Rafting Malimpa dan UMY

|| || ,,,,, || 3 komentar
Kebersamaan senantiasa memberikan makna tersendiri. Rafting gabungan antara MAPALA UMY (Univ. Muhammadiya Jogyakarta) dan MALIMPA (Univ. Muhammadiyah Surakarta).

Lomba Panjat Dinding Nasional (LPDN) IV - MALIMPA

|| || ,,,,,,,,, || Leave a komentar
LPDN IV 
(Lomba Panjat Dinding Nasional IV)
Non Atlet PON 2008 KALTIM

Download  : Poster LPDN
Download : Brosur Lengkap




WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN
Hari : Sabtu - Minggu
Tanggal : 24 – 25 Juli 2010
Waktu : 08.00 WIB s/d Selesai
Tempat : Wall Climbing Kampus 2 UMS 
              Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan, Surakarta, Jawa Tengah. 
              (Timur RS Islam Surakarta)

TEMPAT PENDAFTARAN
Sekretariat MALIMPA-UMS di Kampus 1
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan, Surakarta,
Jawa Tengah.

WAKTU PENDAFTARAN
Tanggal 22 Juni – 23 Juli 2010 (Sebelum TM)

TECHNICAL MEETING
Hari/Tanggal :Jum’at, 23 Juli 2010
Waktu          : 19.00 WIB
Tempat        : Sekretariat MALIMPA-UMS
                    Kampus 1 Jl. A. Yani Tromol Pos 1
                    Pabelan, Surakarta, Jawa Tengah.

FASILITAS
- Penginapan
- T-Shirt :
   Diberikan kepada peserta yang mengkonfirmasi ikut LPDN IV sampai pada tanggal 15 Juli 2010.
   Jika peserta mendaftar diatas tanggal 15 Juli 2010, maka tidak mendapatkan T-Shirt 
   dan biaya  pendaftaran tetap Rp. 50.000,-
- Stiker
- Sertifikat juara
- Sarapan (Selama di karantina)
- Nomor Punggung

KETENTUAN PENDAFTARAN
- Menyerahkan surat rekomendasi sekolah/ organisasi/Kesatuan
- Wajib mengikuti technical meeting

HADIAH
Lead Umum Putra
  Juara I : Piala + U.Pembinaan Rp. 1.500.000,-
  Juara II : Piala + U.Pembinaan Rp. 1.000.000,-
  Juara III : Piala + U.Pembinaan Rp. 750.000,-
 Lead Umum Putri
  Juara I : Piala + U.Pembinaan Rp. 1.000.000,-
  Juara II : Piala + U.Pembinaan Rp. 750.000,-
  Juara III : Piala + U.Pembinaan Rp. 500.000,-
Lead Pelajar Putra
  Juara I : Piala + U.Pembinaan Rp. 1.000.000,-
  Juara II : Piala + U.Pembinaan Rp. 750.000,-
  Juara III : Piala + U.Pembinaan Rp. 500.000,-
Speed Kelas Militer / Kepolisian
  Juara I : Piala + U.Pembinaan Rp. 1.000.000,-
  Juara II : Piala + U.Pembinaan Rp. 750.000,-
  Juara III : Piala + U.Pembinaan Rp. 500.000,-

Ket: PIALA PANGDAM IV DIPONEGORO
                                    (dalam Konfirmasi)

PESERTA LOMBA
  • Organisasi Pecinta Alam Se-Indonesia
  • Klub Pemanjat
  • Anggota KEPOLISIAN / TNI
  • Pelajar/ Sispala
  • Masyarakat Umum

BIAYA PENDAFTARAN
   Rp. 50.000,- (1 kategori)
   Rp. 90.000,- (2 kategori)

JALUR TRANSPORTASI
  • Naik Bus : Dari Surabaya turun terminal Tirtonadi/ Solo, naik bus jurusan Jogjakarta/ Semarang turun Kampus UMS Pabelan.
  • Naik Kereta Api : Dari Surabaya turun stasiun Purwosari, naik amgkot 01/ Damri/ Taxi turun Kampus UMS Pabelan.
  • Turun pesawat bandara Adi Sumarmo, langsung naik Taxi turun UMS.
  • Jika dari arah Jakarta/ Semarang/ Jogjakarta naik Bus jurusan Solo bisa langsung turun Kampus UMS Pabelan.

KETENTUAN PENDAFTARAN
- Datang Langsung ke sekretariat MALIMPA-UMS

- Via SMS
   Ket Ketik : LPDNIV spasi NAMA spasi KATEGORI
   contoh : LPDNIV Cebret LeadUmumPutri
   Kirim ke : Pradita : 085225664110
                    Okta     : 081932747974
                   Dian      : 085725602794

- Via Facebook/ E-mail
  Caranya : Isi formulir yang ada di blog www.malimpasolo.blogspot.com
                atau kirim via email malimpasolo@gmail.com

TEMPAT PENDAFTARAN
Kampus 1 Sekretariat MALIMPA (Mahasiswa Muslim Pecinta Alam)
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan, Surakarta, Jawa tengah 57102.
Telp : 0271-717417 ext 312
Fax : 0271-715445
E-Mail / facebook : malimpasolo@gmail.com
Blog : malimpasolo.blogspot.com


Pendaftaran via transfer melalui rekening
- Bank BRI an. Dian Pradita
  NoRek : 0097-01-035414-50-0
  Cab : Solo-Sudirman

- Bank BNI an. Okta Priyastiwi
  NoRek : 0135428772
  Cab : Slamet Riyadi

- Bank BCA an. Iman Harse P.
  NoRek : 3620153540
  Cab : Slawi
(setelah transfer biaya pendaftaran langsung konfirmasi dan tunjukkan slip transfer saat registrasi)


SELAMAT BERLOMBA
JUNJUNG TINGGI SPORTIFITAS

Sekilas Perjalanan MALIMPA

|| || || Leave a komentar
Sekilas Perjalanan MALIMPA

Lembaga pendidikan yang di situ terdapat aktifitas dan kreatifitas pendidikan muncul dengan sendirinya seiring dengan waktu, maka dalam sebuah lembaga kemajuan dan ke suksesan lembaga pendidikan salah satunya bisa terlihat di aktifitas yang muncul. Pada tahun 1979 IKIP Muhammadiyah yang berada di Surakarta yang waktu itu dengan jumlah mahasiswanya Cuma ± 600 Mahasiswa yang terdiri dari ± 240 mahasiswa tingkat I KIP EU dan CH sedang sisanya yang sudah jd mahasiswa. Pada awal menjadi mahasiswa waktu itu didakan sbuah media pengenalan akademisi yang bernama MKP ( Masa Perkuliahan Pendahuluan ) yang sekarang kita sebut dengan OSPEK atau PPA (Program Pengenalan Akademis), Pada waktu masih IKIP Muhammdiyah perkuliahan di adakan di siang hari tidak seperti sekarang ini dan baru ada jurusan EU, PU, BP2EH, yang terdiri dari fakultas FIP dan KIP.
Dari berbagai aktifitas pengenalan akademis itu muncul berbagai komunitas mahasiswa yang peduli dan berperan dalam MKP ( Masa Perkuliahan Pendahuluan ), yang notabenya waktu itu masih dalam pengkondisian yang belum terorganisir secara struktural. Maka munculah salah satu sekumpulan komunitas pada tahun 1978 di IKIP Muhammadiyah yang mengatas namakan komunitas Pecinta Alam. Berawal dari kegiatan mahasiwa di lingkungan perguruan tinggi maka komunitas Pecinta Alam mengawali dengan kegiatan Ektra di Pacitan yang di ikuti dari para anggota yang sudah saling mengenal dan saling berkumpul berdekatan untuk menciptakan suasana yang lebih kondosip dalam perkumpulanya di pengkondisian waktu itu berkumpul mereka-mereka saling berpasang pasangan. Dan ketika kegiatan di pacitan ada sebuah obrolan untuk mengadakan kegiatan berikutnya yaitu kegiatan Heyking dari Tawangmangu sampai magetan dengan jalan kaki. Karena belum terstruktur dan terorganisasir maka belum mendapatkan dana kegiatan dari IKIP dan waktu itu dalam kegiatan yang kedua para anggota melakukan iuran untuk naik bus dari solo ke tawang mangu. Kebetulan waktu itu saya’…..dan Bhak Nanik ’Perintis Malimpa’ mendapat tugas mencari sebuah kendaran untuk peserta 30 orang anggota komunitas. Pada tahun 1979 setelah datang mahasiswa baru maka saya dan anggota komunitas lainnya melakukan rencana kegiatan berikutnya, karena waktu itu kita kebetulan ada hari bebas kamis dan jumat sehingga bias di gunakan dengan kegiatan ektra. Berawal dari kegiatan hyking di tawangmangu yang sukses maka kekegiatan selanjutnya di putuskan untuk melakukan hyking lagi dengan lokasi yang berbeda. Yaitu hyking di daerah lawu utara yang mengambil perencanaan rute : kampus – kleco sampai masaran dan istirahat di masaran tidur tempat “Musmirah” ‘Perintis Malimpa’, dari masaran menuju gunung warak (Sine Jaten) dan istirahan tidur di tempat Bpk. Surah Kuniran ‘Perintis Malimpa’, dari sine menuju batu jamus dan istirahat di batujamus untuk melanjutkan menuju tawangmangu selanjutnya kumpul di karangpandan. Setelah anggota kumpul dan istirahat di karangpadan terus di jemput dengan sebuah Truk untuk kembali ke kampus kleco sehingga total perjalan hyking yang ke dua di tempuh 4 hari.
Berpijak dari berbagai kegiatan yang telah di adakan komunitas maka semakin banyak peminatnya, sehingga saya dan teman anggota komunitas yang lain berkeinginan kegiatan yang sudah diadakan lebih terorganisir dan terstruktur. Maka waktu itu kita agendakan sebuah pertemuan anggota komunitas untuk membahas adanya sebuah organisasi Pecinta Alam di lingkungan IKIP Muhammadiyah. Dan dari pertemuan itu di putuskan sebuah nama Komunitas Pecinta Alam di IKIP dengan Nama MALIMPA ( Mahasiswa Muslim Pecinta Alam) di IKIP Muhammadiyah. Dan waktu itu di setujui dengan ketua Bpk.Harjanto ‘Perintis Malimpa’ (Almarhum) belum di ajukan ke Rektor dan masih dalam sebuah proses perjalan pendirian organisasi resmi di lembaga pendidikan IKIP Muhamadiyah. Setelah terbentuk sebuah komunitas Pecinta Alam dengan nama MALIMPA dan adanya struktur ketua Malimpa maka diadakalah kegiatan untuk mengawalinya yaitu ke puncak Telomoyo. Kegiatan ke puncak telomoyo yang berkumpul di Balai Desa Banyu Biru dengan agenda kegiatan ; diadakannya Da’wah dan bakti social, ceramah keagamaan oleh Bpk.Didik SW ’Perintis Malimpa’ dan Bpk. Mahmudi Sholeh ‘Pembina 1 Malimpa’ (Almarhum). Setelah berbagai rangkaian kegiatannya diadakan sebuah pensolitan struktur organisasi dan di akuinya secara resmi Organisasi MAlimpa di IKIP Muhammadiyah Oleh Bpk.Djasman Huadi selaku rector waktu itu di Bulan Mei 1979 bersama dengan Teater Kidung, Menwa, Koran Mentari, pada penutupan PORSENI IKIP Muhammadiyah. Maka Malimpa dengan Struktur Organisasi di setujuinya dengan ketua : Pertama Didik SW, Sekretaris : Koes, Bendahara : Wiwik Is’roh dan dalam kegiatanya sehari hari melakukan kegiatan di kampus dan aktifitas di luar sesuai dengan misi dan visi organisasi.
Seiring dengan perkembangan jaman kegiatan Malimpa berkembang tidak cuma Hyking akan tetapi Bakti social dan dakwah islami yang di adakan tiap hari besar yang lain. Pada waktu itu masih sering kali kegiatan Malimpa khususnya di dana masih di tanggung oleh para anggotanya, misalnya pada waktu bakti social para anggota di kondisikan untuk membaw dan menyumbangkan Pencil, buku tulis, dan peralatn yang layak untuk di sumbangakan. Pada awal berdirinya Malimpa pernah mengadakan 2 kali kegiatan Khitanan Massal yaitu : pertama ; di desa Weru, Baki Sukoharjo, kedua ; di desa tanon Kab Sragen. Bakti social yang paling besar dan ramai di daerah giriwoyomWonogiri dengan berbagai bentuk sumbangan antara lain ; buku bacaan agama, Buku tulis, pencil, tikar, Petromak, kain, rukuh, jam diding, sadjadah, dll. Maka dari situlah Malimpa lebih sering mengadakan kegiatannya dan lebih menyempurnakan kegiatan pencita alam sebagai kegiatan di IKIP Muhammadiyah hingga sekarang yang meliputi Hyking, Da’wah Islam, Bakti Sosial, sekaligus mengenalkan IKIP Muhammadiyah lewat aktifitas Pecinta Alam.
Demikian sekilas perjalanan kegiatan berdirinya Malimpa dari IKIP Muhammadiyah Sampai UMS, dari kegiatan Malimpa banyak yang sifatnya antar personal yang tidak saya critakan. Semoga sedikit crita ini bias lebih membuat maju dan mampu melakukan penelitian bagi lingkungan yang nantinya bias berguna bagi bangsa kita INDONESIA bahkan bagi Dunia pada umumnya. Amin…

Penulis;
Koes ‘Jotek yang memunyai kegiatan seharian di Puslitbang UMS lebih mempunyai aktifitas dan gaya kaya anak muda katanya biar awet muda ngenomi.,,,,klu ngrokok pakai tulang pipa ni merupakn salah satu perintis MALIMPA (Mahasiswa Muslim Pecinta Alam) ni mempunyai segudang aktifitas ketika mudanya anatara lain :
 Dua Periode kepengurusan di awal bedirinya :
I. Ketua Didik, Sekretaris Koes’Jotek, Bendahara Wiwik
II. Ketua Ali Ahmadi Sekretaris Koes’Jotek, Bendahara G.Sundary
 Anggota Team seperti Getek Mangkunegara, Napak Tilas
 Anggota Team naik rakit banbu dari Bogor ke Jakarta di sungai Ciliwung Tahun 1975

Ekspedisi Pantai Utara

|| || || Leave a komentar
Kesuksesan acara pamungkas Dasawarsa Malimpa, benar-benar membawa perubahan baru yang mencerahkan atmosfir di Malimpa. Anggota Malimpa tak takut lagi merencanakan kegiatan yang menantang bahaya. Memasuki libur semester ini, Malimpa berniat menggelar ekspedisi.
Rencana ini tentu masuk akal. Sebab, kebesaran sebuah perhimpunan pencinta alam, tidak hanya diukur dari deretan piala yang diraihnya. Melainkan, juga ditentukan oleh seberapa banyak mereka menggelar ekspedisi.
Malimpa belum tahu banyak tentang ekspedisi. Pengetahunnya baru sebatas teori yang belum dibuktikan keampuhannya. Langkah yang paling efisien mengerti ekspedisi, adalah dengan melakukan ekspedisi itu sendiri.
Sayangnya, jatah anggaran Malimpa tak banyak lagi. Kalaupun dipaksakan, juga tak bakal mencukupi. Mengharapkan uluran anggota Malimpa juga bukan langkah bijaksana. Anggota Malimpa – siapapun dia – sudah teramat sering mengorbankan rupiahnya buat mensukseskan acara Malimpa yang mereka ikuti. Jadi, kalaupun harus menggelar ekspedisi, haruslah yang bersifat efisien dan efektif. Malimpa sponsor utama dan peserta sponsor pendamping. Kondisi inilah yang kemudian, membuat Malimpa menggelar kegiatan berjudul, “Ekspedisi Penelusuran Pantai Utara Jawa Tengah”.
Hal lain yang menjadi pertimbangan Malimpa, menggelar ekspedisi yang berlangsung pada 8 - 6 Juli 1989 adalah, ekspedisi ini berbiaya kecil. Namun resiko celakanya cukup besar. Tidak memerlukan peralatan rumit. Serta tidak juga memerlukan latihan spesial. Pesertanyapun, tidak dituntut macam-macam. Bahkan, tidak harus lulus kualifikasi khusus dengan standar tertentu pula.
Syarat mengikuti ekspedisi ini, hanyalah berani malu. Siap tidak mandi-mandi. Tak bakal mengalami gangguan pencernaan, jika selama ekspedisi menyantap aneka makanan aneh, yang pasti dilarang ahli kesehatan mengkonsumsinya. Terakhir, tulang betis harus kuat dan dijamin tak akan retak, walaupun berjalan non stop selama sembilan hari Jepara -Rembang.
Ternyata, ekspedisi ini menarik minat banyak anggota Malimpa. Dari delapan “kursi” yang disediakan, pesertanya membengkak menjadi sembilan orang. Kesembilan orang itu adalah, Lumadiyana alias Genter, Eni Putri dan Lestari Bulek, ketiganya FKIP. Kemudian Toni dan Ansori.Kancil, keduanya Teknik. Lalu Puput Psikologi. Terakhir Falih NH, Sugiyarto dan aku sendiri, kami bertiga dari Ekonomi.
Sesuai agenda ekspedisi, Keberangkatan tim akan diantar oleh anggota Malimpa -- naik bis kampus -- hingga ke titik start di Pantai Kartini Jepara. Lantas, usai acara pelepasan yang dipimpin Medi, rombongan penggembira akan balik ke kampus. Sedangkan peserta ekpedisi bermalam di pantai ini, memanfaatkan stand milik tukang arum manis.
Esoknya, usai subuh tim ekspedisi mulai bergerak. Baru berhenti menjelang maghrib, dimanapun berada. Lantas, mendidirkan tenda putih blacu, tempat kami berlindung dari angin laut. Proses ini, terus berjalan mulai dari titik start, lalu ke Bugel. Lantas memasuki Benteng Portugis. Kemudian ke Tayu, dilanjutkan ke Juwana hingga memasuki garis akhir di pantai Kartini Rembang.
Dalam rentang sembilan hari tersebut, tim eskpedisi hanya berhenti agak lama di daerah Pati. Seorang peserta ulang tahun. Berhari jadi di tengah ekspedisi bukanlah sesuatu yang sering terjadi. Kami berdelapan sengaja beristirahat sedikit lebih lama, buat memberikan kebahagian kecil, kepada sahabat tersayang kami yang berultah, Puput.
Boleh dikata ekspedisi ini tak menemui hambatan mematikan. Kalaupun sempat berkali-kali terjebak lumpur pantai utara, atau nyaris dipatuk ular laut yang berbisa, justru itulah yang membuat ekspedisi ini bermakna.
Banyak hasil yang dapat dipetik dari ekspedisi ini. Dari sudut “ilmiah” umpamanya Ekspedisi ini tergolong sukses, karena telah memberi banyak pengetahuan tentang berbagai hal di pantai utara. Anggota tim ekspedisi ini, menjadi semakin hapal luar kepala bahwa, jika lubang ozon kian sobek, maka pihak pertama yang akan merana berkepanjangan, adalah masyarakat yang tinggal di pesisir. Tambak udangnya, rumah dan kebun kelapanya, akan terendam air laut yang pasang.
Dipandang dari segi kesehatan dan perkembangan mental, ekspedisi ini juga sangat membanggakan. Tak seorang pun dari sembilan peserta yang menderita muntaber. Terserang jamur kulit, atau mengalami patah kaki. Bahkan, yang lebih menggembirakan lagi, kesembilan peserta ini, sama-sama merasa lebih hitam legam dari sebelumnya. Serta sama-sama merasa lebih berani malu.

MILAD MALIMPA ke 13

|| || || Leave a komentar
Khusus memperingati hari jadi Malimpa yang ke 13. Malimpa periode ini tetap melaksanakan wasiat 3 generasi terdahulu, “ Wajib melaksanakan tiga kegiatan sekaligus, yang salah satunya harus tumpengan”. Berdasarkan mantra sakti itulah, “13 Tahun Malimpa” diisi acara Reuni, Tumpengan, Serta Ekspedisi Jalur 13.
Sedangkan dalam rangka memeriahkan hari Lingkungan Hidup se-Dunia, Malimpa mengadakan acara tanam pohon buah di kampus UMS dan sekitarnya. Lalu, dilanjutkan dengan mengirim tim kecil beranggotakan Habib, Nana, Budi Bodrex Ekonomi dan aku sendiri, mendaki gunung Semeru (3672 m) di Jawa Timur. Tim campuran ini, melalui jalur normal Ranu Pane. Bermalam di Ranu Kumbolo, lalu di Kalimati. Diniharinya, dilanjutkan ke puncak Semeru. Yaitu, Mahameru dan Jonggring Saloka.
Kegiatan yang dimaksudkan sebagai proyek pertama pendakian Malimpa ke gunung di luar Jateng ini, tidak saja berhasil mengibarkan bendera Malimpa di puncak gunung tertinggi di P. Jawa. Tetapi, berhasil juga mengantar Nana menjadi anggota putri Malimpa pertama, yang berhasil ke puncak Semeru.
Reuni yang Bersahaja
Reuni dilaksanakan 25 Mei 1992 siang, sedangkan tumpengan malamnya. Acara reuni yang dimaksudkan sebagai jembatan silaturrahmi antara anggota Malimpa, yang berstatus mahasiswa dengan anggota Malimpa generasi terdahulu, berlangsung bersahaja. Dengan reuni ini, anggota Malimpa generasi terkini, dapat berjumpa langsung dengan semua kakaknya. Yang selama ini hanya dikenal melalui photo dan kisah perjuangan luar biasanya mengibarkan bendera Malimpa “tempoe doeloe’. Sang kakak pun menjadi tahu bahwa, prestasi Malimpa tetap terjaga. Cita-cita dan semangat mereka, tetap digelorakan
Acara yang dihadiri sekitar 50 anggota Malimpa dari berbagai generasi tersebut, disisi lain, juga menjadi katup pelepas rindu antara kakak kami tersebut. Karena sejak meninggalkan UMS. Mereka jarang bertemu. Bahkan, tak sedikit diantaranya yang “kehilangan jejak”. Melalui reuni ini, komunikasi yang putus, dijalin kembali.
Yang lebih membahagiakan, dalam reuni ini banyak diatara kakak kami yang membawa keluarga bahagianya. Anak-anak mereka – keponakan Malimpa – langsung akrab. Walaupun baru bererapa menit bertemu. Tampaknya, mereka mewarisi sifat orang tuanya yang anggota Malimpa, gampang arab dengan siapapun. Mereka bermain-main di sela-sela acara reuni. Tetapi, tak seorang pun yang merasa terganggu.
Sayangnya, kakak kami tersebut -- karena kesibukannya -- tak dapat menghadiri acara tumpengan 13 tahun Malimpa. Kami -- adiknya -- mengerti dan sangat memakluminya. “Sampai jumpa kak”.
Jalur 13
Jurang Jumo, Gondosuli, Kec. Tawangmangu. Kab. Karang Anyar. Terpilih sebagai lokasi “Ekspedisi Jalur 13”, dengan pertimbangan bahwa, di lokasi tersebut, belum pernah ada kelompok pencinta alam dari manapun, yang menggelar ekspedisi pembuatan jalur baru panjat tebing. Sementara, tebing yang menjadi dinding Jurang Jumo, mempunyai tingkat kesulitan yang ideal sebagai lokasi membuat jalur baru, karena, jenis batunya adalah Andesit. Batu jenis ini sangat keras. Sangat susah dipasang paku tebing. Batu berwarna hitam berbentuk lempeng-lempeng tersebut, berpermukaan mulus dan tak ada tonjolan ataupun lubang-lubang kecil. Hanya terdapat rekahan-rekanan, yang jumlahnya pun tak seberapa.. Tingkat kemiringan Jurang Jumo, juga meyakinkan. Mulai 80 hingga tegak lurus 90 derajat.
Pertimbangan lainnya, Jurang Jumo merupakan lokasi inti Pendidikan Dasar Malimpa. Sehingga hasil ekspedisi ini, dapat dijadikan sebagai, “jalur percontohan”, kepada calon anggota baru Malimpa.
Dari segi biaya, ekspedisi ini tidak menelan biaya yang terlalu besar, karena disamping lokasinya gampang dijangkau, peralatan Malimpa yang akan digunakan dalam ekpedisi, sudah memadai. Ekspedisi ini hanya membutuhkan paku tebing baru, serta beberapa peralatan kecil lainnya, yang harganya tak terlalu tinggi.
Yang dipercaya melaksanakan “Ekspedisi Jalur 13”, adalah Ipunk dan Genter. Bersama mereka, disertakan pula tiga generasi muda penuh potensi., yaitu, Khabib, Ardian dan Zulfahmi.
Terpilihnya Ipunk sebagai skuad inti ekspedisi ini, memang sudah diperkirakan banyak orang. Karena alumni Diklatsar V ini, mempunyai kemampuan panjatnya yang mengagumkan. Ipunk memang adalah pendaki terbaik yang pernah dilahirkan Malimpa. Pengorbanannya untuk mengangkat harkat dan martabat panjat tebing Malimpa ke tingkat yang lebih tinggi, patut diacungi jempol. Sehingga tak berlebihan jika dikatakan, Mahasiswa FKIP ini -- bersama Genter -- adalah perintis kemajuan panjat tebing di Malimpa.
Ipunk telah mendatangi semua medan penting latihan panjat tebing di Jateng dan DIY. Ia pun telah berkali-kali mengikuti kejuaran panjat dinding. Hasilnya pun, tidak mengecewakan. Sisi menarik dari sahabat kami ini adalah, ia tak pernah pelit ilmu. Dengan segala kesabarannya, Ipunk selalu mengajarkan ilmu – teknis dan non teknis – panjat tebingnya, ke semua anggota Malimpa. Keberhasilan ekspedisi ini sangat bergantung kepadanya.
Sama seperti Ipunk, terpilihnya Genter di ekspedisi perdana Malimpa membuat jalur panjat, juga sudah diperkirakan banyak orang. Ditopang posturnya yang tinggi besar, serta betis yang kokoh dan jemari yang kuat. Genter sangat hebat di panjat tebing. Ia pun sudah mendatangi berbagai medan penting latihan panjat. Serta, telah berkali-kali mewakili Malimpa di kejuaran panjat dinding. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Ekpedisi ini juga sangat bergantung kepadanya.
Tidak hanya panjat tebing yang ia kuasai. Berbagai jurusan kegiatan di Malimpa, ia tekuni dengan serius. Bahkan, menangani ular berbisa pun ia kuasai. Kemampuannya tersebut, membuat Alumni Diklatsar V ini, selalu terpilih menjadi moderator sekaligus asisten pawang ular yang mengisi materi ‘Penanggulanan Hewan Berbisa’, di setiap Diklatsar Malimpa.
Yang mengagumkan dari sahabat kami ini adalah, ia juga tak pelit ilmu. Bahkan, ia sengaja belajar berbagai ilmu pencinta alam, semata-mata agar dapat lebih banyak lagi, membagikan ilmunya kepada semua sahabatnya di Malimpa.
Disamping itu, Genter juga mempunyai kemampuan di bidang seni lukis. Namun, karena kesibukannya di Malimpa, kemampuannya tersebut, belum berkembang maksimal. Sehingga, sampat saat ini, satu-satunya orang di dunia yang menjadi kolektior lukisannya , masih dirinya sendiri.
Sedangkan ketiga sahabat muda kami tadi, terpilih menjadi anggota “Ekspedisi Jalur 13”. Karena memang ketiganya sangat mumpuni dibidang ini. Khabib umpamanya. Alumni Diklatsar VIII. Sedari awal masuk Malimpa sudah menjukan bakat bagusnya di panjat tebing. Sehingga dalam waktu cepat – dibawah bimbingan Ipunk dan Genter – Khabib telah menunjukan gaya panjat yang mempesona. Begitu halnya Zulfahmi dan Ardian. Kemampuannya di bidang ini, juga tak dapat dianggap remeh. Mereka juga telah mempunyai gaya panjat khasnya masing-masing
Disamping pertimbangan teknis diatas, pertimbangan lainnya adalah, ketiganya juga mempunyai kemampuan bersifat keilmuan yang dibutuhkan untuk mensuksesan kegiatan ini. Khabib dan Ardian yang dari Georafi umpamanya. Mereka berdua menguasai pengetahuan bebatuan tebing. Pandai membaca gejala-gejala alam. Mengerti pergerakan angin dan -- tentu saja -- mengetahui, kapan hujan deras akan turun.
Ilmu Zulfahmi di bidang akuntansi, yang ia kuasai dengan baik, juga sangat membantu. Dengan kelebihannya tersebut, diharapkan tim ekspedisi ini, dapat membuat laporan akhir yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku di dunia internasional.
Akhirnya, seperti yang diduga. Ekspedisi yang memakai teknis panjat artificial – gaya memanjat dari bawah dan tanpa pengaman dari atas – berhasil dengan baik Bahkan lebih cepat dua hari dari target yang digariskan. Jalur ini kemudian dinamakan “Jalur 13”.
Keberhasilan Malimpa membuat jalur baru, mendapat apresiasi yang baik dari UMS. Sabtu, 23 Mei 1992. PR. III UMS. Yang mewakili UMS. Mengunjungi anggota “Ekspedisi Jalur 13”, di lokasi ekspedisi Jurang Jumo. Dalam kesempatan ini -- Ipunk mewakili rekannya -- menunjukan kemampuannya dengan memanjat habis Jalur 13, dalam waktu cepat dengan gaya yang mempesona. PR II UMS. Terkagum-kagum dibuatnya.
Keberhasilan membuat jalur baru setinggi 57 m. Membuat prestasi Malimpa kian lengkap. Kala itu, jagat raya pencinta alam sedang kerasukan hebat panjat tebing dan dinding. Sehingga, lomba panjat tebing muncul dimana-mana, penontonnya pun ramai. Tebing-tebing di segala pelosok daerah laku dipanjati -- tentu saja -- oleh pemanjatnya. Namun, dari semua demam itu, ekspedisi pembuatan jalur barulah yang menempati kasta tertingginya. Sebab, tak sembarang pihak bisa melakukannya.
Ekspedisi semacam ini, membutuhkan perhitungan cermat. Waktu yang tepat. Peralatan yang baik. Fisik yang prima. Serta kemampuan panjat level tinggi. Faktor inilah yang membuat ekspedisi pembuatan ajlur baru, sangat jarang digelar. Masih sebatas kelompok-kelompok besar dan terkenal saja.
Keberhasilan Malimpa menggelar “Ekspedisi Jalur 13”, yang dilaksanakan pada 20-24 Mei 1992 tersebut. Juga bukanlah proses sekali jadi. Melainkan telah melalui proses panjang yang dimulai dari, “Celah bukit berhantu” di era Achmad Sumedi. Pengalaman tersebut kemudian diperlebar oleh dinding “Kanan kiri oke”, di jaman Toni. Lantas, ditinggikan oleh dinding panjat berbahan barang “temuan”, di masa kepemimpinan Puput.
Itupun masih ditambah latihan di gunung Botak Wonogiri. Telogo Delingo Klaten. Tebing di pantai Selatan Jogja. Serta jembatan Bengawan Solo dan bergelantungan di pohon-pohon besar di komplek pekuburan Makam Haji.
Jadi, Jalur 13 adalah puncak dari semua proses panjang tersebut.