MILAD MALIMPA ke 13

|| || || Leave a komentar
Khusus memperingati hari jadi Malimpa yang ke 13. Malimpa periode ini tetap melaksanakan wasiat 3 generasi terdahulu, “ Wajib melaksanakan tiga kegiatan sekaligus, yang salah satunya harus tumpengan”. Berdasarkan mantra sakti itulah, “13 Tahun Malimpa” diisi acara Reuni, Tumpengan, Serta Ekspedisi Jalur 13.
Sedangkan dalam rangka memeriahkan hari Lingkungan Hidup se-Dunia, Malimpa mengadakan acara tanam pohon buah di kampus UMS dan sekitarnya. Lalu, dilanjutkan dengan mengirim tim kecil beranggotakan Habib, Nana, Budi Bodrex Ekonomi dan aku sendiri, mendaki gunung Semeru (3672 m) di Jawa Timur. Tim campuran ini, melalui jalur normal Ranu Pane. Bermalam di Ranu Kumbolo, lalu di Kalimati. Diniharinya, dilanjutkan ke puncak Semeru. Yaitu, Mahameru dan Jonggring Saloka.
Kegiatan yang dimaksudkan sebagai proyek pertama pendakian Malimpa ke gunung di luar Jateng ini, tidak saja berhasil mengibarkan bendera Malimpa di puncak gunung tertinggi di P. Jawa. Tetapi, berhasil juga mengantar Nana menjadi anggota putri Malimpa pertama, yang berhasil ke puncak Semeru.
Reuni yang Bersahaja
Reuni dilaksanakan 25 Mei 1992 siang, sedangkan tumpengan malamnya. Acara reuni yang dimaksudkan sebagai jembatan silaturrahmi antara anggota Malimpa, yang berstatus mahasiswa dengan anggota Malimpa generasi terdahulu, berlangsung bersahaja. Dengan reuni ini, anggota Malimpa generasi terkini, dapat berjumpa langsung dengan semua kakaknya. Yang selama ini hanya dikenal melalui photo dan kisah perjuangan luar biasanya mengibarkan bendera Malimpa “tempoe doeloe’. Sang kakak pun menjadi tahu bahwa, prestasi Malimpa tetap terjaga. Cita-cita dan semangat mereka, tetap digelorakan
Acara yang dihadiri sekitar 50 anggota Malimpa dari berbagai generasi tersebut, disisi lain, juga menjadi katup pelepas rindu antara kakak kami tersebut. Karena sejak meninggalkan UMS. Mereka jarang bertemu. Bahkan, tak sedikit diantaranya yang “kehilangan jejak”. Melalui reuni ini, komunikasi yang putus, dijalin kembali.
Yang lebih membahagiakan, dalam reuni ini banyak diatara kakak kami yang membawa keluarga bahagianya. Anak-anak mereka – keponakan Malimpa – langsung akrab. Walaupun baru bererapa menit bertemu. Tampaknya, mereka mewarisi sifat orang tuanya yang anggota Malimpa, gampang arab dengan siapapun. Mereka bermain-main di sela-sela acara reuni. Tetapi, tak seorang pun yang merasa terganggu.
Sayangnya, kakak kami tersebut -- karena kesibukannya -- tak dapat menghadiri acara tumpengan 13 tahun Malimpa. Kami -- adiknya -- mengerti dan sangat memakluminya. “Sampai jumpa kak”.
Jalur 13
Jurang Jumo, Gondosuli, Kec. Tawangmangu. Kab. Karang Anyar. Terpilih sebagai lokasi “Ekspedisi Jalur 13”, dengan pertimbangan bahwa, di lokasi tersebut, belum pernah ada kelompok pencinta alam dari manapun, yang menggelar ekspedisi pembuatan jalur baru panjat tebing. Sementara, tebing yang menjadi dinding Jurang Jumo, mempunyai tingkat kesulitan yang ideal sebagai lokasi membuat jalur baru, karena, jenis batunya adalah Andesit. Batu jenis ini sangat keras. Sangat susah dipasang paku tebing. Batu berwarna hitam berbentuk lempeng-lempeng tersebut, berpermukaan mulus dan tak ada tonjolan ataupun lubang-lubang kecil. Hanya terdapat rekahan-rekanan, yang jumlahnya pun tak seberapa.. Tingkat kemiringan Jurang Jumo, juga meyakinkan. Mulai 80 hingga tegak lurus 90 derajat.
Pertimbangan lainnya, Jurang Jumo merupakan lokasi inti Pendidikan Dasar Malimpa. Sehingga hasil ekspedisi ini, dapat dijadikan sebagai, “jalur percontohan”, kepada calon anggota baru Malimpa.
Dari segi biaya, ekspedisi ini tidak menelan biaya yang terlalu besar, karena disamping lokasinya gampang dijangkau, peralatan Malimpa yang akan digunakan dalam ekpedisi, sudah memadai. Ekspedisi ini hanya membutuhkan paku tebing baru, serta beberapa peralatan kecil lainnya, yang harganya tak terlalu tinggi.
Yang dipercaya melaksanakan “Ekspedisi Jalur 13”, adalah Ipunk dan Genter. Bersama mereka, disertakan pula tiga generasi muda penuh potensi., yaitu, Khabib, Ardian dan Zulfahmi.
Terpilihnya Ipunk sebagai skuad inti ekspedisi ini, memang sudah diperkirakan banyak orang. Karena alumni Diklatsar V ini, mempunyai kemampuan panjatnya yang mengagumkan. Ipunk memang adalah pendaki terbaik yang pernah dilahirkan Malimpa. Pengorbanannya untuk mengangkat harkat dan martabat panjat tebing Malimpa ke tingkat yang lebih tinggi, patut diacungi jempol. Sehingga tak berlebihan jika dikatakan, Mahasiswa FKIP ini -- bersama Genter -- adalah perintis kemajuan panjat tebing di Malimpa.
Ipunk telah mendatangi semua medan penting latihan panjat tebing di Jateng dan DIY. Ia pun telah berkali-kali mengikuti kejuaran panjat dinding. Hasilnya pun, tidak mengecewakan. Sisi menarik dari sahabat kami ini adalah, ia tak pernah pelit ilmu. Dengan segala kesabarannya, Ipunk selalu mengajarkan ilmu – teknis dan non teknis – panjat tebingnya, ke semua anggota Malimpa. Keberhasilan ekspedisi ini sangat bergantung kepadanya.
Sama seperti Ipunk, terpilihnya Genter di ekspedisi perdana Malimpa membuat jalur panjat, juga sudah diperkirakan banyak orang. Ditopang posturnya yang tinggi besar, serta betis yang kokoh dan jemari yang kuat. Genter sangat hebat di panjat tebing. Ia pun sudah mendatangi berbagai medan penting latihan panjat. Serta, telah berkali-kali mewakili Malimpa di kejuaran panjat dinding. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Ekpedisi ini juga sangat bergantung kepadanya.
Tidak hanya panjat tebing yang ia kuasai. Berbagai jurusan kegiatan di Malimpa, ia tekuni dengan serius. Bahkan, menangani ular berbisa pun ia kuasai. Kemampuannya tersebut, membuat Alumni Diklatsar V ini, selalu terpilih menjadi moderator sekaligus asisten pawang ular yang mengisi materi ‘Penanggulanan Hewan Berbisa’, di setiap Diklatsar Malimpa.
Yang mengagumkan dari sahabat kami ini adalah, ia juga tak pelit ilmu. Bahkan, ia sengaja belajar berbagai ilmu pencinta alam, semata-mata agar dapat lebih banyak lagi, membagikan ilmunya kepada semua sahabatnya di Malimpa.
Disamping itu, Genter juga mempunyai kemampuan di bidang seni lukis. Namun, karena kesibukannya di Malimpa, kemampuannya tersebut, belum berkembang maksimal. Sehingga, sampat saat ini, satu-satunya orang di dunia yang menjadi kolektior lukisannya , masih dirinya sendiri.
Sedangkan ketiga sahabat muda kami tadi, terpilih menjadi anggota “Ekspedisi Jalur 13”. Karena memang ketiganya sangat mumpuni dibidang ini. Khabib umpamanya. Alumni Diklatsar VIII. Sedari awal masuk Malimpa sudah menjukan bakat bagusnya di panjat tebing. Sehingga dalam waktu cepat – dibawah bimbingan Ipunk dan Genter – Khabib telah menunjukan gaya panjat yang mempesona. Begitu halnya Zulfahmi dan Ardian. Kemampuannya di bidang ini, juga tak dapat dianggap remeh. Mereka juga telah mempunyai gaya panjat khasnya masing-masing
Disamping pertimbangan teknis diatas, pertimbangan lainnya adalah, ketiganya juga mempunyai kemampuan bersifat keilmuan yang dibutuhkan untuk mensuksesan kegiatan ini. Khabib dan Ardian yang dari Georafi umpamanya. Mereka berdua menguasai pengetahuan bebatuan tebing. Pandai membaca gejala-gejala alam. Mengerti pergerakan angin dan -- tentu saja -- mengetahui, kapan hujan deras akan turun.
Ilmu Zulfahmi di bidang akuntansi, yang ia kuasai dengan baik, juga sangat membantu. Dengan kelebihannya tersebut, diharapkan tim ekspedisi ini, dapat membuat laporan akhir yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku di dunia internasional.
Akhirnya, seperti yang diduga. Ekspedisi yang memakai teknis panjat artificial – gaya memanjat dari bawah dan tanpa pengaman dari atas – berhasil dengan baik Bahkan lebih cepat dua hari dari target yang digariskan. Jalur ini kemudian dinamakan “Jalur 13”.
Keberhasilan Malimpa membuat jalur baru, mendapat apresiasi yang baik dari UMS. Sabtu, 23 Mei 1992. PR. III UMS. Yang mewakili UMS. Mengunjungi anggota “Ekspedisi Jalur 13”, di lokasi ekspedisi Jurang Jumo. Dalam kesempatan ini -- Ipunk mewakili rekannya -- menunjukan kemampuannya dengan memanjat habis Jalur 13, dalam waktu cepat dengan gaya yang mempesona. PR II UMS. Terkagum-kagum dibuatnya.
Keberhasilan membuat jalur baru setinggi 57 m. Membuat prestasi Malimpa kian lengkap. Kala itu, jagat raya pencinta alam sedang kerasukan hebat panjat tebing dan dinding. Sehingga, lomba panjat tebing muncul dimana-mana, penontonnya pun ramai. Tebing-tebing di segala pelosok daerah laku dipanjati -- tentu saja -- oleh pemanjatnya. Namun, dari semua demam itu, ekspedisi pembuatan jalur barulah yang menempati kasta tertingginya. Sebab, tak sembarang pihak bisa melakukannya.
Ekspedisi semacam ini, membutuhkan perhitungan cermat. Waktu yang tepat. Peralatan yang baik. Fisik yang prima. Serta kemampuan panjat level tinggi. Faktor inilah yang membuat ekspedisi pembuatan ajlur baru, sangat jarang digelar. Masih sebatas kelompok-kelompok besar dan terkenal saja.
Keberhasilan Malimpa menggelar “Ekspedisi Jalur 13”, yang dilaksanakan pada 20-24 Mei 1992 tersebut. Juga bukanlah proses sekali jadi. Melainkan telah melalui proses panjang yang dimulai dari, “Celah bukit berhantu” di era Achmad Sumedi. Pengalaman tersebut kemudian diperlebar oleh dinding “Kanan kiri oke”, di jaman Toni. Lantas, ditinggikan oleh dinding panjat berbahan barang “temuan”, di masa kepemimpinan Puput.
Itupun masih ditambah latihan di gunung Botak Wonogiri. Telogo Delingo Klaten. Tebing di pantai Selatan Jogja. Serta jembatan Bengawan Solo dan bergelantungan di pohon-pohon besar di komplek pekuburan Makam Haji.
Jadi, Jalur 13 adalah puncak dari semua proses panjang tersebut.

Work Shop Cartentz Pyramid

|| || || Leave a komentar
Puncak gunung di Indonesia yang melebihi Rinjani, hanyalah puncak-puncak yang berada di pegunungan Jaya Wijaya Irian Jaya. Puncak di pegunungan tersebut, adalah puncak Trikora (4750 m). Puncak Mandala (4700 m). Kemudian puncak Yamin (4595. Terakhir puncak Cartentz Pyramid (5030 m).
Dari sekian puncak tersebut, Cartentz Pyramid lah yang paling menarik. Hal ini antara lain disebabkan, medan Cartentz lebih sulit. Udaranya lebih ekstrim. Letak lerengnya paling jauh. Pemandangannya lebih bagus. Ijinnya pun sulit dan berbelit-belit.
Disamping itu, puncak bersalju tersebut, masuk dalam “Seven Summit’. Atau puncak tertinggi di tujuh benua. Pengkategorian ini, berdasarkan teori lempeng benua. Jadi, dengan berhasil mendaki puncak Cartentz, berarti telah mendaki salah satu puncak berkelas dunia.
Dengan semua kesulitan Cartentz, baru sedikit pendaki yang berhasil menggapai puncaknya. Itupun baru terbatas pada klub besar, yang beranggotakan pendaki kelas gunung es. Serta didukung perlengkapan gunung salju dan anggaran besar. Kondisi inilah yang kemudian, membuat informasi tentang Cartentz, sangat langka. Padahal pendaki yang bercita-cita kesana, sangat banyak.
Malimpa juga pernah bercita-cita kesana. Namun, karena kurangnya informasi dan situasi yang belum memungkinkan, cita-cita tersebut belum dapat diwujudkan. Kini, impian tersebut dihidupkan kembali. Namun, Malimpa tak ingin sukses sendiri. Malimpa juga ingin kelompok lain, dapat pula mewujudkan impian mereka. Sehingga kegiatan mendaki gunung di Indonesia, tambah berkualitas.
Itulah pikiran dasar yang melatarbelakangi Malimpa menyelenggarakan “One Day Workshop Mendaki Cartentz Pyramid”. Yang dilaksanakan 25 Mei 1993. Melalui acara ini, segala informasi tentang Cartentz, yang selama ini masih berselimut kabut. dapat tersibak.
Yang menjadi narasumber acara ini, adalah Sekber. Pencinta Alam Yogyakarta dan Mapala UI. Di event ini Mapala UI. Mengutus tim muda yang pernah ke Cartentz. Tiga dari empat anggota Mapala UI tersebut adalah, John, Rully dan Zaenal.
Workshop yang dimoderatori oleh Intan ini, ternyata menarik begitu banyak peserta. Auditorium penuh oleh pendaki gunung yang berasal dari wilayah Jabar. Jateng. Jatim. DIY. Bahkan, ada yang dari Bali. Mereka rela berdesak-desakan.
Semua peserta mengaku puas dengan acara ini. Karena informasi tentang prosedur ijin ke Cartentz dapat diketahi. Peserta juga jadi tahu, berbagai peralatan yang harus dibawa, materi latihan ke gunung es dan teknik memanjat gunung salju. Pada kesempatan ini, Mapala UI juga menerangkan, bagaimana cara mencari sponsor yang bersedia membiayai pendakiannya ke Cartenz. Semua informasi tentang Cartentz, benar-benar dibongkar habis.
Malimpa selaku penyelenggara, secara langsung juga mendapat informasi dan pengetahuan berharga. Malimpa juga berharap, usai workshop ini, impian ke Cartentz dapat terlaksana. Kalaupun belum, setidaknya Malimpa telah berbuat sesuatu, membantu rekan sesame pencinta alam mewujudkan impian mereka. Ini juga mulia khan ?

Sarasehan Pecinta Alam

|| || || Leave a komentar
Tahun 1991. Pemerintah menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor -- diluar Minyak dan Gas -- sebagai salah satu pilar penopang ekonomi Nasional. Program ini kemudian dikenal sebagai, Tahun Kunjungan Wisata. Atau Visit Indonesia Year 1991. Disingkat , (VIY 91). Dimana-mana, disegala penjuru tanah air, objek wisata dibangun. Namun dibalik proyek besar, yang melibatkan semua lapisan masyarakat tersebut, acapkali berbenturan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dan pelestarian alam. Atasa nama VIY 91. Justru hutan bergundulan. Sungai tercemar. Hewan langka jadi souvenir. Situs purbakala banyak yang tambah merana. Jika suasana saling tabrak tetap berlangsung, VIY 91. Pasti bakal jadi bumerang yang merugikan semuanya. Perlu ada solusi.
Itulah bagian kecil dari simpul besar pemikiran Malimpa, yang menjadi dasar menggelar sarasehan, “Sumbang Karya Pencinta Alam Dalam Pelestarian Alam Kaitannya Dengan VIY 91”.
Yang mengikuti sarasehan yang dimaksudkan sebagai peringatan Hari Jadi ke 12 Malimpa, sangat banyak. Gedung Puslitbang nyaris penuh. Peserta tak hanya datang dari lokal Surakarta. Banyak juga dari Semarang, Jogjakarta dan beberapa kota di wilayah Jawa Timur.
Pembicara di sarasehan ini, diantara adalah Kepala Kantor Departemen Pariwisata Jawa tengah. Serta beberapa narasumber lainnya, yang berkompeten dalam lingkungan hidup dan industri pariwisara,
Ternyata, insan pencinta alam mempunyai keprihatinan yang sama terhadap derita nestapa alam; yang terkena efek tak bagus VIY 91. Di forum ilmiah ini, insan pencinta alam banyak melontarkan usulan brilian yang sangat visioner, agar pariwisata tetap berjalan maju. Namun, tidak menabrak rambu kearifan lokal dan prinsip-prinsip pelestarian alam. Jika masukan ini dijalankan, VIY pastilah akan menguntungkan semua pihak.
Peserta sarasehan mengaku sangat puas pada forum ini. Bahkan, ketika acara usai, beberapa peserta, belum beranjak pulang. Mereka masih mengobrol antar sesame pencinta alam. Ditengah obrolan akrabnya, terdengar cerita kecil. Rupanya, waktu acara pembukaan tadi, banyak peserta sarasehan terkejut. Tak menyangka bakal menyaksikan pemandangan tak lazim.
Takala moderator menyampaikan, “Selanjutnya adalah sambutan Ketua Umum Malimpa”. Di benak peserta, yang akan tampil, pastilah pemuda harapan bangsa berpenampilan kurus dan kumal, yang bangga setengah mati karena tak mandi selama empat hari. Atau, pemuda harapan pemudi, yang kemudian pidato berapi-api dengan kosakata amburadul, serta sibuk menekankan perlunya pencinta alam sedunia bersatu padu, agar langit tak cepat runtuh.
Ternyata, yang ke depan adalah Puji Rusiani Yuliati, alias Puput. Seorang anggota Malimpa berjenis kelamin perempuan. Sahabat yang kami sayangi ini, maju bukan untuk mengelap podium. Dia yang akan memberikan sambutan, karena dialah Ketua Umumnya.
Penampilannya rapi. Kulitnya bersih. Pertanda dia rajin mandi. Nada bicaranya terjaga dan kosa katanya tertata baik. Tandanya, dia menguasasi masalah sarasehan. Di tengah sambutannya, Puput sesekali melontarkan humor segar, yang membuat suasana tambah meriah, sehingga tak satupun peserta yang kawatir langit bakal runtuh.
Sebenarnya bukan hanya peserta sasehan yang heran. Di lingkungan UMS banyak pula yang keheranan. Bahkan, beberapa civitas akademika menduga, Puput pastilah mahasiswi bersosok tomboy dan berpenampilan mirip ratu bandit. Namun, setelah melihat penampilan Puput, mereka justru tambah kaget. Penampilan Puput, mirip anak buah ratu bandit yang insyaf pun tidak.
Di mata orang banyak -- diluar Malimpa -- . memang dipandang dari segi apapun, Puput samasekali tak mencerminkan seorang pencinta alam. Wajah manisnya terkesan lugu, matanya yang bersinar indah, tak menampilkan kesan garang, penampilannya yang bersahaja serta rambutnya yang hanya diikat sederhana, membuat Puput lebih pantas jadi guru TK di sebuah desa pelosok pinggir kota, bukan seorang pencita alam.
Tetapi di mata anggota Malimpa, Puput adalah figur yang punya sederet pengalaman panjang di dunia pencinta alam. Ia seorang pemberani. Kepribadiannya tangguh. Tak pernah menyerah menghadapi terjalnya dinding tebing dan medan sulit di gunung. Puput juga tak pernah surut menghadapi hujan badai disertai petir yang menyambar-nyambar.
Jangan pula menantangnya makan hewan apa saja di pinggir laut. Puput dengan tangkas akan menyambar udang mati terkena limbah industri, lalu mengunyahnya menjadi makanan siap saji yang lezat. Anggota ekspedisi pantai utara, telah membuktikannya.

Perkembangan Sekretariat MALIMPA Dari Masa Ke Masa

|| || || Leave a komentar
Mungkin bagi mereka para pendiri MALIMPA tidak akan pernah membayangkan apa yang telah mereka mulai dulu ketika pertama kali merintis pendirian MALIMPA akan bertahan sampai sekarang dengan berbagai macam hambatan dan cerita kesuksesan yang telah membentuk anggota-anggota MALIMPA dari masa ke masa. Dulu MALIMPA didirikan dengan segala macam keterbatasan, mulai dari waktu, pendanaan, peralatan dan keterbatasan gerak karena birokrasi kampus yang begitu mengekang. Perjalanan MALIMPA sebagai organisasi mapala yang benar-benar muslim sehingga menarik perhatian masyarakat desa yang dikunjungi dan juga teman-teman yang sehobby membuat MALIMPA bisa dikenal dan mengenal banyak orang tidak segampang membalikan telapak tangan. Hambatan yang terkadang menjadi sebuah spirit selalu saja ada, dan hal itu membuat begitu berbekasnya MALIMPA dalam diri anggotanya.
Sebuah organisasi mutlak membutuhkan sebuah tempat berkumpul untuk menambah intensitas berkomunikasi antara anggotanya, lebih dari itu tempat berkumpul atau yang lebih sering disebut sekretariat merupakan sebuah simbol organisasi. Segala keterbatasan IKIP Muhammadiyah Surakarta tempat bernaungnya MALIMPA berimbas pada keberadaan MALIMPA sendiri. Tempat kuliah yang dipakai secara bergantian dengan SMP Muhammadiyah di Kerten, kekuatan finansial merupakan contoh keterbatasan-keterbatasan yang ada di IKIP Muhammamdiyah pada waktu itu. Berbagai macam keterbatasan yang ada tak membuat semangat para perintis MALIMPA pada waktu itu tak patah arang, dengan segala upaya dan ketersediaan yang ada MALIMPA pada saat itu tetap memberikan warna tersendiri dalam kehidupan kampus. Sehingga di awal-awal MALIMPA sekretariat yang ada bersifat nomaden, di ruang kelas yang kosong atau dihalaman sekolah digunakan sebagai tempat nongkrong para MALIMPA saat itu untuk mendiskusikan pengembangan MALIMPA. Dan nyatanya MALIMPA tidak mati, MALIMPA masih mampu mengadakan terobosan-terobosan dalam kegiatanya. Dari halaman sekolah dan ruang-ruang kelas yang kosong pernah melahirkan kegiatan susur bengawan solo I, hiking Sarangan-Magetan, hiking di Telomoyo dan banyak kegiatan-kegiatan lainya.
Di tahun 1981, seiring semakin eksisnya MALIMPA dalam upaya mengembangkan diri sekaligus mengenalkan almamaternya kepada masyarakat luas serta tentu saja berkembangnya IKIP Muhammadiyah Surakarta disewakanlah bangunan di samping rel bengkong di jalan Slamet Riyadi sebagai pusat kegiatan mahasiswa. Dengan keberadaan sekretariat MALIMPA, secara langsung telah memberikan motivasi dan sebuah pengakuan yang sangat besar terhadap keberadaan unit-unit kegiatan mahasiswa(UKM) yang ada, walaupun saat itu hanya ada 4 UKM yaitu MALIMPA, Menwa, Teater Kidung dan Mentari(Lembaga Pers Mahasiswa). Dengan keberadaan pusat kegiatan mahasiswa membuat semangat mengembangkan MALIMPA semakin membara, pengembangan baik dari segi kualitas dan kuantitas kegiatanpun semakin berkembang layaknya jamur di musim hujan. Dan lebih beruntung lagi dukungan dari seorang rektor IKIP yang dipegang oleh pak Djazman Al-Kindi yang sangat memperhatikan pengembangan kemahasiswaan menjadi motivasi tersendiri.
Pada tahun 1984 dengan segala usaha pihak pimpinan telah membeli sepetak tanah untuk kebutuhan keberadaan kampus IKIP sendiri, dan akhirnya setelah selesai tahap pembangunan seluruh akitifitas di pindahkan di kampus IKIP Muhammadiyah termasuk juga pusat kegiatan mahasiswa. Sekretariat MALIMPA ditempatkan dalam sebuah komplek seperti sekarang ini, tapi waktu itu sekretariat MALIMPA masih kecil dengan ukuran ruangan 3x2 meter. Dengan ruangan yang sesempit itu para MALIMPA saat itu dengan jumlah anggota yang lumayan banyak serta beberapa perlengkapan pendukungnya ditempatkan dalam satu ruangan itu. Dengan kondisi seperti itupun MALIMPA tetap saja MALIMPA dengan segala keterbatasan tapi membuahkan hasil yang begitu maksimal, beberapa prestasi dari hasil keikutsertaan lomba dan kegiatan yang berkembang terus dari hari kehari.
Keberadaan sekretariat MALIMPA yang sempit bukanya tanpa kendala, dengan jumlah anggota aktif dan terus bertambahnya peralatan kepecintaalaman membuat sumpek keadaan sekretariat. Akhirnya, tanpa ijin dari rektorat ruang sebelah yang 2 kali lipat lebih luas dan dipakai hanya untuk menyimpan gamelan di rubah menjadi sekretariat MALIMPA hanya dalam hitungan jam. Sekretariat yang baru inilah yang kemudian bertahan sampai sekarang yang terus berkembang kearah selatan terdapat ruangan mushkol/sagar matha yang digunakan untuk kongkow-kongkow dan tempat sholat serta tentu saja sebagai tempat menaruh secara sembarangan pakaian-pakaian yang telah dipakai. Dari sekretariat ini MALIMPA pernah meraih prestasi sebagai sekretariat terbersih antar UKM se-UMS, sebuah prestasi yang sangat membanggakan mengingat kuantitas inventaris dan barang pribadi tiap anggota MALIMPA yang berada di lingkungan sekretariat MALIMPA.

Ekspedisi HALIMUN 21 Kado Milad 21 MALIMPA

|| || || Leave a komentar
Ekspedisi HALIMUN 21 Kado Milad 21 MALIMPA

Mempersiapkan Milad MALIMPA menjadi agenda rutin anggota MALIMPA menjelang tanggal 25 Mei, beragam aktifitas dan bentuk kegiatan pernah dilakukan menjelang Milad MALIMPA.
Hari itu 4 hari menjelang hari jadi MALIMPA ke 21, 5 orang anggota MALIMPA mencari sensasi untuk menaklukan tebing Lanang yang berada di kawasan gunung Watu Pacitan dengan ketinggian 400 mdpl. Ke 5 anggota tersebut adalah kendil sebagai leader, walang sebagai leader dan belayer, BG sebagai setting artificial dan climber, Ika sebagai fotografer dan climber serta Helmi sebagai leader dan bilayer . Karakter batuan di tebing Lanang adalah batuan andesit dengan sedikit cacat batuan dan slab serta ditambah dengan adanya semak belukar yang tumbuh dipermukaan tebing. Dengan metode pemanjatan Alphine system yaitu seorang climber memanjat dan membuat jalur kemudian diikuti dengan pemanjat yang lainya dan seterusnya selama 3 hari akhirnya tim mencapai puncak dengan ketinggia 140 meter. Disebut ekspedisi HALIMUN 21 karena pada saat pemanjatan menjelang puncak tebing tersebut di selimuti kabut, sedangkan angka 21 dibelakangnya karena sebagai kado menyambut milad MALIMPA ke 21.