MAPALA Jangan Kalah Sama Federasi

|| || ,,,,,,, || Leave a komentar
     Bila kita perhatikan beberapa kompetisi kegiatan alam bebas terutama cabang panjat tebing yang sebetulnya panjat dinding seperti kejurnas, lomba-lomba yang diadakan oleh mapala bahkan PON (Pekan Olahraga Nasional) didominasi oleh club-club panjat tebing ataupun delegasi dari daerah yang dinaungi oleh FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia). Para pelaku (atlet) olah raga panjat tebing ini didominasi oleh orang-orang yang berlatar belakang club panjat tebing atau binaan dari FPTI. Lalu bagaimana prestasi para mahasiswa pecinta alam (mapala) dalam kompetisi panjat tebing akhir-akhir ini?

Pemasyarakat Panjat Tebing
     Kita tahu betul sebelumnya olah raga alam bebas ini begitu kental dengan identitas mapala, kalau ditanya apa itu mapala?mungkin sebagian masyarakat menjawab orang-orang yang kerjaanya mendaki gunung, naik tebing, arung jeram dan banyak kegiatan lagi. Memang kegiatan panjat tebing ini lebih dulu dipopulerkan oleh mapala setelah mapala mengadopsi dari kalangan militer melalaui berbagai cara antara lain kegiatan ekspedisi, mengadakan lomba-lomba dengan iming-iming hadiah yang bervariasi atau dengan cara-cara lain. Melalui metode-metode memasyarakatkan panjat tebing mungkin di harapkan pada saat itu bisa lebih mempublikasikan mapala di kalangan masyarakat, sehingga nantinya semakin banyak yang berminat masuk mapala.
     Tapi lambat laun dengan sering diadakanya kompetisi-kompetisi panjat dinding membuat olah raga ini bisa dinikmati oleh siapa saja bukan hanya bisa dilakukan oleh mapala semata, tapi masyarakat umum bisa melakukanya dengan akses yang sangat mudah. Bahkan kita bisa melihat di beberapa kompetisi panjat tebing dilombakan kategori umur yang diikuti oleh anak-anak yang mempunyai kemampuan dalam olah raga ini.
     Pemasyarakat panjat tebing memang bukan mapala semata, justru orang-orang yang terlibat dalam olah raga inilah entah itu dari mapala atau bukan, yang berperan besar mengantarkan panjat tebing menjadi sebuah olah raga yang familiar bagi masyarakat awam. Bagaimana mereka (para pelaku olahraga panjat tebing) menyampaikan pesan bahwa panjat tebing bukan cuma milik salah satu komunitas tertentu dan semua bisa mencobanya karena memang panjat tebing tidak terkultuskan pada satu komunitas tertentu.

Foto: solopos.com

Dibentuk Federasi
     Melihat animo masyarakat serta pemasyarakatan olah raga panjat tebing ini semakin hari semakin besar pengakuan dari pemerintah pun terwujud, hingga akhirnya masuk ke dalam salah satu cabang olah raga yang dilombakan secara nasional. Dengan adanya cabang olah raga panjat tebing di PON, kesempatan memasyarakatkan panjat tebing sebagai olah raga yang aman mengakibatkan semakin bermunculan berbagai club panjat tebing dengan main stream kompetisi. Hal ini membawa dampak positif dan negatif bagi mapala sendiri, secara positif kesan kegiatan serta keberadaan mapala semakin diterima di masyarakat, sedangkan sisi negatifnya olah raga ini terkesan hanya berorientasi kompetisi tanpa melihat nilai-nilai yang terkandung dalam olahraga ini dan semakin menipisnya sisi prestisius sebuah mapala.
     Untuk mengakomodir animo masyarakat serta menstrukturkan panjat tebing menjadi sebuah cabang olah raga, dibentuklah FPTI sebagai wadah pembinaan atlet panjat tebing di Indonesia. Dengan segala metode pelatihan dan pembinaan bermunculan atlit-atlit binaan FPTI yang bukan saja berasal dari mapala tapi masyarakat awam yang ingin meraih prestasi. Sehingga jangan kaget ketika melihat sebuah kompetisi panjat tebing, peserta lebih dominasi oleh atlit FPTI dan club panjat tebing.
Berawal dari mapala
     Bila kita runut kebelakang lagi, panjat tebing memang lebih identik dengan mapala, karena mapala mempunyai kelengkapan sarana dan prasana karena kegiatan mapala bersentuhan langsung dengan kegiatan semacam itu. Bahkan bisa dikatakan sebagaian besar jajaran pengurus aktif FPTI datang dari mapala dan atlet yang dimiliki oleh FPTI juga banyak yang berbasic mapala. Hanya saja akhir-akhir ini prestasi mapala di bidang kompetisi ini mulai pudar, kalah oleh keberadaan nama FPTI ataupun club panjat tebing yang berorientasi pada kompetisi.
     Memang prestasi-prestasi yang diraih oleh para atlet di bidang panjat tebing ini tidak bisa dilepaskan dari FPTI karena memang struktur FPTI yang dibuat sedemikian rupa sampai pengcab per kabupaten yang tidak memungkinkan membawa bendera mapala ditiap kompetisi tapi mengharuskan membawa nama daerah FPTI masing-masing. Tapi sebetulnya atlet yang di bina oleh FPTI ada juga yang berasal dari mapala ataupun binaan dari mapala, karena mapala mempunyai peralatan pendukung olah raga ini.

Perbedaan yang Mencolok
     Menjawab pertanyaan diatas ada beberapa sebab mengapa prestasi mapala dalam kompetisi panjat tebing semakin tenggelam. Pertama banyaknya kebutuhan organisasi internal mapala dan fokus mapala bukan hanya pada satu hal kompetisi panjat tebing. Hal ini menyebabkan keintensifan waktu berlatih dalam panjat tebing tidak sebanyak yang dilakukan oleh club panjat tebing ataupun FPTI yang memang terfokuskan pada prestasi kompetisi panjat tebing. Sehingga jangan kaget apabila melihat prestasi teman-teman mapala di ajang kompetisi panjat tebing semakin pudar. Kedua dukungan dana dan birokrasi yang terkadang dalam tubuh mapala yang terlalu kaku, sehingga berdampak pada intensitas berlatih dan berkompetisi dalam tiap kompetisi yang ada. Birokrasi juga bisa dalam hal nama instansi yang dibawa, semisal dalam pekan olah raga propinsi yang tidak memungkinkan membawa nama mapala tetapi membawa nama daerah. Dukungan dana juga menjadi kendala yang berarti, kita ketahui bersama dana yang dimiliki oleh organisasi mapala terkadang tidak memungkinkan untuk aktif mengikuti tiap kompetisi. Dari dua hal ini memang terlepas dari keinginan dan kesungguhan hati para pelaku panjat tebing dari mapala, tapi mungkin benar apabila ada asumsi ”kalau ingin menjadi bintang jangan masuk mapala” jadilah penggiat alam bebas dengan jaringan yang luas.

awal mula panjat tebing MALIMPA

|| || || Leave a komentar
awal mula panjat tebing di MALIMPA ditandai dengan pembuatan jalur yang oleh teman2 pada saat itu diberi nama jalur kanan kiri ok di belakang griya mahasiswa kampus 1 UMS. jalur ini dibuat dengan menggunakan tembok bangunan griya mahasiswa yang dibor dan diberi batu sebagai pointnya. di motori beberapa anggota yang intens di panjat tebing saat itu seperti ipunk jalur akhirnya terbentuk walaupun dari batu. setelah mungkin kejenuhan latihan di jalur ini akhirnya teman2 pada saat itu mencoba membuat jalur yang lebih gila lagi yaitu di tembok jembatan di matesih. beberapa hari waktu dihabiskan untuk memahat tembok jembatan ini.
jenuh dengan mencoba jalur kanan kiri ok dan beberapa alternatif tempat kini giliran target untuk membuat wall climbing dengan segala potensi yang ada. ormed dan perencanaan matang pembuatan wall climbing dimulai, dengan sedikit restu dari mbk puput selaku ketua malimpa saat itu karena sedang menjalani KKN akhirnya pencarian bahan baku pembuatan wall dimulai. mulai dari acara memantau,meneliti mengendap2 hingga eksekusi guna mengumpulkan bahan baku dilakukan. pembagian tim pengeksekusi triplek, pemantau keadaan dibagi dengan rapi takut2 ketahuan satpam atau yang lainya.tp untung saat itu fasilitas ums masih bs dipakai dan gampang dialihpindahkan fungsi dan keberadaanya.sebut saja papan multiplek yang biasanya dipakai buiat nulis dosen ngajar mahasiswanya dikelan diangkut, besi2 pager leter L diambil dan masih banyak lagi.
secara otomatis kesibkn teman2 saat itu hanya fokus bagaimana caranya agar berdiri wall malimpa secepat mungkin, malam beraksi siang istirahat dan sore siap2 investigasi lapangan. jam berputar hari berganti akhirnya berdiri juga wall malimpa dengan tinggi sekitar 10 meter di depan griya mahasiswa kampus 1. jalur kanan kiri ok sudah berlalu kini high roof men!kbr mengenai berdirinya wall malimpa cept tersebar setiap sore bukan hanya teman2 malimpa yang berlatih teman2 mapala solopun berkumpul dimalimpa untuk berlatih panjat bersama.tapi dengan berdirinya wall malimpa tidak berarti perjalanan panjattebing MALIMPA berhenti, pembuatan wall climbing MALIMPA hanyalah sebuah batu loncatan menuju target besar yaitu pembuatan jalur 13 MALIMPA di tebing Jumok Gondosuli Tawangmangu Karangnyar dan target-target lanjutan lain menuju pemanjatan-pemanjatan tebing MALIMPA dan kompetisi guna mengharumkan MALIMPA di dunia panjat tebing. sebuah catatan kecil guna menggambarkan awal mula panjat tebing di MALIMPA sehingga terlahir maestro-maestro panjat MALIMPA seperti bakil, ipung, ipang, walang, cutik dan lain-lainya

Ekspedisi Penyusuran Sungai Bengawan Solo II

|| || || 1 komentar
Persiapan:

Meneruskan semangat ”Getek Mangkunegoro I”,anggota Malimpa ingin mengulangi sukses pendahulunya dengan mengadakan kegiatan menyusuri Sungai Bengawan Solo. Berbeda dengan yang pertama yang bertujuan menyusuri dan berbakti sosial dengan masyarakat sekitar sungai, rencana penyusuran yang berikutnya selain seperti diatas juga bertujuan mengamati keadaan alam di daerah aliran Sungai Bengawan guna menunjang potensi wisata air.
Sebelum kegiatan ini dilaksanakan,ada beberapa persiapan yang dilakukan : diantaranya adalah penseleksian team, pembagian tugas, pembuatan rakit, sampai pada pendanaan yang dibutuhkan.
Adapun persiapan-persiapan ini dilakukan mulai 8 januari sampai dengan 5 Pebruari 1992. Dari 14 anggota yang mengikuti penseleksian, terpilih 10 anggota yang terdiri dari 8 anggota team inti dan 2 anggota team cadangan,yaitu:
1. M. Tony “Badax” Andi Astanto (Ketua)
2. Wasiri “Wereng” (Sekrataris)
3. Tono “Tobang” Indrayanto (Bendahara)
4. Syaefulloh “Kempling” (Logistik I)
5. Teguh Ponco “Kambil”Apriyanto (Logistik II)
6. Edy “Minthi” Slameto (Humas & Perijinan)
7. Agus “Yayat” Noor Hidayat (Dokumentasi)
8. Wiyadi “Kuwil” (Pembantu Umum),yang merupakan anggota Malimpa Al-Wathon Kampus UMS Karanganyar.
Adapun 2 anggota team cadangannya adalah:
1.
2.
Pembuatan Rakit dilakukan pada 30 januari sampai dengan 6 Pebruari 1992 di desa Bacem, yang terbuat dari:bambu ori dan apus, triplek, tali, kawat, paku, drum, gedek, sasak, ban dalam mobil ukuran ban bus dan papan. Pengecekan akhir dilakukan dengan mencoba rakit di tepian Bengawan Solo (Bacem) dilakukan 6-7 Pebruari.1992. Setelah seluruh persiapan selesai, pada pukul 11.30 WIB tanggal 8 Pebruari 1992 rakit beserta peralatan dan logistik penunjang diturunkan ke sungai Bengawan Solo. Pada perjalanan perdana dari Bacem – lokasi pelepasan arung (Jurug), anggota team didampingi oleh Humas UMS dan beberapa anggota Malimpa.
Sebelumnya, dikampus pada pukul 09.15 – 10.00 telah dilakukan Upacara pelepasan oleh Bapak Pembantu Rektor III UMS. Upacara pelepasan di Jurug dilaksanakan pukul 13.10-14.00,akhirnya berbekal salinan Copy rekomendasi dari Polres Sukoharjo dan Surat pemberitahuan dari UMS untuk masing-masing lokasi yang disinggahi, Ekspedisi Penyusuran Sungai Bengawan Solo II mulai dilaksanakan.
Pengarungan:
Pengarungan sungai dengan menggunakan rakit tradisional untuk mengamati serta menemukan potensi wisata air di Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo dimulai dari tepian Taman Jurug Surakarta dan rencananya akan diakhiri di Muara Ujung Pangkah, Gresik. Perjalanan ekspedisi ini di bagi dalam bentuk Etape,yaitu satu etape adalah satu hari pengarungan.
Etape I (8 Pebruari 1992) : Jurug,Surakarta -Sidokerto,Plupuh,Sragen
Di mulai pada pukul 14.00,beristirahat dan sholat sekaligus mengambil air bersih. Lalu dilanjutkan hingga tiba di Kaliyoso, melewati Kedung Sendang Mulyo yang luas dan berarus tenang. Pukul 16.30 tiba di Kebakkeramat melewati pusaran air dan beristirahat di wilayah Sidokerto,Plupuh,Sragen.
“Redupmu bersahabat, riakmu memberi kami semangat untuk menerjang semua yang menghambat”

Etape II (9 Pebruari 1992) :Sidokerto,Plupuh,Sragen – Pindi,Jenar,Sragen
Dimulai pukul 06.00,sampai Gawan,Tanon 2,5 jam perjalanan melewati daerah Sribit,Sidoarjo. Dan setelah melewati Kedung Swaci,tibalah team di kedung Garut pada tengah hari. Skitar jam 17.00 team menepi didesa Pindi,Jenar,Sragen untuk beristirahat.
Etape III (10 Pebruari 1992):Pindi,Jenar,Sragen BangunrejoLor,Pitu,Ngawi
Rakit sempat terseret arus dan menabrak batu,dan melewati percabangan sungai. Jam 08.15 team sampai di Mantingan,waktu istirahat dipergunakan melapor ke Polsek Mantingan dan belanja logistik. Pada jam12.00 sampai di Kedung Jati Mulyo. Team ekspedisi memasuki Kedung Batok pukul 14.00 yang mempunyai tikungan tajam serta arus yang deras. Selepas Kedung Batok team melewati Jembatan Wayah dan memasuki Kedung Galar,Pelanggaren sekitar ba’da ashar. Dalam etape ini team sempat mendapat kesulitan pada arus deras,pusaran dan arus balik yang sulit dilewati. Pukul 16.45 rakit melewati jembatan Conde lalu menepi untuk istirahat (camp) didesa Bangunrejo Lor Kec. Pitu,Ngawi. Team kemudian mengadakan acara silaturahmi dengan aparat desa dan warga.
Etape IV (11 Pebruari 1992) : BangunrejoLor,Pitu,Ngawi – Widodaren, Menden, Blora
Sehabis subuh team melanjutkan perjalanan, tidak begitu banyak halangan yang dilewati. Pukul 08.55 kawasan Trinil terlewati, dan sempat istirahat di desa Mindi Keca,Pitu,Ngawi. Selain istirahat, team juga melakukan orientasi medan selanjutnya dan juga berkesempatan mengikuti upacara Nyadran yang diadakan oleh masyarakat setempat. Perjalanan dilanjutkan,dan setelah melewati Kedung Kerak yang luas dan menarik, akhirnya team istirahat pada jam 17.00 didesa Widodaren,Menden,Blora.
Etape V (12 Pebruari 1992) : Widodaren,Menden,Blora – Jipang,Cepu,Blora
Seperti hari-hari yang lalu,team melanjutkan perjalanan dipagi hari melewati arus yang tenang, pukul 14.30 team Ekspedisi istirahat sejenak untuk membeli logistik yang semakin menipis di desa Kiringan,Ngrahu,Bojonegoro. Sampai desa Sumberarum team melalui tikungan tajam dengan pusaran air cukup besar yang mengakibatkan rakit menabrak tepian sungai. Setelah beberapa lama team istirahat di Dearah Jipang dan melapor ke aparat desa setempat.
Etape VI (13 Pebruari 1992) : Jipang, Cepu, Blora – Kenduruan, Malo, Bojonegoro
Di hari ke enam,team jalan pukul 05.15 dari Cepu,desa Jipang,Blora.Kemudian pukul 06.18WIB rakit memasuki Getas,Cepu,Blora lalu memasuki kota Cepu. Sungai mulai meluas, sekitar pukul 09.00 WIB rakit memasuki desa Badungan, lalu desa Kuncen,Kebon Agung, danTebo (perbatasan Tobo dan Kalitidu), kemudian dusun Sudu.Setelah menikmati santainya perjalanan lebih dari 2 jam dengan arus yang tenang, team menghadapi arus air yang bergelombang dibarengi tiupan angin kencang menyebabkan rakit selalu ditepi. Sampai-sampai dua anggota team (Wasiri dan Tony) turun ke air berusaha mendorong rakit, dan yang lain menggunakan satang serta dayung. Setelah cara dan usaha dilakukan untuk mendorong rakit ke tengah, tapi nampaknya angin dan hujan yang mulai turun. Akhirnya team pun menepi untuk istirahat sambil menunggu angin berhenti. Rakit mulai melaju lagi sekitar pukul 14.25 WIB, kurang lebih 20 menit perjalanan, rakit membelok dan team melewati Kedung Buwaan.
Etape VII (14 Pebruari 1992) : Kenduruan,Malo,Bojonegoro – Glagahsari, Soko, Tuban
Start dari tambatan rakit pukul 05.20 WIB dari desa Kenduruan. Setelah beberapa menit melewati air yang tenang dan sungai yang melebar dan lurus,team mulai memasuki Desa Kanjengan,Kalitidu,Bojonegoro. Hanyut lebih dari 2 jam, dengan arus sungai yang cukup tenang selain dapat beristirahat team pun dapat menikmati panorama alam sekitar aliran sungai Bengawan Solo yang indah.Jika perjalanan antara Bacem sampai dengan Ngawi team dapatkan bebatuan di sekitar DAS Bengawan Solo.Untuk selanjutnya kami dapatkan kebun-kebun dan persawahan,tapi sayangnya daerah sekitar lebih banyak erosi tanahnya yang dalam setahun dapat mencapai 2m .Sekitar pukul 08.00 WIB team mulai memasuki kawasan desa Sembung,Tidu,Bojonegoro, lalu desa Padang yang banyak terdapat pusaran-pusaran kecil,yang di gunakan penduduk sebagai tempat mencegat ranting-ranting kayu yang terbawa derasnya sungai sebagai mata pencaharian mencari kayu.Setelah itu team jumpai Bengawan Solo terbelah dua,dimana ditengan antara belahan tersebut ada daratan semacam pulau kecil yang luasnya kurang lebih 900m2 ,dengan panjang 300m yang berbentuk oval. Ketika memasuki desa Namblak,Gander,Bojonegoro pada pukul 09.40 arus sungi sangat tenamg dan angina bertiup semilir,membuat team bias beristirahat sejenak diatas rakit. Kecuali Syaefulloh dan Wereng yang bertindak pegang kemudi rakit. Pukul 11.30 WIB team tambatkan kembali rakit ditepi kota Bojonegoro untuk melaksanakan Sholat Jum’at.Selesai sholat team berusaha mengatasi pusaran air dan rumpun bamboo yang merunduk ketengah sungai karena hujan dan air yang naik,dengan perlahan rakit menyusup lewat bawah rumpun bamboo dan tem menggunakan satang dan dayung menahan batang bamboo satu persatu untuk melindungi rumah rakit terbentur bambu. Pada akhirnya rakit keluar dari rumpun bamboo meski sempat meninggalkan luka gores ditubuh.
Pukul 14.30 WIB team memasuki daerah kali Kethek dimana terdapt jembatan yang konon terpanjang di DAS Bengawan Solo. Setelahnya team harus menghadapi pusaran besar,angin kencang,menghindar dari perahu-perahu penduduk dan lagi-lagi rumpun bamboo.Team Ekspedisi memasuki wilayah Kabupaten Tuban setelah setengah jam perjalanan,yaitu dusun Kendal Rejo lalu Soko Tuban. Lalu Luduyakti – Mojo Agung. Pada perjalanan kali ini satang tertancap dan sempat tertinggal,tapi anggota team berhasil mendapatkan satang itu kembali.
Sesuai atas kesepakatan, pukul 16.45 rakit menepi dan ditambatkan di desa Glagahsari Soko Tuban dengan disambut warga dengan antusias, saat istirahat malampun…nyamuk juga menyambut team dengan antusiasnya.
Etape VIII (15 Pebruari 1992) : Glagahsari, Soko, Tuban – Bonten, Sekaran, Lamongan
Pagi yang cerah mengiringi laju rakit Team Ekspedisi. Pukul 07.25 WIB sampai di desa Tanor,Rengel,Babat. Sungai berkelok dan pemandangan bukit kapur yang menarik. Tiba di Kebomelati team melewati arus yang cukup tenang dan begitu luas. Tapi tim sempat kesulitan saat menghindari pusaran air yang banyak rumpun bamboo berduri ditengahnya,akibatnya harus kehilangan 1 satang dan putusnya tali bendera UMS. Memasuki Kota Babat ditandai dengan melewati jembatan Cincim yang unik pada tiang penyangganya pada pukul 13.12. Saat senja menjelang team menambatkan rakit di desa Bonten,Sekaran,Lamongan.Penduduk menyambut ramah.Di desa ini team menambah 1 satang untuk mengganti satang yang hilang.Malam hari team mencoba istirahat, tapi sulit dikarenakan banyaknya nyamuk.
Etape IX (16 Pebruari 1992) : Bonten, Sekaran, Lamongan – Mojopuro Wetan, Bongah, Gresik
Setelah mengambil air bersih,jam 05.00. team melanjutkan perjalanan .Belum lama berjalan rakit terbawa arus air dan menabrak tiang penyangga jembatan Laren,tapi tidak mengakibatkan rusaknya rakit karena tidak langsung menabrak tiang.Selepas jembatan Laren team membagi 2 klompok tuk bergantian mengemudi dan mendayung rakit,masing – masing selama 2 jam. Melewati pukul 16.30 memasuki Daerah Bonang, aliran sungai sangat tenang dengan pinggiran berupa rumpun ilalang. Sambutan warga sangat hangat,ketika team merapat ke desa Mojopuro Wetan,Bongah,Gresik pada pukul 17.00 WIB.Tiga anggota team melapor dan silahturahmi dengan kepala desa, mengenalkan diri sebagai Team Ekspedisi MALIMPA UMS yang secara murni mengadakan Ekspedisi untuk menggali wisata air.
Etape X (17 Pebruari 1992) :Mojopuro Wetan,Bongah,Gresik – Ujung Pangkah,Gresik
Merupakan etape terakhir dari semua etape ekspedisi yang telah di laksanakan.Mulai pukul 05.20 dan begitu melewati jembatan Bayat yang sangat rendah,sempat membuat tiang bendera roboh.Lewat pukul 07.00WIB team melewati arus yang tenang dan sungai yang lebar didesa Ngaren.Memasuki wilayah ujung Pangkah terdapat anak cabang Bengawan yang dikenal dengan sungai Sumbalan Yang bercabang lagi di Kali Mandian dan Kali Anyar.Dermaga nelayan ujung pangkah telah dilewati pada pukul 09.30 WIB.Setelah melewati 2 cabang sungai lagi, Sungai Weru dan Sungai Srewean.
Akhirnya Team Ekspedisi Penyusuran Sungai Bengawan Solo II MALIMPA UMS telah melewati titik tujuan.Tapi perahu terbawa arus menuju laut lepas,anggota team minta pertolongan nelayan terdekat.Dengan 3 perahu motor dan dibantu beberapa nelayan,tapi tetap tidak bias menarik rakit.Keputusan yang diambil adalah meninggalkan rakit dalm keadaan kosong.Malam hari jam 22.00,Team Ekspedisi langsung menuju rumah Kempling (Syaefulloh) Untuk kemudian kembali ke Kampus tercinta Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Anggota Malimpa juarai Sirkuit IV FPTI Surakarta

|| || || Leave a komentar
Warlan (walang), anggota Malimpa/anggota perkumpulan panjat tebing KOB mengungguli lawan-lawannya dalam final Sirkuit IV Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Pengurus Cabang (Peng.Cab.) Solo yang di gelar di UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) pada Minggu, 7 Desember 1997. Lomba panjat tebing buatan terakhir tahun 1997 di Solo ini kembali digelar di dinding panjat Mahasiswa Muslim Pecinta Alam (Malimpa) UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Babak penyisihan yang diikuti 71 orang peserta dari sekurangnya 15 perkumpulan panjat tebing dan organisasi pecinta alam di Solo Raya itu dilaksanakan mulai Sabtu, 6 Desembar 1997. Sedangkan semifinal dan babak penentuan pemenang dilakukan Minggu. Lomba kali ini dibatasi hanya untuk pemanjat pemula,untuk menentukan peringkat dan wakil Peng. Cab. FPTI Surakarta dalam kejuaraan daerah. Hanya saja kejuaraan daerah baru saja berlangsung (sudah dilaksanakan). Dan dalam lomba ini yang tidak boleh mengikuti sirkuit kali ini hanya lima pemanjat peringkat teratas FPTI Surakarta.
Pemerataan kesempatan untuk mengikuti lomba sejenis ini, dianggap penting dalam mempersiapkan wakil Peng. Cab. FPTI Surakarta dalam Kejurda berikutnya.Tingkat kesulitan jalur yang disiapkan dalam lomba panjat dinding buatan kali ini tergolong mudah. “Untuk babak penyisihan hanya mencapai grade 5.9.,itu cukup mudah bagi pemula, sedangkan untuk semifinal tingkat kesulitan jalur yang disiapkan panitia mencapai 5.10 dan final 5.10b yang memerlukan gerakan yang menikung,menjungkit atau menekan satu point pegangan dengan kedua tangan” jelas salah seorang pengurus FPTI Surakarta.
Dalam semifinal, dari 24 orang peserta yang telah dinyatakan berhak tampil dibabak berikutnya. Ternyata hanya 22 orang yang melakukan pemanjatan, karena ada 2 orang pemanjat yang di diskualifikasi disebabkan terlambat mendaftar ulang. Dari semifinal tersebut, terpilih sembilan orang peserta yang dianggap berhak mengikuti babak final.
Final berlangsung seru,pasalnya peserta-peserta yang memanjat di urutan awal tampak kesulitan menaklukan jalur yang tersedia pada dinding panjat kayu yang tingginya 17 meter itu. Hanya Warlan seorang yang mampu bergelayut dengan berpegangan pada point tertinggi.Hermansyah hanya mampu memegang point di bawahnya sehingga berhak atas gelar juara II. Sedangkan Ayuk, satu-satunya finalis yang membawa nama sekolah menengah mempecundangi enam peserta lainnya dengan merebut gelar juara III.

Kepengurusan MALIMPA UMS Periode 2001 – 2002

|| || || Leave a komentar
A. Kepengurusan
Dewan Pertimbangan
1. Dwi Rusdianto ( Jabrik )
2. Aris Munandar ( Klunting )
3. Tony Riawan ( Pentet )
BKPP
1. Ketua : Risdiyanto ( Bibit )
2. Umum/Sekretaris : Irfan Sengaji ( Irfan Sengaji )
3. Gunung Hutan : Trubus Kurniawan
4. Caving : Wisnu Sadono ( Kentang )
5. Rock Climbing : Dwi ( Cutik )

Ketua Malimpa : Yulie Indrianto ( Clurut )
Sekretaris : Bernard Suryawan ( Bendrat )
Bendahara : Diana Sebtiana
Departemen Umum : Joko Pramono ( Dopi )
* Humas : Erva Agus Tiyarini ( Emak )
* Litbang : Edi Wirawan ( Kulir )
Departemen Pelatihan : Eko Wahyudi ( Wereng )
* Gunung Hutan : Kandu Prakoso ( Laler )
* Rock Climbing : Nurrohman
* Caving : Yunata Suryaningrat ( Stress )
* Search And Rescue : Zufar
Departemen Pengabdian Masyarakat : Anas Abdullah ( Ateng )
* Lingkungan Hidup : Joko Bayu ( Kancil )
* KeIslaman : Retno Hartati
Logistik : Aji Sukmono
Kusdiono ( Watu )

B. AGENDA KEGIATAN

Diklatsar 18
Sesuai GBHO pengurus membentuk BKPP baru untuk melaksanakan Diklatsar 18 di Kawasan Tlogodlingo, Diklat Lanjut. BKPP dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan Divisi yang ada di Departemen Pelatihan & Pengembangan yang disesuaikan dengan program kerja Departemen Pelatihan & Pengembangan. Pelantikan anggota Diklatsar 18 dilaksanakan di Gunung Ungaran dan Kampus UMS (pada kepengurusan Kandu Prakoso).
Keluarga Besar Malimpa ( KBM )
Program KBM terinspirasi oleh suasana kekeluargaan Mapala STACIA UMJ, yang mana antara senior dan junior selalu berkumpul setiap minggunya dalam suatu forum. Jadi transfer informasi diantara mereka selalu terjalin. Jadi ketika saya menjabat menjadi Humas (pada kepengurusan Prihantono), saya masukan menjadi program saya sebagai humas setelah berdiskusi dengan departemen umum. Langkah awal yaitu inventarisasi anggota melalui buku anggota,yang notabene tidak lengkap datanya. Selanjutnya kita inventarisasi data via pos,yaitu kita minta data terbaru dengan melayangkan surat ke masing-masing personal. Tindak lanjut dari hal tersebut kita adakan acara reuni KBM pada agenda MILAD dengan hasil pembentukan coordinator tiap wilayah yang ada di Indonesia yang bertugas mendata anggota yang berdomisili di wilayahnya masing-masing.
Try Out Ekspedisi
Untuk mengimplementasikan GBHO, untuk mewujudkan sumber daya manusia MLP yang berkualitas. Salah satu bentuknya,untuk jangka panjang yaitu melaksanakan Ekspedisi. Dikarenakan minimnya pengetahuan kita dalam tahap-tahap ekspedisi, pihak Litbang mengumpulkan bahan-bahan dan pihak Pelat berinisiatif melaksanakan Try Out untuk menopang program ekspedisi. Try Out ini lebih dikenal dengan Ekspedisi Tiga Penjuru,pelaksanaannya yaitu Caving di Gombong,Gunung Hutan di Alas Purwo dan Rock Climbing di Watu Limo.

C. Moment
* Kecelakaan Prihantono
Pada awal kepengurusan kami, dihadapkan pada sebuah kecelakaan yang menimpa rekan sekaligus saudara kami Prihantono (Kendil), yang jatuh dari Wall Climbing Malimpa ketika latihan panjat. Kejadian tersebut sontak membuat warga Malimpa terkejut dan panic. Korban dilarikan ke RSIS Yarsis, karena penanganan kurang cepat dan kurang perhatian dari pihak Rumah Sakit,kami sepakat untuk merujuk/pindah ke RSU Dr. Moewardi. Dan Alhamdulillah saudara Prihantono selamat dan sehat sampai saat ini.
*Perahu
Pengajuan pengadaaan perahu karet kepada Kesbang Linmas Jawa Tengah dengan dasar Malimpa mempunyai Divisi SAR yang bergerak dalam pencarian dan evakuasi korban. Khususnya di bidang SAR air kita sering bekerjasama dengan SAR UNS yang notabene mempunyai Peralatan lebih lengkap daripada kita,khususnya perahu. Dari beberapa kepengurusan Malimpa yang terdahulu sering mengajukan pengadaan perahu karet untuk sarana penunjang SAR Air kepada pihak Rektorat tapi selalu tidak mendapat respon ataupun persetujuan dengan alasan …. TIDAK JELAS,maka bersama rekan-rekan (Dwi Rusdianto dan Risdiyanto) mengajukan kepada Kesbang Linmas Sukoharjo, tetapi disarankan pihak Sukoharjo untuk mengajukan kepada Kesbang Linmas Jawa Tengah. Karena pada saat itu institusi sedang menyiapkan anggaran untuk pengadaan perahu karet untuk wilayah Jateng. Pada bulan Januari 2002, ditengah pelaksanaan Diklatsar 18, Malimpa mendapat surat dari Kesbang Linmas Jateng untuk dating ke kantornya di Semarang.Dibenak kami proposal kita disetujui dan membawa pulang perahu karet 1 Set, dengan semangat saya bersama Dwi Rusdianto dan Prihantono menuju Semarang,ternyata disana kita hanya dikonfirmasikan tentang kebenaran proposal yang kita ajukan. Proposal tersebut baru akan dibahas dengan anggota Dewan di tingkat Jateng. Kita pulang dengan tangan hampa.


*Kejurda Climbing
Dalam Kejurda di Semarang,beberapa atlit Malimpa mewakili daerahnya masing-masing, Dwi”Cutik” mewakili Karanganyar, Ekowati mewakili Solo, Ara Purnomo mewakili Purwodadi. Dalam hal ini pengurus pernah mengajukan permohonan untuk mewakili Sukoharjo dalam Kejurda tersebut,namun karena Sukoharjo belum mempunyai Pengurus Cabang FPTI, kami disarankan untuk membentuk Peng.Cab.. Karena waktunya yang terlalu mepet dan ada beberapa agenda Malimpa yang harus dilaksanakan,maka pengajuan dan pembentukkan Peng.Cab. tidak kami tindak lanjuti.
*Pelantikan Anggota Diklat 17
Di laksanakan di Tlogodlingo, daerah Parkiran.
*Rektorat
Pada saat itu beberapa kebijakan Rektorat (PR III/ Kabag Mawa), untuk kegiatan kemahasiswaan diarahkan untuk lebih mengedepankan hal-hal yang ilmiah (LKTM), hal ini sedikit banyak menghambat kerja pengurus yang notabene kegiatan Malimpa porsinya lebih banyak ke Outdoor activity. Pengajuan fasilitas penggunaan mobil sering dibatasi (area khusus di Eks Karisidenan Surakarta). Pernah ada kasus, saudara Ara Purnomo menggebrak meja Kabag Mawa (Pak Daliman waktu itu), sontak kejadian tersebut membuat pihak Rektorat marah besar, dan berpengaruh terhadap fasilitas yang di butuhkan Malimpa (Dana kegiatan dan Transportasi). Alhamdulillah kasus tersebut dapat diselesaikan dengan damai antara Ara Purnomo dan Bapak Daliman.
*Pengunduran diri saudara Khabib Guritno (Emon)
Pada tanggal 15 Juni 2001 saudara Khabib mengajukan pengunduran diri dari anggota Malimpa secara tertulis kepada Ketua Umum Malimpa pada awal kepengurusan kami. Hal ini berkaitan dengan disahkannya AD/ART tentang tidak diperbolehkannya seseorang mempunyai keanggotaan ganda dalam lingkup UKM Mapala di UMS. Saat itu saya belum dapat merespon hal tersebut karena pada waktu itu suasana lagi panas dan untuk menjaga suasana organisasi yang kondusif di intern Malimpa dan para pendahulu/senior. Dan sampai saat ini belum ada keputusan tentang hal tersebut karena belum pernah dibahas dalam rapat pengurus maupun rapat anggota Malimpa...