikit
menyulitkan perjalanan kami. Menurut masyarakat setempat biasanya para penduduk
mengambil selada air di Sikasur menggunakan sepeda motor untuk kemudian dijual
di pasar. Perlu keberanian dan ketrampilan yang lebih dalam mengendarai motor di
jalur ini karena medan yang dilalui lumayan terjal dan berjurang.
Akhirnya perjalanan telah sampai
di ladang penduduk, cukup mengherankan memang karena daerah yang semula berupa
hutan hujan dan bergunung-gunung disulap menjadi ladang oleh penduduk sekitar. Ironisnya
praktek semacam ini masih berlangsung hingga saat ini, sebelum melewati ladang
tadi memang terdengar suara gergaji mesin yang bersaut-sautan di tengah hutan,
sehingga saya yakin, cepat atau lambat daerah bekas penebangan pohon tadi akan
berubah menjadi ladang. Sebagai masyarakat yang perduli terhadap kelestarian
lingkungan sudah seharusnya praktek semacam ini harus dihentikan karena akan
merusak habitat makhluk hidup yang ada di Pegunungan Yang ini.
Transportasi
Perjalanan ke Gunung Argopuro via
Bremi kami menggunakan transportasi umum, dimulai dari Solo ke Surabaya armada yang
kami gunakan adalah Bus umum, kurang lebih waktu tempuh 5 ½ jam, dilanjutkan dengan
Bus jurusan Banyuwangi, dari terminal Bungurasih di Surabaya turun di terminal
lama Probolinggo atau langsung ke Pajarakan sekitar 2 jam. Jika turun di
terminal lama akan dilayani Bus ke arah Bremi yang hanya ada pada jam 06.00
pagi dan 12.00 siang, namun apabila diluar jam tersebut saya sarankan untuk
naik bus dari Surabaya turun di Pajarakan karena terdapat angkutan umum yang juga
melayani sampai ke Bremi.
Lama pendakian
Setelah turun di Bremi segera
lapor ke Polsek Krucil yang ada di desa Bremi, letaknya tidak jauh dari gerbang
masuk kawasan pegunungan Yang, setelah melapor kita bisa langsung melakukan
pendakian. Perjalanan dimulai dari Bremi ke Taman Hidup, jalur ini melewati
perkebunan warga, hutan produksi, baru kemudian hutan basah. Disamping tracknya
lumayan terjal juga banyak pohon tumbang yang menghalangi jalan, sehingga
sedikit menyulitkan bagi para pendaki yang melintas. waktu tempuh dari Bremi ke
Taman Hidup kurang lebih 4 jam. Setelah sampai di Taman Hidup Saya sarankan
untuk mendirikan camp di sini karena perjalanan dari Taman Hidup ke Aeng
Kenek lumayan panjang yakni sekitar 6 ½ jam,
perjalanan dari Aeng Kenek ke Cisentor kurang lebih 3 ½ jam melewati hutan
pinus dan semak – semak, disekitar Aeng Kenek terdapat aliran sungai yang jernih
airnya, tapi harap berhati – hati jika kulit menyentuh tanaman “Jancukan” karena
di Aeng Kenek paling banyak ditemukan tanaman ini. Selanjutnya perjalanan antara
Cisentor dan Puncak anda akan melewati Rawa Embik, di Rawa Embik ini menjadi alternative
bagi para pendaki untuk mendirikan tenda, karena di sini terdapat aliran sungai
yang mengalir ke Cisentor, untuk mencapai puncak Gunung Argopuro dan Puncak Dewi
Rengganis pun jauh lebih dekat jika dibanding mendirikan camp di Cisentor. Jika
akan turun lewat Baderan, Cisentor merupakan pertigaan antara Bremi, Puncak,
dan Baderan. Sehingga setelah di Cisentor anda harus menyeberang sungai
kemudian mendaki sedikit menanjak baru kemudian sampai di padang sabana menuju
ke camp berikutnya di Sikasur. Perjalanan
dari Cisentor ke Sikasur hanya 2 jam perjalanan dengan medan landai. Di Sikasur
cocok untuk mendirikan camp karena dekat
dengan mata air. Baru setelah dari Sikasur ke Baderan membutuhkan waktu sekitar
7 jam.
Narasi : Ali Muqodas
Puisi
winathaa || || konservasi,Malimpa,Malimpa Solo,Malimpa UMS,malimpa ums solo,Mapala,Mapala PTMSI,pecinta alam,UMS,universitas muhammadiyah surakarta || Leave a komentar
" Alamku Kini "
Hamparan bumi luas menghijau
hanya tinggal kenangan semu
kini ku merindukanmu....
Alam yang indah nan memepesona
padi menguning laksana kilauan emas
kau hilang entah kemana, tiada kumengerti
kini yang ada gedung tinggi pencakar langit
Gemericik air sungai mengalir jernih
banyak ikan bukan sampah yang menghuni
kini hilang entah kemana, tiada ku mengerti
yang ku tahu hanyalah banjir, banjir dan
banjir
Kicauan burung menyambut mentari
sahut menyahut menambah pesona pagi
kini hilng entah kemana kau yang dulu
yang aku tau kau berada di sangkar emasmu
Bumiku tercinta...
dimanakan kau yang dulu....
Ritta Rum Rika, NIA 12.29.016 MPA
Potensi Kawasan Karst
Blog Resmi Malimpa || || Artikel,caving,konservasi,Malimpa,malimpa ums solo,Mapala,Mapala PTMSI,universitas muhammadiyah surakarta || Leave a komentar
Dewasa ini permasalahan kerusakan lingkungan cukup santer dan menjadi pembicaraan dalam keseharian masyarakat salah satunnya tentang kerusakan kawasan karst. Pada kesempatan ini saya coba mengulas tentang penanggulangan serta pemanfaatan kawasan karst di sekitar kita.
Mungkin beberapa dari kita masih kurang tahu dengan apa yang dimaksud dengan karst serta kawasan karst tersebut, menurut diktat Hikespi Kawasan karst - ialah suatu bentangalam yang menampakkan karakteristik relief dan drainase yang khas, terutama disebabkan oleh derajat pelarutan batu-batuannya di dalam air, yang lebih tinggi dari kawasan lain atau dengan kata lain Karst ialah suatu bentang alam formasi batuan karbonat (CaCO3, MgCO3 atau campuran keduanya) yang telah mengalami proses pelarutan. Batuan karbonat terlarut oleh asam karbonat (H2CO3) yang terbentuk akibat interaksi air hujan dengan CO2 atmosferik maupun oleh CO2 biogenik, yang berasal dari sisa tanaman yang membusuk (humus) diatas permukaan tanah.
Setelah kita tahu pengertian tentang karst selanjutnya coba kita ulas tentang apa saja manfaat serta potensi kawasan karst tersebut, biasanya bila dengar kata karst pikiran kita langsung terbayang daerah yang gersang dan tandus tapi perlu kita tahu bahwa daerah karst memiliki manfaat yang cukup besar contohnya menyimpan air yang melimpah di bawah batuan karst hal ini dapat kita lihat sebagian besar yang terdapat pada kawasan karst memiliki sungai bawah tanah, genangan air dalam goa (sifon) entah dalam jumlah besar atau kecil dari situ kita bisa asumsikan bahwa daerah kasrt merupakan salah satu cadangan atau tampungan air di kawasan sekitarnya selain itu “kawasan karst juga mampu menyerap carbon dioksida (CO2) yang ada di atmosfir” pernyataan ini dikemukakan oleh Dr. Eko Haryono Dosen Fakultas Geografi UGM dalam presentasi yang disampaikannya dalam acara SKE (saincetifik karst ekploration ke-2 ) yang dilaksanakan MAPALA LAWALATA IPB September 2013 lalu contohnya kawasan karst jawa mampu menyerap carbon sebanyak 291.110,7 ton carbon/tahun setara dengan 1,16 juta ton CO2 / tahun dari data itu bukankah cukup fantastis. Tak hanya itu kita dapat mengetahui iklim dari beberapa ratus tahun yang lalu dengan menggunakan speleotem yang terdapat didalam goa. Selain manfaat itu kawasan karst juga memiliki beberapa potensi yaitu potensi wisata bentang alam dan keindahannya selain itu juga potensi sebagai bahan baku semen dan gamping.
Dalam pengembangan dan pemanfaatan kawasan karst kita harus mengacu pada azas manfaat dan lestari. Pemanfaatannya harus sesuai dengan daya dukung dari kawasan tersebut sehingga dapat tercapai keberlanjutan dalam pemanfaatannya. Pengembangan kawasan karst tidak terlepas dari pertimbangan – pertimbangan missal potensi, hukum serta peraturan-peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Tidak hanya itu pengembangan kawasan karst harus mempertimbangkan keberadaan manusia dan kegiatan mereka pada wilayah tersebut, Sesuai dengan bahasan sebelumnya Pemanfaatan daerah karst harus mempertimbang beberapa aspek yaitu pertanian, periwisata, daerah pemukiman, serta pemanfaatan sumber air . pertanian didaerah karst biasanya terdapat peda daerah – daerah depresi atau doline dan polje dikarenakan daerah – daeah tersebut yang biasanya terakumulasi tanah sehingga dapat di manfaatkan sebagai lahan pertanian selain doline dan polje ada juga yang menggunakan lereng-lereng perbukitan. Pariwisata pada daerah karst memanfaatkan adanya goa, dikarenakan daerah karst biasanya di pesisir pantai maka pemanfaatan kawasan tersebut tidak jauh dari itu. Pemukinan merupakan faktor yang sangat penting oleh kerena itu pemukiman dikawasan karst harus ditata dan di atur agar kawasan – kawasan yang harus dilindungi dapat terjaga dan lestari. Pemanfaatan sumber air pada dasarnya semua makhluk hidup pasti butuh air oleh sebab itu air sangat penting dan menjadi kebutuhan utama. Pada masyarakat kawasan karst sumber air mereka adalah air bawah tanah dan telaga oleh karena itu keberadaannya harus terjaga dan dilindungi. Salah satu pengembangan daerah karst adalah pertambangan akan tetapi dalam pengambilan keputusan serta kebijakan harus tetap mengikuti dengan acuan yang telah di jelaskan diatas “yaitu azas manfaat dan lestari” serta kita harus lebih melihat permasalah – permasalahan yang akan timbul ketika keputusan tersebut berjalan.
Mungkin beberapa dari kita masih kurang tahu dengan apa yang dimaksud dengan karst serta kawasan karst tersebut, menurut diktat Hikespi Kawasan karst - ialah suatu bentangalam yang menampakkan karakteristik relief dan drainase yang khas, terutama disebabkan oleh derajat pelarutan batu-batuannya di dalam air, yang lebih tinggi dari kawasan lain atau dengan kata lain Karst ialah suatu bentang alam formasi batuan karbonat (CaCO3, MgCO3 atau campuran keduanya) yang telah mengalami proses pelarutan. Batuan karbonat terlarut oleh asam karbonat (H2CO3) yang terbentuk akibat interaksi air hujan dengan CO2 atmosferik maupun oleh CO2 biogenik, yang berasal dari sisa tanaman yang membusuk (humus) diatas permukaan tanah.
Setelah kita tahu pengertian tentang karst selanjutnya coba kita ulas tentang apa saja manfaat serta potensi kawasan karst tersebut, biasanya bila dengar kata karst pikiran kita langsung terbayang daerah yang gersang dan tandus tapi perlu kita tahu bahwa daerah karst memiliki manfaat yang cukup besar contohnya menyimpan air yang melimpah di bawah batuan karst hal ini dapat kita lihat sebagian besar yang terdapat pada kawasan karst memiliki sungai bawah tanah, genangan air dalam goa (sifon) entah dalam jumlah besar atau kecil dari situ kita bisa asumsikan bahwa daerah kasrt merupakan salah satu cadangan atau tampungan air di kawasan sekitarnya selain itu “kawasan karst juga mampu menyerap carbon dioksida (CO2) yang ada di atmosfir” pernyataan ini dikemukakan oleh Dr. Eko Haryono Dosen Fakultas Geografi UGM dalam presentasi yang disampaikannya dalam acara SKE (saincetifik karst ekploration ke-2 ) yang dilaksanakan MAPALA LAWALATA IPB September 2013 lalu contohnya kawasan karst jawa mampu menyerap carbon sebanyak 291.110,7 ton carbon/tahun setara dengan 1,16 juta ton CO2 / tahun dari data itu bukankah cukup fantastis. Tak hanya itu kita dapat mengetahui iklim dari beberapa ratus tahun yang lalu dengan menggunakan speleotem yang terdapat didalam goa. Selain manfaat itu kawasan karst juga memiliki beberapa potensi yaitu potensi wisata bentang alam dan keindahannya selain itu juga potensi sebagai bahan baku semen dan gamping.
Dalam pengembangan dan pemanfaatan kawasan karst kita harus mengacu pada azas manfaat dan lestari. Pemanfaatannya harus sesuai dengan daya dukung dari kawasan tersebut sehingga dapat tercapai keberlanjutan dalam pemanfaatannya. Pengembangan kawasan karst tidak terlepas dari pertimbangan – pertimbangan missal potensi, hukum serta peraturan-peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Tidak hanya itu pengembangan kawasan karst harus mempertimbangkan keberadaan manusia dan kegiatan mereka pada wilayah tersebut, Sesuai dengan bahasan sebelumnya Pemanfaatan daerah karst harus mempertimbang beberapa aspek yaitu pertanian, periwisata, daerah pemukiman, serta pemanfaatan sumber air . pertanian didaerah karst biasanya terdapat peda daerah – daerah depresi atau doline dan polje dikarenakan daerah – daeah tersebut yang biasanya terakumulasi tanah sehingga dapat di manfaatkan sebagai lahan pertanian selain doline dan polje ada juga yang menggunakan lereng-lereng perbukitan. Pariwisata pada daerah karst memanfaatkan adanya goa, dikarenakan daerah karst biasanya di pesisir pantai maka pemanfaatan kawasan tersebut tidak jauh dari itu. Pemukinan merupakan faktor yang sangat penting oleh kerena itu pemukiman dikawasan karst harus ditata dan di atur agar kawasan – kawasan yang harus dilindungi dapat terjaga dan lestari. Pemanfaatan sumber air pada dasarnya semua makhluk hidup pasti butuh air oleh sebab itu air sangat penting dan menjadi kebutuhan utama. Pada masyarakat kawasan karst sumber air mereka adalah air bawah tanah dan telaga oleh karena itu keberadaannya harus terjaga dan dilindungi. Salah satu pengembangan daerah karst adalah pertambangan akan tetapi dalam pengambilan keputusan serta kebijakan harus tetap mengikuti dengan acuan yang telah di jelaskan diatas “yaitu azas manfaat dan lestari” serta kita harus lebih melihat permasalah – permasalahan yang akan timbul ketika keputusan tersebut berjalan.




