Tampilkan postingan dengan label Tanah Air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanah Air. Tampilkan semua postingan

Bara PLTU Batubara

|| || ,,,,,,,,,, || Leave a komentar


Pernah dengar nama kota Batang sebelumnya?

Saya sering harus menjelaskan dengan lebih detil mengenai letak administratif kota kabupaten yang berumur 48 tahun tepat di tanggal ini, 8 April. Batang adalah kabupaten asal saya. “Sebelah timur Pekalongan, setelah Semarang dan Kendal,” atau “Pernah dengar Alas Roban?” Begitulah saya acap kali menjelaskan dimana letak Batang kepada mereka yang awam mengenai Batang Berkembang.

Batang selalu berada dibalik bayang-bayang Pekalongan karena Batang pernah menjadi bagian dari Pemerintahan Kabupaten Pekalongan semenjak 1 Januari 1936. Awalnya Batang adalah sebuah kabupaten yang berdiri sendiri sedari abad 17 hingga penghujung tahun 1935. Atas dasar itulah, muncul gagasan untuk menjadikan kembali Batang sebagai sebuah Kabupaten terlepas dari pemerintahan Kabupaten Pekalongan. Proses tersebut berjalan cukup alot hingga menghabiskan waktu hampir dua dasawarsa, terhitung dicetuskan pertama kali pada tahun 1946 dan berbuah hasil di tahun 1965.
Batang memang tidak setenar Pekalongan, saya akui. Namun saya tidak akan terus membanding-bandingkan antara Batang dan Pekalongan, ataupun membahas sisi historis Batang. Hanya saja, hampir tiga tahun belakangan ini, Batang tiba-tiba menjadi buah bibir mengalahkan pamor si kota Batik. Ada apa gerangan?

Ya betul. Pembangunan PLTU Batubara berkapasitas 2000 megawatt yang digadang-gadang akan menjadi PLTU terbesar se-Asia Tenggara di pesisir Ujungnegoro-Roban, Kabupaten Batang inilah penyebabnya. Tepatnya sejak tahun 2011 silam, pemerintah Indonesia mencanangkan sebuah program ambisius bertajuk Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3I). Pembangunan PLTU Batubara Jawa Tengah ini adalah salah satu kegiatan yang masuk dalam Koridor Ekonomi Jawa. Pemerintah Indonesia selanjutnya menetapkan konsorsium PT. Bhimasena Power Indonesia (BPI), yang terdiri dari satu perusahaan Indonesia Adaro Power dan dua perusahaan asal negeri matahari terbit J-Power dan Itochu Corporation, sebagai pemenang tender proyek tersebut. Dengan nilai proyek lebih dari Rp. 30 Triliun, konsorsium ini kemudian memilih Batang sebagai lokasi pembangunan PLTU Batubara Jawa Tengah. Batang, kota yang sebelumnya tak tenar meski cukup nyaman untuk ditinggali, hingga saya beri julukan ‘sleepy little town’ ini terusik sejak saat itu.

Tak pelak, kota kecil ini mulai banyak dibicarakan. Apalagi konsorsium PT. BPI dan pemerintah Kabupaten Batang, akhirnya memutuskan pesisir pantai Ujungnegoro, yang juga merupakan Kawasan Konservasi Laut Daerah, menjadi lokasi yang dipilih sebagai tempat pembangunan PLTU. Proyek raksasa tersebut, seperti yang ditulis oleh Greenpeace dalam website resminya, akan menyita lahan pertanian produktif, sawah beririgasi teknis, perkebunan melati dan sawah tadah hujan hingga mencapai luas 700 hektar. Mega proyek ini dipastikan akan memberikan imbas pada lima desa di sekitar lokasi pembangunan PLTU, yakni Desa Ujungnegoro, Karanggeneng, Ponowareng, Wonokerso, dan Roban.

Pantai Ujung Negoro di KabupatenBatang merupakan kawasan konservasi laut daerah.






Keputusan untuk membangun PLTU Batubara di daerah tersebut jelas saja menuai protes dari warga Batang. Bagaimana tidak turut bergidik ngeri jika di daerahmu akan muncul cerobong-cerobong yang melepaskan merkuri sebanyak 226 kg setiap tahunnya? Padahal 0,907 gram merkuri dalam danau saja mampu menjadikan ikan di area seluas 100m² tak layak dimakan. Dengan kapasitas yang direncanakan, Greenpeace dalam briefing paper yang dikeluarkan bulan Februari lalu menyebutkan bahwa PLTU tersebut juga akan memproduksi sekitar 10,8 juta ton karbon ke atmosfer. Jumlah yang mencengangkan karena setara dengan emisi karbon seluruh negara Myanmar tahun 2009. Kedepan, Indonesia akan memimpin dunia dalam hal panas bumi, dengan 40% dari kapasitas cadangan. Bencana global yang menamakan diri perubahan iklim diam-diam sedang mengintai dan dengan perlahan akan menjadi warisan generasi masa yang akan datang.Tak terelakkan.

Awal bulan Maret lalu, bertepatan dengan kepulangan saya ke rumah, saya berkunjung ke calon lokasi pembangunan PLTU Batubara di kawasan Pantai Ujungnegoro tersebut sekalian untuk membeli terasi rebon favorit ibu saya. Sepintas memang tidak ada yang berbeda. Namun, begitu saya mendekati pantai, saya mulai menjumpai beberapa lahan yang sudah diberi papan menerangkan bahwa tanah tersebut telah berpindah kepemilikan di bawah PT. Bhimasena Power Indonesia. Di lain lokasi, masih di sepanjang perjalanan menuju pantai, saya pun menyaksikan puluhan pemuda tinggi tegap berseragam yang tak lain adalah satpam yang bertugas menjaga keamanan pembangunan proyek PLTU Batubara. Di salah satu titik selanjutnya, sedang dilakukan pembuatan jalan sebagai akses masuk menuju pembangunan PLTU Batubara tersebut.

Aktifitas PLTU Batubara Maret 2014 silam

Begitulah, layaknya cerita usang di negeri ini, suara rakyat tak kunjung mendapat tempat yang layak untuk didengarkan apalagi terkabulkan. Meski tak henti-hentinya protes dan penolakan disampaikan oleh warga dan sejumlah organisasi lingkungan dan hukum, toh pembangunan PLTU Batubara tetap saja berjalan. Perlakuan tak menyenangkan hingga penahanan pun diterima beberapa warga yang ingin memperjuangkan haknya sebagai manusia dan sebagai warga negara untuk hidup aman serta layak di tanah kelahiran mereka sendiri. Warga di sekitar lokasi pembangunan PLTU Batubara juga terancam kehilangan mata pencaharian mereka yang mayoritas menjadi nelayan dan petani.


                                               


Aktifitas nelayan di pantai Ujungnegoro


Bapak saya, biasanya sering memancing di sekitar perairan Roban. Saya biasa memakan ikan Sembilang atau Lele laut, tak jarang Kakap Merah pun didapatnya. Betapa kekayaan laut di Batang begitu melimpah. Kelak, saat PLTU Batubara itu sudah berdiri dengan megahnya, apakah mungkin saya masih menjumpai ikan yang sudah terkontaminasi limbah PLTU itu di piring saya? Lantas kemana nelayan di sekitar lokasi pembangunan PLTU musti menjala rejeki mereka? Saya jadi ingat sebuah kalimat yang pernah menjadi tagline suatu artikel di salah satu Koran nasional, bunyinya begini, "Jika membiarkan ada orang terusir dari rumahnya, daerahnya, bubarkan saja negara!"

 Selamat memperingati hari kelahiranmu Kabupaten Batang! Semoga suara rakyatmu akan mendapat tempat yang layak, entah kapan.

 @AchiDwiastari
 Klaten, April 2014

(Episode 1) Manifestasi Geothermal di Remboken

|| || ,,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar

Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi subkorwil II Minahasa
(Episode 1)
Manifestasi Geothermal di Remboken

Indonesia  merupakan salah satu Negara yang termasuk dalam zona cincin api dunia (Ring of fire in the world) karena Indonesia dilintasi jajaran gunung api aktif yang siap meletus kapan saja. Provinsi Sulawesi Utara khususnya Minahasa dan sekitarnya merupakan salah satu bagian dari zona cincin api tersebut,  sehingga tak heran jika daerah ini kerap dilanda bencana gunung meletus, Kabupaten Minahasa dikelilingi oleh jajaran gunung api yang terbentuk akibat letusan Gunung Tondano berjuta – juta tahun yang lalu, dari letusan tersebut terbentuklah sebuah kaldera yang sangat luas, Kaldera tersebut dapat dilihat dengan jelas melalui foto udara / satelit, sehingga disekitaran kaldera banyak ditemui manifestasi geothermal berupa kawah – kawah kecil dan gunung berapi yang masih aktif sampai sekarang, seperti Gunung Soputan, Gunung Lokon, Gunung Mahawu, dll. Disamping rawan terjadi bencana gunung meletus , Minahasa memiliki tanah yang subur karena abu vulkanik yang keluar dari letusan gunung berapi sangat baik bagi tanaman, tak ayal jika sebagian besar masyarakat Minahasa bekerja disektor pertanian.
  Setibanya di Minahasa kami merasa perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, tentunya sebagai pendatang baru harus mengenal terlebih dahulu daerah yang menjadi tujuan nantinya, oleh karenanya kami perlu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar untuk mengenali tradisi dan kehidupan sosial Minahasa atau hanya sekedar mencari informasi, secara tradisi dan budaya tentunya sangat berbeda dengan tradisi di Jawa, namun semangat NKRI menjadi penjembatan bagi bangsa ini untuk lebih mempererat tali persaudaraan antar semua lapisan masyarakat, kata orang Minahasa (torang samua basudara) artinya kita semua bersaudara, walaupun begitu seyogyanya di mana bumi dipijak di situ langit kita junjung.
           

           Setelaah mendapat informasi yang cukup ternyata kabupaten Minahasa memiliki potensi sumber mata air panas yang melimpah.  kami diberitahu masyarakat bahwa ditepian danau tondano tepatnya di kecamatan Remboken terdapat pemandian air panas yang telah dikelola oleh swasta. Kemudian di desa Kasuratan, kecamatan Remboken juga terdapat pembangkit listrik tenaga panas bumi yang dikelola oleh  Pertamina Geothermal Energi (PGE). Awalnya kami belum percaya kalau belum membuktikan sendiri, akhirnya diminggu berikutnya kami datangi langsung ke lokasi untuk memastikan keberadaannya, letaknya tidak jauh dari Poskotis Subkorwil II Minahasa, hanya  3 km dari Poskotis sehingga penelitian kami lakukan dengan berjalan kaki. Tidak jauh dari PGE terdapat manifestasi sumber air panas yang mengandung alterasi lempung dan endapan sulfur yang disebut Mudpot dan Mudpool. Stress Vegetasi ditemukan didaerah ini  karena pengaruh dari temperature panas dari lumpur tersebut, sehingga menghambat pertumbuhan tanaman, hal ini dimungkinkan karena adanya streaming ground (uap yang keluar dari tanah), tidak jauh dari desa kasuratan tepatnya di desa Tondango juga terdapat sumber air panas yang dipakai masyarakat untuk pemandian air panas, namun belum dikelola menjadi tempat wisata. Dari penelitian tersebut kami mencoba menyimpulkan bahwa terdapatnya manifestasi geothermal di Remboken ini mengindikasikan bahwa daerah tersebut merupakan daerah bekas gunung api atau daerah tersebut dekat dengan gunung api aktif.

26 Titik penelitian Geologi & Potensi bencana di Subkorwil II Minahasa

|| || ,,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar
Ekspedisi NKRI koridor Sulawesi
Oleh : Ali Muqodas
NIA : 09.26.001 MPA

Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika aku telah menginjakkan kaki di pulau Sulawesi. Ceritanya berawal ketika aku mendaftar sebagai peserta Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi yang diselenggarakan KOPASSUS. KOPASSUS?? Pasti yang ada dipikiran kita adalah latihan, militer, muka garang, dan baju loreng. Pasti berat jika mengikuti kegiatan para tentara elite ini. Namun yang terjadi 180⁰ dari yang yang saya pikirkan. Kegiatan yang diselenggarakan KOPASSUS ini merupakan kegiatan penjelajahan, penelitian, dan Komunikasi sosial yang melibatkan 1450 orang yang terdiri dari TNI, POLRI, Mahasiswa, dan LSM. Dari sekitar 1450 orang tadi disebar ke 9 wilayah diseluruh Sulawesi yakni kep. Sangire Talaud, Minahasa, Bone Bolango, Mamuju, Sigi, Luwu Banggai, Kolaka, Tana Toraja, dan Gowa. Kegiatan yang berlangsung selama hampir enam bulan dari februari sampai juli 2013 ini mengupas tuntas potensi-potensi yang ada di wilayah Sulawesi untuk di gali dan dikembangkan untuk mensejahterakan masyarakat Sulawesi. Berikut ini ceritaku selama di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara sebagai tim peneliti Geologi dan Potensi bencana.
Cerita ini berawal ketika Kami berdua didelegasikan oleh organisasi pecinta alam kami MALIMPA untuk mengikuti Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi, Aku dan rekanku Arif WInata (Cacing) yang juga ikut dalam ekspedisi ini berangkat ke Bandung untuk melakukan registrasi ulang karena sebelumnya kami berdua lolos dalam pemberkasan. Di Batu Jajar, Bandung kami melakukan tes wawancara dan tes kesehatan sebelum kemudian di antar ke Situ Lembang, Bandung untuk pembekalan dan pendalaman materi di sana. Masing – masing dari kami ditugaskan di tempat yang berbeda, jika Aku di Tim Geologi & Potensi bencana di Kabupaten Minahasa, lain halnya dengan temenku Arif, temenku lebih memilih masuk Tim Kehutanan alasannya karena dia ingin mempelajari dan meneliti hutan-hutan di Sulawesi, untuk itu dia ditugaskan di Kabupaten Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah karena hutan di daerah ini diyakini banyak yang masih perawan. Setelah pembekalan di Situ Lembang selesai kemudian kami diberangkatkan ke Pulau Sulawesi dengan pesawat Hercules dari Bandar udara Husein kertanegara, Bandung. Karena kegiatan ini meliputi 9 Subkorwil, maka pemberangkatan dibagi dalam 3 kloter. Kloter pertama yang diberangkatkan lebih dulu adalah Subkorwil Gowa, Tana Toraja, dan kolaka. Kemudian di hari berikutnya dari Kloter kedua yakni Sigi, Luwuk Banggai, Mamuju, sedangkan kloter ketiga kep. Sangire Talaud, Minahasa, dan Bone Bolango diberangkatkan dihari ketiganya.
Senin 11 Maret 2013 pesawat Hercules yang kami tumpangi terbang dari Bandung kemudian transit di Bandara Sepinggan, Balikpapan untuk mengisi Bahan bakar baru dilanjutkan ke Manado. Total waktu tempuh dari Bandung ke Manado sekitar 5 Jam. Setibanya di Bandara Sam Ratulangi Manado, Rasa lelah dan Bisingnya baling-baling pesawat sedikit terobati dengan disuguhkannya tarian Kabasaran yang sengaja ditampilkan untuk menyambut kedatangan kami, tarian ini adalah tarian selamat datang dari suku Minahasa bagi tamu-tamu kehormatan, para penarinya pun seluruhnya adalah laki – laki dengan kostum berwarna merah menyala. Nampak garang dengan aksesoris yang terbuat dari tulang-tulang binatang dan bulu unggas. Upacara penyambutan yang pimpin oleh Bupati Kabupaten Minahasa menandakan bahwa kedatangan kami mendapat apresiasi yang baik bagi Masyarakat Minahasa pada umumnya. . Setelah upacara rampung kami langsung menuju Poskotis di Tondano
Indonesia sebagai Negara yang mayoritas penduduknya muslim pasti terheran –heran dengan apa yang saya lihat selama peralanan ke Tondano. Di Minahasa masjid sangat jarang ditemui tidak seperti daerah lain di Indonesia, karena sebagian besar penduduk Minahasa beragama Nasrani dan Katolik, jadi pantas saja jika masjid jarang ditemui disini. Walaupun begitu, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi kami, keberagaman suku dan budaya di Indonesia malah menjadi pemersatu bangsa ini. Karena perbedaan itu akan menjadi indah kalau kita bisa saling mengisi dan berbagi. Dan malam itu kita sampai di lokasi poskotis, cuaca dingin berselimutkan kabut tebal menambah sunyinya malam di Tondano, Kami pun langsung bergegas istirahat.
Seminggu setelah tiba di Minahasa kami menyesuaikan diri dengan lingkungan sembari menyusun rencana kegiatan selama 4 Bulan kedepan. Untunglah diminggu-minggu pertama itu kita mendapat tambahan personil yang terdiri dari Dosen, Mahasiswa, Instansi pemerintahan serta TNI dan POLRI , sehingga harapannya kita bisa saling bertukar ilmu dan melaksanakan kegiatan bersama. Jika ditotal jumlah personil di subkorwil Minahasa sebanyak 150 orang yang terbagi lagi dalam Tim Jelajah, Tim Komunikasi Sosial, dan Tim Peneliti ( Tim Kehutanan, Tim Sosial Budaya, Tim Flora Fauna, Tim Geologi & Potensi Bencana ) kemudian juga pembagian wilayah kerja antara tim satu dengan lainnya tidaklah sama. Untuk Tim Geologi & Potensi Bencana sendiri wilayah kerjanya di 26 lokasi yang akan saya ceritakan nanti ditiap -tiap edisinya.
  1. Manifestasi Geothermal di Remboken,
  2. Pendakian di Gunung Masarang
  3. Batu Obsidian di Tataaran II
  4. Penelitian di sekitar kawah Gunung Mahawu,
  5. Letusan Gunung Lokon,
  6. Abu vulkanik di Wailan,
  7. Air terjun Regesan
  8. Sumber air panas di Pinaras,
  9. Kawah sulfur Danau Linow
  10. Kawah Tua Gunung Tampusu
  11. Penanaman di Hutan Passo
  12. Air asam sungai Ranosem
  13. Kandungan belerang di Kanonang
  14. Mineral emas di Sungai Polandi,
  15. Batu karst di Kapitu
  16. Dinding andesit Kilotiga
  17. Hidrothermal di pantai Moinit
  18. Longsor di jalan trans Sulawesi Lelema
  19. Tambang pasir di Sungai Ranoiapo
  20. Taman makam pahlawan Tondano
  21. Tambang emas Tradisional Tatelu
  22. Air terjun Tunan
  23. Longsoran Dahsyat di Pangu, Minahasa Tenggara
  24. Kelok Tanggari,
  25. Potensi bencana di Eris.
  26. Banjir Rendam Toulour
Bersambung……

Menjamah Rimbanya Pegunungan Yang, Kab. Situbondo

|| || ,,,,,,,,,,, || Leave a komentar

Eksplorasi Flora fauna di Pegunungan Yang


Sejak pendakian yang terakhir pada tahun 2010 yang lalu, baru-baru ini MALIMPA kembali mengagendakan pendakian ke Gunung Argopuro dan puncak Dewi Rengganis, pada tahun 2010 lalu pendakian melalui jalur Baderan dan turun Bremi, lain halnya dengan pendakian kali ini yang menggunakan jalur bremi sebagai start awalnya dan turun di Baderan, Kab. Situbondo. “ pendakian ini kami lakukan tidak hanya sekedar naik gunung saja, tapi fokus utama kegiatan ini adalah eksplorasi Flora dan Fauna di jalur pendakian”. Kata Ketua Tim pendakian Frendy Wijaya. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 10-16 Februari 2014 mendapat respon yang cukup baik dari pengurus MALIMPA, Ketua Umum MALIMPA periode 2014  Akip Saputra. mengungkapkan “ sudah sepatutnya kita sebagai pecinta alam melestarikan keaneka ragaman flora dan fauna yang ada di alam agar tidak semakin rusak, harapannya dengan kegiatan semacam ini kecintaan kita terhadap lingkungan dapat menyadarkan kita akan pentingnaya menjaga dan melestarikan lingkungan ”
Kegiatan ini melibatkan 5 anggota MALIMPA yang sebelumnya telah melalui proses fisik dan materi tentang Flora Fauna, setelah mendapat ijin dari pengurus MALIMPA akhirnya Tim siap untuk   diberangkatkan. Dalam ekslorasi hari pertama kami melewati hutan homogen yang didominasi pohon damar, selanjutnya  hutan basah disekitaran danau taman hidup. Danau taman hidup merupakan telaga alami yang terbentuk karena depresi pegunungan disekitarnya yang membentuk cekungan sehingga hujan yang turun akan tertampung di telaga ini. Keberadaan danau taman hidup menjadi tumpuan bagi keberlangsungan ekosistem di kawasan ini. Perjalanan dilanjutkan menuju ke Cisentor, untuk sampai di Cisentor kita akan melewati hutan pinus yang merupakan habitat monyet hitam ekor panjang atau lutung dan babi hutan, disamping itu para pendaki harus sedikit berhati-hati jika melewati daerah ini, karena disepanjang jalur pendakian terdapat tanaman “Jancukan” yang biasa penduduk sekitar menyebutnya. Tanaman Jancukan ini jika terkena kulit maka kulit akan terasa panas dan gatal seperti tersengat lebah. 
Setelah sampai di Cisentor, yaitu pertigaan antara ke Bremi, Puncak, dan Baderan, Tim kami pun mendirikan camp disini agar lebih dekat dengan puncak Argopuro dan Dewi Rengganis. Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan ke Puncak Argopuro dan Dewi Rengganis. Setelah puas Foto-foto kamipun langsung turun menuju Sikasur untuk kemudian ke Baderan. Di sepanjang perjalan antara puncak ke Sikasur, medan yang dilewati didominasi padang sabana yang luas, di daerah ini juga banyak ditemukan burung merak, karena padang sabana merupakan habitat yang baik untuk burung merak. Kami hanya mengambil gambar dan mengambil beberapa bulu merak yang rontok untuk dijadikan sampel, karena burung merak dilindungi oleh Negara maka burung ini tidak boleh di buru atau diperdagangkan. Konon Sikasur dulunya merupakan bekas bandara militer jepang ketika menjajah Indonesia, saat ini pun masih dapat kita lihat bekas Run way bandara berselimutkan padang rumput dan beberapa bekas bangunan yang telah rusak. Vegetasi di sini merupakan padang sabana yang luas dan terdapat mata air yang ditumbuhi selada air. Setelah menginap semalam di Sikasur perjalanan kami lanjutkan menuju Baderan, vegetasi selanjutnya merupakan hutan hujan yang dihuni burung - burung kecil dan monyet. Disepanjang perjalanan  jalur yang kami lalui terlihat bekas tapak ban motor berukuran 2-3 cm sehingga sedikit menyulitkan perjalanan kami. Menurut masyarakat setempat biasanya para penduduk mengambil selada air di Sikasur menggunakan sepeda motor untuk kemudian dijual di pasar. Perlu keberanian dan ketrampilan yang lebih dalam mengendarai motor di jalur ini karena medan yang dilalui lumayan terjal dan berjurang.
Akhirnya perjalanan telah sampai di ladang penduduk, cukup mengherankan memang karena daerah yang semula berupa hutan hujan dan bergunung-gunung disulap menjadi ladang oleh penduduk sekitar. Ironisnya praktek semacam ini masih berlangsung hingga saat ini, sebelum melewati ladang tadi memang terdengar suara gergaji mesin yang bersaut-sautan di tengah hutan, sehingga saya yakin, cepat atau lambat daerah bekas penebangan pohon tadi akan berubah menjadi ladang. Sebagai masyarakat yang perduli terhadap kelestarian lingkungan sudah seharusnya praktek semacam ini harus dihentikan karena akan merusak habitat makhluk hidup yang ada di Pegunungan Yang ini. 
Transportasi
Perjalanan ke Gunung Argopuro via Bremi kami menggunakan transportasi umum, dimulai dari Solo ke Surabaya armada yang kami gunakan adalah Bus umum, kurang lebih waktu tempuh 5 ½ jam, dilanjutkan dengan Bus jurusan Banyuwangi, dari terminal Bungurasih di Surabaya turun di terminal lama Probolinggo atau langsung ke Pajarakan sekitar 2 jam. Jika turun di terminal lama akan dilayani Bus ke arah Bremi yang hanya ada pada jam 06.00 pagi dan 12.00 siang, namun apabila diluar jam tersebut saya sarankan untuk naik bus dari Surabaya turun di Pajarakan karena terdapat angkutan umum yang juga melayani sampai ke Bremi.   
Lama pendakian
Setelah turun di Bremi segera lapor ke Polsek Krucil yang ada di desa Bremi, letaknya tidak jauh dari gerbang masuk kawasan pegunungan Yang, setelah melapor kita bisa langsung melakukan pendakian. Perjalanan dimulai dari Bremi ke Taman Hidup, jalur ini melewati perkebunan warga, hutan produksi, baru kemudian hutan basah. Disamping tracknya lumayan terjal juga banyak pohon tumbang yang menghalangi jalan, sehingga sedikit menyulitkan bagi para pendaki yang melintas. waktu tempuh dari Bremi ke Taman Hidup kurang lebih 4 jam. Setelah sampai di Taman Hidup Saya sarankan untuk mendirikan camp di sini karena perjalanan dari Taman Hidup ke Aeng Kenek  lumayan panjang yakni sekitar 6 ½ jam, perjalanan dari Aeng Kenek ke Cisentor kurang lebih 3 ½ jam melewati hutan pinus dan semak – semak, disekitar Aeng Kenek terdapat aliran sungai yang jernih airnya, tapi harap berhati – hati jika kulit menyentuh tanaman “Jancukan” karena di Aeng Kenek paling banyak ditemukan tanaman ini. Selanjutnya perjalanan antara Cisentor dan Puncak anda akan melewati Rawa Embik, di Rawa Embik ini menjadi alternative bagi para pendaki untuk mendirikan tenda, karena di sini terdapat aliran sungai yang mengalir ke Cisentor, untuk mencapai puncak Gunung Argopuro dan Puncak Dewi Rengganis pun jauh lebih dekat jika dibanding mendirikan camp di Cisentor. Jika akan turun lewat Baderan, Cisentor merupakan pertigaan antara Bremi, Puncak, dan Baderan. Sehingga setelah di Cisentor anda harus menyeberang sungai kemudian mendaki sedikit menanjak baru kemudian sampai di padang sabana menuju ke camp berikutnya di Sikasur.  Perjalanan dari Cisentor ke Sikasur hanya 2 jam perjalanan dengan medan landai. Di Sikasur cocok  untuk mendirikan camp karena dekat dengan mata air. Baru setelah dari Sikasur ke Baderan membutuhkan waktu sekitar 7 jam.
Narasi : Ali Muqodas



KODE ETIK PECINTA ALAM SEINDONESIA

|| || ,,,, || Leave a komentar
PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA ALAM BESERTA ISINYA ADALAH CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA

PECINTA ALAM INDONESIA SEBAGAI BAGIAN DARI MASYARAKAT INDONESIA SADAR AKAN BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP TUHAN, BANGSA DAN TANAH AIR

PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA PECINTA ALAM ADALAH  SEBAGAI MAKHLUK YANG MENCINTAI ALAM SEBAGAI ANUGRAH TUHAN YANG MAHA ESA

Sesuai dengan hakekat diatas kami dengan kesadaran menyatakan sebagai berikut:
  1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.
  3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah Air.
  4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya serta menghargai manusia dan kerabatnya.
  5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azaz tujuan pecinta alam.
  6. Berusaha saling bantu membantu, serta saling menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah Air.
  7. Selesai.
                           
Disahkan dalam Forum Gladian IV
di Ujung Pandang
Tanggal 28 Januari 1974
Pukul 01.00 Waktu Indonesia Tengah