(Episode 1) Manifestasi Geothermal di Remboken

|| || ,,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar

Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi subkorwil II Minahasa
(Episode 1)
Manifestasi Geothermal di Remboken

Indonesia  merupakan salah satu Negara yang termasuk dalam zona cincin api dunia (Ring of fire in the world) karena Indonesia dilintasi jajaran gunung api aktif yang siap meletus kapan saja. Provinsi Sulawesi Utara khususnya Minahasa dan sekitarnya merupakan salah satu bagian dari zona cincin api tersebut,  sehingga tak heran jika daerah ini kerap dilanda bencana gunung meletus, Kabupaten Minahasa dikelilingi oleh jajaran gunung api yang terbentuk akibat letusan Gunung Tondano berjuta – juta tahun yang lalu, dari letusan tersebut terbentuklah sebuah kaldera yang sangat luas, Kaldera tersebut dapat dilihat dengan jelas melalui foto udara / satelit, sehingga disekitaran kaldera banyak ditemui manifestasi geothermal berupa kawah – kawah kecil dan gunung berapi yang masih aktif sampai sekarang, seperti Gunung Soputan, Gunung Lokon, Gunung Mahawu, dll. Disamping rawan terjadi bencana gunung meletus , Minahasa memiliki tanah yang subur karena abu vulkanik yang keluar dari letusan gunung berapi sangat baik bagi tanaman, tak ayal jika sebagian besar masyarakat Minahasa bekerja disektor pertanian.
  Setibanya di Minahasa kami merasa perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, tentunya sebagai pendatang baru harus mengenal terlebih dahulu daerah yang menjadi tujuan nantinya, oleh karenanya kami perlu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar untuk mengenali tradisi dan kehidupan sosial Minahasa atau hanya sekedar mencari informasi, secara tradisi dan budaya tentunya sangat berbeda dengan tradisi di Jawa, namun semangat NKRI menjadi penjembatan bagi bangsa ini untuk lebih mempererat tali persaudaraan antar semua lapisan masyarakat, kata orang Minahasa (torang samua basudara) artinya kita semua bersaudara, walaupun begitu seyogyanya di mana bumi dipijak di situ langit kita junjung.
           

           Setelaah mendapat informasi yang cukup ternyata kabupaten Minahasa memiliki potensi sumber mata air panas yang melimpah.  kami diberitahu masyarakat bahwa ditepian danau tondano tepatnya di kecamatan Remboken terdapat pemandian air panas yang telah dikelola oleh swasta. Kemudian di desa Kasuratan, kecamatan Remboken juga terdapat pembangkit listrik tenaga panas bumi yang dikelola oleh  Pertamina Geothermal Energi (PGE). Awalnya kami belum percaya kalau belum membuktikan sendiri, akhirnya diminggu berikutnya kami datangi langsung ke lokasi untuk memastikan keberadaannya, letaknya tidak jauh dari Poskotis Subkorwil II Minahasa, hanya  3 km dari Poskotis sehingga penelitian kami lakukan dengan berjalan kaki. Tidak jauh dari PGE terdapat manifestasi sumber air panas yang mengandung alterasi lempung dan endapan sulfur yang disebut Mudpot dan Mudpool. Stress Vegetasi ditemukan didaerah ini  karena pengaruh dari temperature panas dari lumpur tersebut, sehingga menghambat pertumbuhan tanaman, hal ini dimungkinkan karena adanya streaming ground (uap yang keluar dari tanah), tidak jauh dari desa kasuratan tepatnya di desa Tondango juga terdapat sumber air panas yang dipakai masyarakat untuk pemandian air panas, namun belum dikelola menjadi tempat wisata. Dari penelitian tersebut kami mencoba menyimpulkan bahwa terdapatnya manifestasi geothermal di Remboken ini mengindikasikan bahwa daerah tersebut merupakan daerah bekas gunung api atau daerah tersebut dekat dengan gunung api aktif.

Meru Betiri Sevice Camp XV (MBSC) 2014

|| || ,,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar
DIKTAT
“Save It, Study It and Use It”

Meru Betiri Sevice Camp XV (MBSC)


        MBSC (Meru Betiri Service Camp) merupakan salah satu bentuk pendidikan dan pelatihan kader konservasi dalam memasyarakatkan kesadaran akan pentingnya konservasi sumber daya alam di masyarakat. Kader konservasi merupakan mitra pembangunan yang diharapkan mampu berperan serta dalam upaya mewujudkan masyarakat yang mencintai alam dan lingkungannya.
           Kegiatan MBSC XV ini juga merupakan salah satu program kerja Taman Nasional Meru Betiri yang bekerjasama dengan WIPAB (Wadah Informasi Pecinta Alam Se Eks-karasidenan Besuki) yang di selenggarakan di pantai Sukamade, Banyuwangi, Jawa Timur. Kegiatan berlangsung dari tanggal 18 November s/d 22 November 2013 dengan peserta dari MAPALA dan OPA se-Indonesia. MBSC XV dan kegiatan sejenisnya memiliki arti serta peran yang sangat penting. Karena dalam kegiatan tersebut para peserta diberi pembekalan dengan berbagai pengetahuan dasar mengenai pelestarian hutan dan lingkungan serta diberi kesempatan untuk bersentuhan langsung dengan praktek-praktek pengelolaan kawasaan konservasi seperti contoh berikut :
1. Kehutanan Umun 6. Advokasi Lingkungan
2. Interpretasi 7. Pengamatan Burung
3. Analisa Vegetasi 8. Pengamatan Penyu
4. Jurnalistik Lingkungan 9. Tanaman Obat
5. Ekowisata 10. Raflesia dll.


            Pada kesempatan pengamatan penyu peserta di suguhi aksi menarik serta langka dari kedatangan seekor penyu hijau (Chelonia mydas) berukuran sekitar ± 40 cm yang berlabuh untuk bertelur di pantai sukamade pada malam hari. Ketika penyu hijau (Chelonia mydas) masih muda mereka makan berbagai jenis biota laut seperti cacing laut, udang remis, rumput laut juga alga. Ketika tubuhnya mencapai ukuran sekitar 20-30 cm, mereka berubah menjadi herbivora dan makanan utamanya adalah rumput laut. Penyu hijau (Chelonia mydas) di pantai sukamade merupakan salah satu penyu yang paling produktif dan intensitas kedatangan yang relatif tinggi diantara 7 jenis penyu laut yang ada di seluruh dunia , seperti : penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), penyu belimbing (Dermochelys coriaceae), penyu pipih (Natator depressus), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu kempi (Lepidochelys kempi). Penyu pantai sukamade TN.Meru Betiri mengundang ketertarikan wisatawan yang sangat luar biasa, tidak hanya wisatawan domestik melainkan wisatawan dari manca negara yang berbondong-bondong mengunjungi TNMB (Taman Nasional Meru Betiri) untuk melakukan penelitian maupun riset atau hanya sekedar berekreasi.
         

         Di dalam kawasan konservasi TN.Meru Betiri juga terdapat spesies raflesia endemik yang dapat di jumpai yaitu Rafflesia zollingeriana kds (patmo sari). Rafflesia zollingeriana dapat tumbuh pada akar dan batang inang Tetrastigma lanceolarium dan Tetrastigma papillosumPada umumnya Rafflesia zollingeriana hidup mulai dari kaki bukit sampai lereng-lereng bukit sebelah atas. Kemiringan tempat tumbuh 85 %, ketinggian mulai dari 1 – 270 m dpl dan jarak garis pantai berkisar 9 – 1000 m. Guna mengantisipasi kerusakan yang biasa di lakukan oleh hewan liar seperti babi hutan dan landak, maka para petugas TN.Meru Betiri membuat kurungan kecil dari besi untuk menutupi Rafflesia zollingeriana agar terhindar dari pemangsanya.
       Selain itu, Pak Chuk S. Widarsa wartawan dari detik.com juga turut andil dalam mengisi materi Jurnalistik Lingkungan pada MBSC XV kali ini. Jurnalistik adalah Suatu kegiatan mengelola berita yang dimulai dari mengumpulkan fakta dan data atau meliput suatu peristiwa, menyusun, menerbitkan, dan menyebarkan. Dari sini pak Chuk mengajarkan kepada peserta untuk selalu mengoptimalkan media dalam semua kegiatan dan ditindak lanjuti melalui pers realese. Seperti yang pernah dilakukan oleh TN.Meru Betiri dalam kegiatan Ekspedisi Harimau Jawa yang ada di kawasan konservasi TN.Meru Betiri, dengan data yang menarik serta konsepan penyusunan dan penyebaran yang baik. Sempat menyabet urutan 5 besar terbaik persembahan TN.Meru Betiri dalam Eagles Word di Metro TV.
  

        Dari semua itu, pada kesempatan Meru Betiri Service Camp XV (MBSC) kali ini peserta dapat mempelajari ilmu konservasi yang sangat penting bagi seorang pecinta alam. Sarana awal untuk membangun penyadartahuan konservasi dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang secara bijak. Sehingga dengan harapan besar kelak akan lahir kebulatan tekad untuk berbuat yang lebih baik bagi keselamatan alam serta kehidupan yang ada di dalamnya untuk kelestarian dan sebagai warisan kepada anak cucu kita dimasa yang akan datang.
Frendy Widjaya
NIA 13.30.003 MPA








GILI, GILE, GILANI

|| || ,,,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar
Perjalanan kami mulai dari terminal Tirtonadi (Surakarta) menunggu bus dari jam 19.00 wib sampai 22.00 Wib akhirnya kami pun naik bus jurusan Surabaya. hari Rabu, 14 Agustus 2013 5 jam sebelum itu saya Arif ‘Cacing’ Winata berangkat dari rumah ke sekret pukul 14.00 wib janjian berangkat berdua bersama Ali ‘Catok’ Muqoddas. Di sekret kami mempersiapkan segala kebutuhan yang kami anggap cukup penting untuk perjalanan kami ini. Awalnya tujuan kami langsung menuju banyuwangi akan tetapi bus yang menuju banyuwangi sudah habis kami pun berangkat ke Surabaya dulu. Perjalanan kurang lebih 5 jam kami pun tiba di terminal bungurasih Surabaya. Lalu kami lanjutkan mencari bus dengan tujuan banyuwangi. dan kami sempat bingung mau naik bus langsung ke bali atau turun di banyuwangi dulu, setelah tanya sana sini harga tarif busnya kurang cocok dengan budget kami...hee, akhirnya kami putuskan menghubungi teman – teman Mupalas (Unmuh Surabaya). Sampai sekretariat Mupalas baru pukul 07.00 wib pagi, di situ kami transit sebentar sambil menunggu waktu sore hari untuk perjalanan menuju banyuwangi. Sedikit info karena transportasi yang dari pelabuhan Gilimanuk-padangbay hanya ada pukul 01.00 – 03-00 wita. Dari Mupalas kami berangkat dari bungurasih lagi, rencana awal naik bus langsung ke banyuwangi ternyata busnya hanya sampai probolinggo, sampai di terminal probolinggo pukul 19.00 wib kami mencari bus yang ke arah banyuwangi / ketapang. Ternyata bus yang kami tumpangi hanya sampai terminal ketapang, alhasil kami pun ganti angkutan yang lebih mirip kendaraan pribadi dari terminal ketapang menuju pelabuhan ketapang dengan ongkos Rp 6.000 kami sudah sampai di pelabuhan ketapang. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, tapi karena sudah terlalu lama di bus dari surabaya sampai banyuwangi yang hampir memakan waktu 12 jam kami pun nyerah dan naik angutan umum dari terminal ketapang unutk menuju pelabuhan ketapang.

Awalnya kami ingin menumpang truk – truk yang ke arah mataram supaya menghemat cost perjalanan. di depan pintu masuk pelabuhan kami malah kami ketemu calo truk yang meminta ongkos dari ketapang sampai mataram 175rb per orang, langsung saja kami tolak mentah – mentah, karena menurut info dari teman – teman Mupalas paling hanya uang rokok ato 50rb saja uda bisa. karena kami tidak langsung ketemu dengan supir truknya kami pun naik kapal dengan cara legal beli tiket ketapang – Gilimanuk seharga Rp 6.500 perjalanan kurang lebih 45menit.
Sampai di gilimanuk pun kita tepat waktu pukul 02.30 wita setelah keluar dari pelabuhan kami sempat tertahan oleh brimob dan petugas yang memeriksa setiap orang yang akan masuk atau melewati Bali. Disitu kita di mintai tanda pengenal (SIM/KTP/KTM/dsb) sempat kesulitan dan tidak boleh masuk ke bali saat menunjukan kartu identitas karena yang saya bawa hanya kartu perpus, kartu tanda anggota (KTA) MALIMPA, tapi karena petugas melihat bawaan saya adalah tas carrier dia pun langsung bilang kesaya,”mau mendaki ya mas?’’. Saya jawab saja “iya”. Akhirnya petugas pun hanya bilang,”nanti kalo ada apa – apa cari seribu satu alasan saja mas”, oh siap pak. Hahaha..kami pun langsung naik ke angkutan yang langsung menuju pelabuhan padangbay. Perjalanan kurang lebih 3 jam dari gilimanuk ke padangbay dengan ongkos Rp 50.000 kami pun tiba di ujung timur pulau bali pukul 06.00 wita. Lebih hemat angkutan yang langsung begini dari pada harus ganti – ganti angkutan.

Di padangbay kami istirahat sejenak untuk melegakan pantat kami yang sudah penat karena dari kemarin sore mulai dari surabaya-probolinggo-banyuwangi-gilimanuk-padangbay hampir 24 jam kami di bus. Di mushola sekitar pelabuhan padangbay kami bersih-bersih dan mengisi perut dengan sepotong roti yang kami beli di pelabuhan ketapang kemarin, sampai pukul 07.30wita kami pun langsung masuk ke pelabuhan untuk membali tiket dari pelabuhan padangbay ke pelabuhan Lembar Lombok dengan harga Rp 36.000 kami naik kapal feri lagi dengan lama perjalanan 4,5jam. Pukul 08.00 wita kami baru naik ke kapal karena harus antri dengan kapal yang akan bersandar. di atas kapal yang cukup terik karena sengatan matahari pukul 10 kami pun tetap bersemangat karena ini pertama kalinya kami ke lombok. :-) 

Sampai di pelabuhan Lembar pukul 12.30 wib perjalanan laut yang cukup membuat mual karena siang itu ombak cukup besar, kami pun istirahat di mushola sekitar pelabuhan sambil menghubungi teman yang ada di Univ Muhammadiyah Mataram. karena masih libur lebaran teman – teman dari mapala UMM masih banyak yang pulang kampung kami pun memutuskan naik transportasi umum untuk menuju UMM. Kami keluar pelabuhan untuk mencari transportasi yang dapat membawa kami ke UMM kami pun dapat transportasi sejenis colt dengan biaya Rp 35.000 mengingat penumpang yang dia bawa hanya kami berdua kami pun memaklumi sekaligus itung – itung amal. :-). Sampai di UMM pukul 14.30 wita kami langsung menuju sekretariat Mapala UMM yang berada paling ujung di belakang kampus. Kami pun di sambut hangat oleh temen – temen mapala UMM. Ternyata yang berkunjung disitu tidak hanya kami saja, sebelumnya sudah ada teman – teman dari mapala Astadeca depok yang baru turun dari pendakian Rinjaninya.
Sambil ngobrol ternyata teman – teman dari astadeca pun juga ada rencana mau ke gilitrawangan kami pun senang ada barengan karena cukup menghemat biaya juga melihat transportasi di lombok yang kalo tidak banyak orang akan lumayan mahal.
Esok harinya 16 agustus 2013 kami pun melanjutkan perjalan ke gili trawangan bareng dengan teman – teman astadeca. Malam hari sebelumnya kami sudah di hubungkan dengan taksi yang akan membawa kami ke pelabuhan berikutnya menyebrang ke gili trawangan. Sebelum meninggalkan UMM kami berpamitan dengan teman – teman UMM dan tak lupa ucapan terima kasih untuk sambutan hangatnya.
Dari UMM ke pelabuhan bangsal kurang lebih satu jam dengan menggunakan taksi argo Rp 100rb rupiah akhirnya kami pun sampai di lembar pukul 14.00wita karena kami berangkat dari UMM pukul 12.45 wita. Selain gili trawangan sebenarnya masih ada gili meno dan gili air, tapi kami tetap pada rencana awal tetap ke gili trawangan. Dengan tiket kapal Rp 10rb rupiah perjalanan laut kurang lebih satu jam kami pun tiba di gilitrawangan. Karena sudah cukup sore kami sampai, kami pun berpencar dan ada yang menelpon mencari penginapan dengan budget yang paling rendah. 

Sampai pukul 5 sore lebih kami belum dapat penginapan karena mengingat juga ini ada musim liburan dan perburuan penginapan harus lebih ekstra keras, akhirnya dapat juga walaupun kurang dari yang diharapkan setidaknya dapat menampung kami semalaman karena biaya yang kami keluarkan cukup Rp 20rb setiap orang karena kami berlima jadi harga penginapan kami 100rb rupiah..haha. fasilitas yang kami dapatkan pun seadanya dengan kamar ukuran 3 x 2,5 M di isi dengan kasur yang di sediakan penyewa plus dapat bonus kipas angin. Kami berbagi tempat berlima 4 laki – laki, 1 cewek. Memang gilitrawangan pada saat itu adalah musim dingin di Eropa dan Amerika alhasil bule – bule pun mencari daerah yang beriklim tropis, selain itu Lombok dan sekitarnya juga menjadi tempat favorit setelah Bali jadi tidak heran kenapa lombok menjadi sangat ramai. Malam harinya kami pun jalan – jalan di sekitar gili trawangan, rencananya sambil mencari makan malam. Ketika berjalan melewati satu dua kedai kami (saya dan catok) tercengang melihat harga dengan bandrol dollar yang di daftar menu ditempel di kedai – kedai tersebut. Benar saja untuk makan sepotong ikan tuna 100gram kita harus keluar 50rb, kami pun melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki dan berharap tidak menemui kedai yang serupa. Ternyata semakin jauh semakin mahal dan hasilnya pun sama saja, akhirnya kami berlima pun balik kanan untuk makan di pasar tradisional yang ada di sekitar gili trawangan juga. Tapi yang makan malam di situ pun hanya teman – teman dari astadeca, saya dan catok pun kembali ke penginapan untuk memasak. Karena dari awal kami sudah membawa perbekalan sendiri. Mie dan beras..haha.

Pagi harinya kami langsung ke loket untuk cari tiket kembali ke pelabuhan bangsal. Karena teman – teman astadeca juga mengejar jadwal pesawat mereka yang akan ke jakarta pukul 13.00wita. sembari menunggu kapal bersandar tak lupa kami sempatkan moment berfoto bareng di “Welcome Gili Trawangan” ..hehe.
Saat kapal ada yang mau bersandar saya terkagetkan oleh sms dari teman satu angkatan yang isinya “ mas Wereng nang lombok lho...” hehe, tanpa pikir panjang catok langsung menelpon mas wereng(Eko Wahyudi Diklatsar XV). Dan ternyata kebetulan juga mas wereng juga ada di sengigi, pantai yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan bangsal. Setelah kapal yang kami tumpangi bersandar di pelabuhan bangsal mas wereng pun ternyata sudah berada di tepi pantai bersama Om nya yang tinggal di senaru (lereng Rinjani). Setelah ngobrol kesana kemari kami pun berpamitan dengan mas wereng dan Om nya, dan tentunya bertambah tebal kantong kami setelah bertemu mas wereng...hehehe.
Masih berlima kami naik cidomo(andong) dari pelabuhan bangsal sampai di tempat ngetemnya angkot yang ke arah kota, naik cidomo 25rb buat lima orang lebih baik dari pada harus jalan kurang lebih satu kilometer. Lalu kami pun naik angkot yang ke arah terminal mandalika, tapi sebelum terminal mandalika teman – teman dari astadeca turun di pasar oleh – oleh, akhirnyanya kami pun berpisah disini. Sampai diterminal mandalika kami turun di depan, karena angkutannya sudah ada di depan terminal. Hampir 2 jam kami menunggu di angkutan tersebut. Karena baru kami penumpangnya, dua jam menunggu akhirnya ada 2 teman dari jakarta yang kebetulan baru turun dari rinjani sama seperti teman astadeca yang tadi. Dari terminal mandalika sampai di pelabuhan lembar dengan tarif Rp 25rb kami pun berangkat. Sampai di pelabuhan lembar kami bertemu dengan seorang dosen yang hendak ke surabaya. setelah basi basi yang saat itu di pelabuhan lembar sudah pukul 16.30 wita kami pun memutuskan untuk berlima naik bareng di kapal nantinya, karena pada saat turun di pelabuhan padang bay malam hari angkutan umum sudah tidak ada, yang ada hanya mobil carteran. Benar saja setelah naik feri dari lembar – turun di padang bay pukul 22.00 wita kami sudah kehabisan angkutan umum. Di padang bay pun kami jadi ber enam, kami ber 2, dua dari jakarta, 1 dari bandung, 1 dosen yang mau ke surabaya tadi. 1 dari bandung ini ketemu diatas kapal dari lembar – ke padang bay.
Sampai di padangbay pukul 22.00 wita kami berenam duduk seperti orang bingung..haha, karena menunggu mobil yang kalo beruntung dapat kami tumpangi dengan ongkos 40rb per orang sampai terminal ubung. Calo di sekitar pelabuhan padangbay pun semakin eneg melihat ada penumpang “kleleran” di pinggir jalan. Akhirnya setelah menunggu kurang lebih satu setengah jam datang mobil alpard yang dapat kami tumpangi sampai ubung dengan perjalanan kurang lebih satu setengah jam kemudian kami sampai di terminal ubung. Dini hari sampai terminal ubung terasa sekali badan rasanya “digebukin”, dari kami berenam pun berpencar mencari tempat buat mengistirahatkan sejenak badan ini. 3 orang dari rombongan ini mereka mengajak kami makan di sekitar terminal. Karena keterbatasan dana yang waktu itu tinggal 24rb uang kami berdua kumpulkan, akhirnya kami pun memasak perbekalan kami yang tersisa. Beras dan mie instan. Tidak perduli orang – orang di sekitar terminal melihat kami yang penting perut ini dapat terisi sembari menunggu pagi sambil menunggu teman dari malang yang kerja di bali, karena kami sudah janjian akan mampir ke tempat dia.
Dari jam 01.30 wita sampai pukul 09.00 wita kami di terminal ubung dan sedangkan teman dari jakarta sudah meninggalkan kami dari jam 06.30 wita, dosen yang kesurabaya juga begitu, hanya teman dari bandung yang terakhir meninggalkan kami pukul 08.00 wita. Akhirnya pukul 09.00 wita pun ada sms masuk “metuo nang ngarep terminal cing...”. teman dari malang pun datang dan kami pun dibawa ke kost an di untuk sekedar mampir. Setelah sampai di kost annya ternyata dia tinggal bersama seniornya, ya teman dari malang ini adalah khoirul anwar anggota Dimpa UMM. Di tempat khoirul (irul) kami menginap satu malam, sekedar menyegarkan badan yang dari kemarin tubuh ini kurang di manjakan. Karena pagi harinya irul berangkat kerja kami pun juga langsung berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Karena irul terburu – buru kerja dan tidak dapat mengantar kami ke terminal, kami pun mencari tumpangan yang dapat membawa kami sampai terminal. Catatan karena di bali tidak semudah ada angkot seperti di jawa. Kami pun menumpang carry bak terbuka.
Sampai di terminal ubung catok langsung mencari ATM karena pagi harinya dia mendapat transferan jatah uang saku dari rumahnya. Akhirnya kami pun dapat melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan gilimanuk. Tarif ubung-gilimanuk 35rb dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam. Ditengah perjalanan dari ubung-gilimanuk pun sempat menimbulkan kecurigaan, jangan – jangan bus yang kami tumpangi ini tidak sampai di gilimanuk. Ternyata tidak kami di pindak dengan mobil colt yang menuju ke gilimanuk. Ada serunya juga ketika kami di pindak ke colt kami bertemu dengan turis asing asal irlandia yang akan berselancar ke parangtritis jogjakarta. Akhirnya perjalan dari bali sampai ketapang pun ada teman lagi walaupun bagi kami sulit untuk berkomunikasi...ahaha. pas sampai di gilimanuk catok pun mencoba mengajak berkomunikasi dengan si bule. “ what are you going?’’. Si bule menjawab “I am going to parangtritis”. Catok pun menjawab “ yesss, you and we same same...”. akhirnya saya tanya catok “ same same opo tok?”. Sama sama cing.. “emang bener tok..” catok pun menjawab lagi “mbuh, ho’o yak e..”...haha.
Sampai di gilimanuk ternyata si bule mau naik kereta untuk menuju jogjakarta, akhirnya kami pun antarkan dia ke stasiun ketapang yang jaraknya kurang dari 500meter dari pelabuhan ketapang. Ternyata kereta tidak tersedia untuk hari itu, akhirnya si bule pun kami tinggalkan di stasiun dan kami pun melanjutkan perjalanan ke solo naik dengan bus secara estafet. Ketapang – probilinggo-surabaya- solo.
Oleh : NIA 09.26.002 MPA / Cacing


26 Titik penelitian Geologi & Potensi bencana di Subkorwil II Minahasa

|| || ,,,,,,,,,,,,, || Leave a komentar
Ekspedisi NKRI koridor Sulawesi
Oleh : Ali Muqodas
NIA : 09.26.001 MPA

Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika aku telah menginjakkan kaki di pulau Sulawesi. Ceritanya berawal ketika aku mendaftar sebagai peserta Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi yang diselenggarakan KOPASSUS. KOPASSUS?? Pasti yang ada dipikiran kita adalah latihan, militer, muka garang, dan baju loreng. Pasti berat jika mengikuti kegiatan para tentara elite ini. Namun yang terjadi 180⁰ dari yang yang saya pikirkan. Kegiatan yang diselenggarakan KOPASSUS ini merupakan kegiatan penjelajahan, penelitian, dan Komunikasi sosial yang melibatkan 1450 orang yang terdiri dari TNI, POLRI, Mahasiswa, dan LSM. Dari sekitar 1450 orang tadi disebar ke 9 wilayah diseluruh Sulawesi yakni kep. Sangire Talaud, Minahasa, Bone Bolango, Mamuju, Sigi, Luwu Banggai, Kolaka, Tana Toraja, dan Gowa. Kegiatan yang berlangsung selama hampir enam bulan dari februari sampai juli 2013 ini mengupas tuntas potensi-potensi yang ada di wilayah Sulawesi untuk di gali dan dikembangkan untuk mensejahterakan masyarakat Sulawesi. Berikut ini ceritaku selama di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara sebagai tim peneliti Geologi dan Potensi bencana.
Cerita ini berawal ketika Kami berdua didelegasikan oleh organisasi pecinta alam kami MALIMPA untuk mengikuti Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi, Aku dan rekanku Arif WInata (Cacing) yang juga ikut dalam ekspedisi ini berangkat ke Bandung untuk melakukan registrasi ulang karena sebelumnya kami berdua lolos dalam pemberkasan. Di Batu Jajar, Bandung kami melakukan tes wawancara dan tes kesehatan sebelum kemudian di antar ke Situ Lembang, Bandung untuk pembekalan dan pendalaman materi di sana. Masing – masing dari kami ditugaskan di tempat yang berbeda, jika Aku di Tim Geologi & Potensi bencana di Kabupaten Minahasa, lain halnya dengan temenku Arif, temenku lebih memilih masuk Tim Kehutanan alasannya karena dia ingin mempelajari dan meneliti hutan-hutan di Sulawesi, untuk itu dia ditugaskan di Kabupaten Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah karena hutan di daerah ini diyakini banyak yang masih perawan. Setelah pembekalan di Situ Lembang selesai kemudian kami diberangkatkan ke Pulau Sulawesi dengan pesawat Hercules dari Bandar udara Husein kertanegara, Bandung. Karena kegiatan ini meliputi 9 Subkorwil, maka pemberangkatan dibagi dalam 3 kloter. Kloter pertama yang diberangkatkan lebih dulu adalah Subkorwil Gowa, Tana Toraja, dan kolaka. Kemudian di hari berikutnya dari Kloter kedua yakni Sigi, Luwuk Banggai, Mamuju, sedangkan kloter ketiga kep. Sangire Talaud, Minahasa, dan Bone Bolango diberangkatkan dihari ketiganya.
Senin 11 Maret 2013 pesawat Hercules yang kami tumpangi terbang dari Bandung kemudian transit di Bandara Sepinggan, Balikpapan untuk mengisi Bahan bakar baru dilanjutkan ke Manado. Total waktu tempuh dari Bandung ke Manado sekitar 5 Jam. Setibanya di Bandara Sam Ratulangi Manado, Rasa lelah dan Bisingnya baling-baling pesawat sedikit terobati dengan disuguhkannya tarian Kabasaran yang sengaja ditampilkan untuk menyambut kedatangan kami, tarian ini adalah tarian selamat datang dari suku Minahasa bagi tamu-tamu kehormatan, para penarinya pun seluruhnya adalah laki – laki dengan kostum berwarna merah menyala. Nampak garang dengan aksesoris yang terbuat dari tulang-tulang binatang dan bulu unggas. Upacara penyambutan yang pimpin oleh Bupati Kabupaten Minahasa menandakan bahwa kedatangan kami mendapat apresiasi yang baik bagi Masyarakat Minahasa pada umumnya. . Setelah upacara rampung kami langsung menuju Poskotis di Tondano
Indonesia sebagai Negara yang mayoritas penduduknya muslim pasti terheran –heran dengan apa yang saya lihat selama peralanan ke Tondano. Di Minahasa masjid sangat jarang ditemui tidak seperti daerah lain di Indonesia, karena sebagian besar penduduk Minahasa beragama Nasrani dan Katolik, jadi pantas saja jika masjid jarang ditemui disini. Walaupun begitu, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi kami, keberagaman suku dan budaya di Indonesia malah menjadi pemersatu bangsa ini. Karena perbedaan itu akan menjadi indah kalau kita bisa saling mengisi dan berbagi. Dan malam itu kita sampai di lokasi poskotis, cuaca dingin berselimutkan kabut tebal menambah sunyinya malam di Tondano, Kami pun langsung bergegas istirahat.
Seminggu setelah tiba di Minahasa kami menyesuaikan diri dengan lingkungan sembari menyusun rencana kegiatan selama 4 Bulan kedepan. Untunglah diminggu-minggu pertama itu kita mendapat tambahan personil yang terdiri dari Dosen, Mahasiswa, Instansi pemerintahan serta TNI dan POLRI , sehingga harapannya kita bisa saling bertukar ilmu dan melaksanakan kegiatan bersama. Jika ditotal jumlah personil di subkorwil Minahasa sebanyak 150 orang yang terbagi lagi dalam Tim Jelajah, Tim Komunikasi Sosial, dan Tim Peneliti ( Tim Kehutanan, Tim Sosial Budaya, Tim Flora Fauna, Tim Geologi & Potensi Bencana ) kemudian juga pembagian wilayah kerja antara tim satu dengan lainnya tidaklah sama. Untuk Tim Geologi & Potensi Bencana sendiri wilayah kerjanya di 26 lokasi yang akan saya ceritakan nanti ditiap -tiap edisinya.
  1. Manifestasi Geothermal di Remboken,
  2. Pendakian di Gunung Masarang
  3. Batu Obsidian di Tataaran II
  4. Penelitian di sekitar kawah Gunung Mahawu,
  5. Letusan Gunung Lokon,
  6. Abu vulkanik di Wailan,
  7. Air terjun Regesan
  8. Sumber air panas di Pinaras,
  9. Kawah sulfur Danau Linow
  10. Kawah Tua Gunung Tampusu
  11. Penanaman di Hutan Passo
  12. Air asam sungai Ranosem
  13. Kandungan belerang di Kanonang
  14. Mineral emas di Sungai Polandi,
  15. Batu karst di Kapitu
  16. Dinding andesit Kilotiga
  17. Hidrothermal di pantai Moinit
  18. Longsor di jalan trans Sulawesi Lelema
  19. Tambang pasir di Sungai Ranoiapo
  20. Taman makam pahlawan Tondano
  21. Tambang emas Tradisional Tatelu
  22. Air terjun Tunan
  23. Longsoran Dahsyat di Pangu, Minahasa Tenggara
  24. Kelok Tanggari,
  25. Potensi bencana di Eris.
  26. Banjir Rendam Toulour
Bersambung……

GEMARIKAN – Gerakan Memasyarakatkan Ikan

|| || || Leave a komentar

Pendahuluan
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia paling utama, karena itu pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas. bahwa sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar, dan di sisi lain memiliki sumberdaya alam dan sumber Pangan yang beragam, Indonesia dapat memenuhi kebutuhan Pangannya secara berdaulat dan mandiri.
Pasal 50 ayat 3 Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan mengamanatkan bahwa Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah perlu melakukan promosi penggunaan pangan lokal untuk mendukung terwujudnya kedaulatan, kemandirian dan ketahanan pangan nasional. Berkenaan dengan hal itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai instansi teknis Pemerintah Pusat yang menangani pangan berbasis ikan turut berpartisipasi dalam kegiatan promosi peningkatan konsumsi ikan masyarakat.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga telah melakukan kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka mempromosikan penggunaan pangan berbasis komoditas/produk perikanan. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melakukan suatu gerakan yang dinamakan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN).
Gerakan ini bertujuan untuk membangun kesadaran gizi individu maupun kolektif masyarakat agar gemar mengkonsumsi ikan. Dalam implementasinya, GEMARIKAN dilakukan antara lain melalui kegiatan promosi kemitraan bersama organisasi/lembaga yang dinilai memiliki potensi untuk mengakselerasi peningkatan konsumsi ikan. Oleh karena itu melalui situs/website GIKIA, Kementerian Kesehatan RI turut berpartisipasi dalam rangka memperkenalkan ikan. Karena dari sisi kesehatan ikan dikenal sejak dulu sebagai bahan sumber protein yang perlu dikonsumsi oleh masyarakat kita. Dibawah ini akan dijelaskan serba-serbi tentang ikan yang diambil.

PENGERTIAN IKAN DAN JENIS IKAN
Berdasarkan UU No. 45 Tahun 2009, pengertian Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Secara umum perairan tempat kehidupan ikan terdiri dari laut, tawar dan payau.
Pengertian ikan meliputi:
1.    Ikan bersirip (Pisces) antara lain tuna, nila dan bawal;
2.    Udang, rajungan, kepiting dan sebangsanya (Crustacea);
3.    Kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput dan sebangsanya. (Mollusca);
4.    Ubur-ubur dan sebangsanya (Coelenterata);
5.    Teripang, bulu babi dan sebangsanya. (Echinodermata);
6.    Kodok dan sebangsanya (Amphibia);
7.    Buaya, penyu, kura-kura, biawak, ular air dan sebangsanya (Reptilia);
8.    Paus, lumba-lumba, pesut, duyung dan sebangsanya (Mammalia);
9.    Rumput laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya dalam air (Algae);
10.    Biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis – jenis tersebut diatas, termasuk ikan.

 CIRI IKAN SEGAR DAN IKAN TIDAK SEGAR
Ikan yang segar adalah ikan yang baru saja diperoleh dari hasil penangkapan maupun budidaya dan belum mengalami proses pengolahan lebih lanjut. Dalam pengertian lain, ikan segar adalah ikan yang belum mengalami perubahan fisik maupun kimia yang kondisinya masih seperti saat ikan ditangkap (Riza Rahman Hakim, 2009).
Ciri – ciri umum ikan segar dengan ikan yang tidak segar adalah sebagai berikut:
Ikan Segar    Ikan Tidak Segar
1.    Kulit
•    Warna terang dan jernih
•    Masih Kuat mebungkus tubuh, tidak mudah sobek, terutama bagian perut
•    Warna – warna khusus pada ikan masih terlihat jelas
     •    Warna suram, pucat dan banyak mengandung lendir
•    Terlihat mengendur di beberapa tempat dan mudah robek
•    Warna khusus sudah mulai hilang
Ikan Segar    Ikan Tidak Segar
1.    Sisik
•    Menempel kuat pada tubuh sehingga sulit dilepas

     •    Mudah terlepas dari tubuh, bahkan beberapa sudah terlepas

Ikan Segar    Ikan Tidak Segar
1.    Mata
•    Terlihat terang, jernih, menonjol dan cembung
     •    Terlihat suram, tenggelam dan berkerut
Ikan Segar    Ikan Tidak Segar
1.    Insang
•    Berwarna merah segar, terang dan lamella insang terpisah
•    Insang tertutup oleh len¬dir berwarna jernih dan berbau segar spesifik ikan
     •    Berwarna coklat suram atau abu – abu dan lamella insang berdem¬petan
•    Lendir insang keruh dan berbau asam menusuk hidung

Ikan Segar    Ikan Tidak Segar
1.    Daging
•    Tekstur daging kenyal, menandakan rigormortis masih berlangsung
•    Daging dan bagian tubuh lainnya berbau segar spesifik ikan
•    Bila ditekan dengan jari, tidak tampak bekas lekukan
•    Melekat kuat pada tulang
•    Daging perut khusus¬nya, utuh dan kenyal
•    Warna daging putih atau spesifik jenis ikan.  
 •    Tekstur lunak, menan¬dakan rigormortis sudah selesai
•    Daging dan bagian tu¬buh lainnya sudah mulai berbau busuk
•    Bila ditekan dengan jari, tampak bekas lekukan
•    Daging mudah terlepas dari tulang
•    Daging perut khususnya, lembek dan isi perut mudah/sering keluar
•    Warna daging kuning kemerahan terutama di sekitar tulang atau sudah tidak spesifik jenis ikan

Ikan Segar    Ikan Tidak Segar
1.    Keberadaan di dalam Air
•    Tenggelam     •    Mengapung atau melayang dalam air

Ciri-ciri Udang Segar :
1.    Udang segar berwarna jernih dan tidak terdapat bintik-bintik hitam;
2.    Tekstur daging kenyal dan tidak lembek;
3.    Cangkang keras dan mengkilap serta tidak berlumut;
4.    Kaki dan kulit serta kepalanya masih utuh dan tidak mudah lepas;
5.    Bau udang segar khas atau tidak berbau busuk;
6.    Udang tidak lengket satu sama lainnya
Ciri Kerang Segar :
1.    Warna daging kerang belum berubah dari aslinya;
2.    Cangkang banyak yang terbuka, ini menunjukkan kerang tersebut masih hidup;
3.    Beraroma khas bukan beraroma busuk;
4.    Khusus kerang yang telah dikupas dari cangkangnya, daging dalam kondisi utuh dan padat
Ciri-ciri Cumi Segar
1.    Badannya kenyal dan kokoh saat ditekan;
2.    Kepala cumi masih menempel erat pada tubuh (tidak menjulur keluar);
3.    Badan dilapisi selaput lendir jernih;
4.    Mengeluarkan bau khas dan bukan bau busuk;
5.    Warna daging cumi yang ukurannya kecil keunguan dan memiliki bintik – bintik hitam;
6.    Warna daging cumi yag ukurannya besar putih dan memiliki sedikit bintik hitam.              Ciri-ciri Kepiting/Rajungan Segar
1.    Kepiting umumnya dijual dalam keadaan hidup karena itu biasanya diikat;
2.    Rajungan dijual dalam keadaan sudah mati;
3.    Jari kepiting/rajungan masih lengkap termasuk capitnya;
4.    Tekan dengan jari pada bagian belakang bila terasa keras berarti kepiting/rajungan itu gemuk dan  sehat.
5.    Baunya khas dan tidak bau busuk


      GIZI IKAN DAN MANFAATNYA BAGI TUBUH
Gizi adalah elemen yang terdapat dalam makanan dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh diantaranya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Gizi yang seimbang dibutuhkan oleh tubuh, terutama pada anak – anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Dimasa tumbuh kembang anak yang berlangsung secara cepat, khususnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau periode emas anak dibutuhkan makanan dengan kualitas dan kuantitas yang tepat dan seimbang. Ikan sebagai sumber pangan yang kaya akan gizi memiliki elemen – elemen yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia sejak 1000 HPK hingga tua.
Ada pun kandungan gizi ikan secara umum diantaranya:
Omega – 3
Kandungan docosahexanoic acid (DHA) dan eicosapentaenoic acid (EPA) sangat baik untuk perkembangan sel – sel otak yang berguna bagi kecerdasan dan mata untuk mempertajam penglihatan.
Protein
Zat pembangun, setara dengan daging, lebih mudah dicerna, mendekati asam amino dalam tubuh manusia mengandung asam amino paling lengkap terutama lysine dan threonine.
Vitamin
Vit.A: antioksidan, mata sehat; Vit.D: metabolisme kalsium, pertumbuhan tulang; Vit.B6: metabolisme asam amino dan lemak, mencegah anemia & kerusakan syaraf; Vit.B12: pembentukan sel darah merah, metabolisme lemak, melindungi jantung.
Mineral
Zat besi: pembentukan sel darah merah; Yodium: kesehatan thyroid, cegah gondok; Selenium: antioksidan; Seng: membantu kerja enzim dan hormon; Fluor: kesehatan gigi
Bio-Active
Komposisi nutrisi yang sangat baik untuk menguatkan vitalitas tubuh.
Asam Lemak Tak Jenuh
Mengandung High Density Lipoprotein (HDL)/kolesterol yang baik yang dapat mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah/athero schlerosis
Selain hal di atas, berdasarkan literatur dari berbagai sumber telah diketahui manfaat ikan yang lain adalah:
1.    Makan ikan dapat memperkuat tulang dan kuku;
2.    Mengurangi resiko kelahiran prematur pada bayi;
3.    Mengurangi resiko asma pada anak;
4.    Mengurangi resiko kanker ginjal;
5.    Mengurangi diabetes pada anak;
6.    Mengurangi resiko penyakit kronis;
7.    Mengurangi kesehatan mental pada anak;
8.    Minyak ikan mencegah penyakit kanker kulit, dll.

Berdasarkan data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan, tingkat konsumsi ikan nasional dalam kurun 2007 – 2012 mengalami trend kenaikan setiap tahun. Pada tahun 2009 tingkat konsumsi ikan rata-rata adalah 29,08 Kg/Kap/Th sedangkan pada tahun 2012 sudah mencapai 33,89 Kg/Kap/Tahun. Semoga dengan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) dengan strategi kemitraan dapat meningkatkan konsumsi ikan nasional pada tahun-tahun mendatang.

(Direktorat Bina Gizi )  By : http://www.gizikia.depkes.go.id